Internasional

Pasar Berubah Jadi Neraka! Serangan Drone di Sudan Tewaskan 153 Orang, Perang Kian Brutal

×

Pasar Berubah Jadi Neraka! Serangan Drone di Sudan Tewaskan 153 Orang, Perang Kian Brutal

Sebarkan artikel ini
serangan drone sudan
kobaran api disertai asap hitam pekat yang membumbung tinggi setelah serangan drone di wilayah Abyei, perbatasan Sudan dan Sudan Selatan. (Sumber: Tangkapan layar)

ABYEI — Serangan drone yang menghantam kawasan pasar di wilayah sengketa Abyei, di perbatasan Sudan dan Sudan Selatan, dilaporkan menewaskan sedikitnya 153 orang. Serangan pada Senin (19/10/2026) itu menjadi salah satu insiden paling mematikan dalam konflik Sudan yang telah berlangsung sejak April 2023.

Korban jiwa dilaporkan bertambah setelah serangan memicu kebakaran di kawasan pasar. Otoritas setempat menyatakan proses penanganan korban menghadapi kendala akibat api yang masih menyala dan kondisi lokasi yang terdampak ledakan.

Dilansir Reuters pada 20 Oktober 2026, Yohana Akol Ngor, pejabat informasi wilayah Abyei, mengatakan jumlah korban meninggal meningkat dari laporan awal sebanyak 73 orang menjadi 153 orang. Ia memperingatkan jumlah tersebut masih berpotensi bertambah.

Pemerintah Sudan Selatan menuduh militer Sudan berada di balik serangan tersebut. Namun, Reuters menyatakan tuduhan mengenai pihak yang bertanggung jawab belum dapat diverifikasi secara independen.

Serangan Menghantam Kawasan Pasar

Serangan terjadi di Amiet Market, pasar yang berada di wilayah Abyei, kawasan kaya minyak yang statusnya masih dipersengketakan Sudan dan Sudan Selatan.

Menurut keterangan sejumlah sumber yang dikutip Reuters, serangan drone menghantam lokasi yang mencakup tempat penyimpanan bahan bakar. Sejumlah sumber diplomatik dan pekerja bantuan menyebut fasilitas tersebut sebelumnya digunakan untuk memasok kebutuhan kelompok paramiliter Rapid Support Forces (RSF).

Associated Press (AP) juga melaporkan bahwa seorang pejabat senior militer Sudan mengonfirmasi serangan tersebut, tetapi menyatakan sasaran operasi adalah truk tangki bahan bakar yang diduga menuju kelompok RSF. Pihak militer mengklaim warga sipil bukan sasaran serangan.

Meski demikian, keberadaan sasaran militer yang diklaim tersebut tidak menghapus kewajiban semua pihak untuk melindungi warga sipil. Keadaan di lokasi, jumlah korban, dan pertanggungjawaban atas serangan tetap menjadi persoalan yang perlu diselidiki secara menyeluruh.

Sudan Selatan Protes, PBB Soroti Keselamatan Warga

Serangan di Abyei memperlihatkan dampak konflik Sudan yang meluas hingga kawasan perbatasan. Pemerintah Sudan Selatan mengecam serangan tersebut dan memanggil duta besar Sudan untuk menyampaikan protes, menurut laporan media internasional.

Abyei merupakan wilayah dengan status politik yang belum terselesaikan. Perselisihan mengenai wilayah ini telah berlangsung lama dan menjadi salah satu sumber ketegangan antara Sudan dan Sudan Selatan.

Dalam konflik yang terus memburuk, warga sipil menghadapi risiko bukan hanya dari pertempuran langsung, melainkan juga serangan udara dan drone terhadap lokasi yang berdekatan dengan permukiman, pasar, fasilitas umum, serta jalur bantuan.

Dilansir dari laman Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada 21 Oktober 2026, pembicaraan untuk menghentikan pertempuran dan meredakan krisis kemanusiaan Sudan kembali berlangsung di Jenewa. Hampir dua lusin negara mengikuti pembahasan mengenai langkah deeskalasi, kemungkinan gencatan senjata, dan jalan menuju pemerintahan damai yang mewakili seluruh rakyat Sudan.

Utusan khusus Sekretaris Jenderal PBB untuk Sudan, Pekka Haavisto, mendorong negara-negara peserta memanfaatkan jalur diplomatik untuk membangun kepercayaan dan menciptakan kondisi bagi gencatan senjata yang lebih menyeluruh.

Namun, upaya diplomatik itu berlangsung ketika serangan drone terhadap warga sipil dan infrastruktur masih terus dilaporkan.

Perang Sudan Picu Krisis Kemanusiaan Berkepanjangan

Konflik Sudan pecah pada April 2023 akibat perebutan kekuasaan antara Sudanese Armed Forces (SAF) atau angkatan bersenjata Sudan dan RSF, kelompok paramiliter yang sebelumnya menjadi sekutu militer.

Pertempuran yang berlangsung selama lebih dari tiga tahun telah memicu pengungsian besar-besaran, kerusakan infrastruktur, gangguan layanan dasar, serta meningkatnya kebutuhan bantuan kemanusiaan.

PBB memperingatkan bahwa konflik terus memperburuk kondisi warga, sementara serangan terhadap lokasi sipil dan operasi kemanusiaan menambah kesulitan penyaluran bantuan.

Serangan di Abyei menjadi pengingat bahwa dampak perang tidak berhenti pada garis depan pertempuran. Pasar, jalur transportasi, dan tempat masyarakat mencari penghidupan juga dapat berubah menjadi lokasi berbahaya ketika serangan udara semakin intensif.

Hingga berita ini disusun, laporan Reuters menyebut jumlah korban tewas dalam serangan di pasar Abyei mencapai 153 orang berdasarkan keterangan pejabat setempat. Angka tersebut masih dapat berubah, sedangkan tanggung jawab atas serangan dan rincian lengkap kejadian masih memerlukan verifikasi lebih lanjut.

Sumber: Reuters, 20 Oktober 2026; Associated Press, 21 Oktober 2026; United Nations Department of Political and Peacebuilding Affairs, 21 Oktober 2026.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *