PARAGRAFNEWS.CO — Roti mungkin terlihat sederhana. Hanya tepung, air, ragi atau bahan pengembang, lalu dipanggang hingga matang. Namun di balik makanan yang hampir setiap hari hadir di meja makan ini, tersimpan sejarah panjang yang membentang ribuan tahun.
Dari makanan sederhana masyarakat prasejarah hingga menjadi baguette, sourdough, naan, tortilla, focaccia dan croissant yang dikenal di seluruh dunia, roti telah berkembang menjadi bagian penting dari budaya pangan manusia.
Menariknya, sejumlah fakta tentang roti ternyata tidak sesederhana yang selama ini kita bayangkan. Ada roti yang dibuat ribuan tahun sebelum pertanian berkembang, ada pula roti yang pernah menjadi bagian dari sistem upah pekerja.
baca juga: Badabida, Lulur Ketan Hitam Warisan Perempuan Kaili yang Kini Menembus Pasar Modern
Berikut 10 fakta menarik tentang roti yang mungkin belum banyak diketahui.
1. Roti Sudah Dibuat Ribuan Tahun Sebelum Pertanian
Roti ternyata sudah dikenal manusia jauh sebelum pertanian berkembang seperti sekarang.
Salah satu temuan arkeologi paling terkenal berasal dari situs Shubayqa 1 di wilayah yang kini menjadi Yordania. Para peneliti menemukan sisa makanan panggang yang diperkirakan berusia sekitar 14.400 tahun.
Temuan tersebut menarik karena masyarakat yang membuat makanan tersebut hidup sebagai pemburu-pengumpul, sehingga pembuatan roti ternyata sudah dilakukan sebelum manusia sepenuhnya bergantung pada pertanian.
2. Roti Tertua Ditemukan di Wilayah Timur Tengah
Temuan Shubayqa 1 menjadi salah satu bukti tertua mengenai pembuatan roti.
Analisis terhadap sisa makanan menunjukkan adanya bahan yang berasal dari tanaman liar, termasuk jenis serealia. Makanan tersebut kemungkinan dibuat melalui proses penggilingan bahan tanaman menjadi tepung, dicampur dengan air, kemudian dipanggang.
Temuan ini mengubah pandangan mengenai sejarah makanan manusia.
Selama bertahun-tahun, pertanian dianggap menjadi salah satu faktor utama yang mendorong manusia membuat roti. Namun bukti arkeologi menunjukkan bahwa manusia sudah membuat makanan mirip roti sebelum kehidupan bertani berkembang sepenuhnya.
3. Mesir Kuno Berperan Besar dalam Perkembangan Roti Beragi
Peradaban Mesir Kuno memiliki hubungan erat dengan perkembangan pembuatan roti.
Masyarakat Mesir telah mengembangkan teknik fermentasi menggunakan ragi sehingga adonan dapat mengembang. Roti kemudian menjadi bagian penting dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam sistem pangan dan persembahan.
Perkembangan teknik pembuatan roti di Mesir menjadi salah satu bagian penting dalam sejarah panjang makanan yang kini dikonsumsi masyarakat di seluruh dunia.
4. Roti Pernah Menjadi Bagian dari Sistem Upah
Pada sejumlah masyarakat kuno, makanan pokok seperti roti memiliki nilai ekonomi yang sangat penting.
Di Mesir Kuno, pekerja dapat menerima jatah makanan, termasuk roti dan bir, sebagai bagian dari sistem pembayaran atau penyediaan kebutuhan hidup.
Hal tersebut menunjukkan bahwa roti bukan sekadar makanan, tetapi juga memiliki nilai ekonomi dan sosial dalam masyarakat masa lalu.
5. Dunia Memiliki Ribuan Variasi Roti
Sulit menentukan jumlah pasti jenis roti yang ada di dunia karena setiap wilayah memiliki resep, teknik, bahan dan tradisinya sendiri.
Prancis terkenal dengan baguette, Italia dengan focaccia, India dengan naan dan roti, Turki dengan berbagai jenis flatbread, sementara negara-negara lain memiliki variasi roti masing-masing.
Di Indonesia sendiri, roti berkembang dalam berbagai bentuk dan cita rasa, baik melalui tradisi lokal maupun pengaruh kuliner dari berbagai negara.
Jadi, angka “100 jenis roti” dalam artikel lama sebaiknya tidak dianggap sebagai jumlah pasti. Variasi roti di dunia jauh lebih beragam dan terus berkembang.
6. Roti Putih Pernah Menjadi Simbol Status Sosial
Pada periode tertentu dalam sejarah Eropa, roti yang dibuat menggunakan tepung putih yang telah dimurnikan dapat memiliki status lebih tinggi dibandingkan roti dari tepung yang lebih kasar.
Proses menghasilkan tepung putih membutuhkan pengolahan lebih lanjut dan pada masa tertentu membuatnya lebih sulit diperoleh.
Akibatnya, roti berwarna putih pernah diasosiasikan dengan kelas sosial yang lebih mampu.
Namun anggapan bahwa roti putih selalu merupakan makanan kaum bangsawan di semua zaman dan semua wilayah terlalu menyederhanakan sejarah.
7. Croissant Punya Hubungan Sejarah dengan Austria
Croissant memang sangat identik dengan Prancis.
Tetapi sejarahnya memiliki hubungan erat dengan kipferl, makanan berbentuk bulan sabit dari tradisi Austria.
Kipferl sudah dikenal di wilayah Austria sebelum croissant berkembang menjadi bentuk dan teknik pembuatan yang populer di Prancis.
Karena itu, menyebut croissant “sepenuhnya berasal dari Prancis” juga kurang tepat. Sejarah makanan ini merupakan hasil perkembangan tradisi kuliner yang panjang dan lintas negara.
8. Roti Pernah Menjadi Masalah Serius di Luar Angkasa
Membawa roti ke luar angkasa ternyata bukan perkara sederhana.
Remah roti dapat melayang dalam kondisi mikrogravitasi dan berpotensi mengganggu peralatan atau masuk ke area yang tidak diinginkan.
Karena alasan tersebut, makanan berbentuk roti untuk astronot perlu dirancang dengan karakteristik tertentu agar lebih aman dikonsumsi di lingkungan luar angkasa.
Para ilmuwan dan lembaga antariksa kemudian mengembangkan berbagai makanan yang lebih sesuai untuk kondisi mikrogravitasi.
9. Roti Memiliki Hari Pangan Internasional
Roti juga memiliki hari peringatannya sendiri.
World Bread Day atau Hari Roti Sedunia diperingati setiap 16 Oktober.
Peringatan tersebut menjadi kesempatan untuk mengapresiasi roti sebagai salah satu makanan yang memiliki sejarah panjang dan hadir dalam berbagai kebudayaan.
Menariknya, tanggal tersebut juga bertepatan dengan World Food Day atau Hari Pangan Sedunia, yang diperingati setiap 16 Oktober.
10. Roti Bisa Menjadi Bagian dari Sejarah Peradaban Manusia
Jika melihat sejarahnya, roti sebenarnya lebih dari sekadar makanan.
Perkembangan roti berkaitan dengan perubahan cara manusia mengolah tanaman, mengenal fermentasi, mengembangkan pertanian, membangun perdagangan hingga menciptakan berbagai tradisi kuliner.
Dari makanan sederhana yang dibuat masyarakat prasejarah hingga industri roti modern, perjalanan makanan ini memperlihatkan bagaimana manusia terus mengembangkan cara mengolah bahan pangan.
Roti dan Kesehatan: Tidak Semua Sama
Meski roti menjadi makanan populer, kandungan gizinya dapat sangat berbeda tergantung bahan dan proses pembuatannya.
Roti yang dibuat dari biji-bijian utuh (whole grain) umumnya memiliki lebih banyak serat dan sejumlah zat gizi dibandingkan roti yang dibuat dari tepung yang telah dimurnikan.
Sementara itu, beberapa roti kemasan dapat mengandung tambahan gula, garam, lemak, atau bahan lainnya.
Karena itu, ketika memilih roti, jangan hanya melihat bentuk dan rasanya. Periksa juga label nutrisi dan komposisinya.
Roti Mana yang Lebih Sehat?
Tidak ada satu jenis roti yang otomatis paling sehat untuk semua orang.
Namun, secara umum, roti berbahan biji-bijian utuh dapat menjadi pilihan yang baik karena kandungan seratnya lebih tinggi.
Pilihan terbaik tetap bergantung pada kebutuhan gizi, pola makan, kondisi kesehatan dan jumlah yang dikonsumsi.
Kuncinya adalah keseimbangan.
Roti dapat menjadi bagian dari pola makan sehat apabila dikonsumsi bersama sumber protein, sayuran, buah dan makanan bergizi lainnya.
Dari Makanan Prasejarah hingga Meja Makan Modern
Perjalanan roti ternyata jauh lebih panjang daripada yang terlihat dari sepotong roti di meja sarapan.
Makanan ini telah melewati ribuan tahun perubahan—dari makanan sederhana yang dibuat masyarakat pemburu-pengumpul, berkembang bersama pertanian dan fermentasi, hingga menjadi bagian dari industri pangan modern.
Itulah sebabnya roti memiliki tempat istimewa dalam sejarah kuliner dunia.
Jadi, lain kali ketika menggigit sepotong roti, ingatlah bahwa makanan sederhana tersebut merupakan bagian dari perjalanan panjang peradaban manusia selama ribuan tahun.
Diperbarui: 13 September 2026
Catatan redaksi: Artikel ini merupakan pembaruan dari artikel yang pertama kali diterbitkan pada 26 Maret 2025. Sejumlah informasi diperbaiki dan diperbarui untuk meningkatkan akurasi serta menghindari klaim sejarah yang terlalu mutlak.