Nasional

Bukan Sekadar Terbang Rendah, TNI AU Uji Tol Paspro Jadi Landasan Darurat Jet Tempur

×

Bukan Sekadar Terbang Rendah, TNI AU Uji Tol Paspro Jadi Landasan Darurat Jet Tempur

Sebarkan artikel ini

PROBOLINGGO – Jalan tol yang selama ini identik dengan lalu lintas kendaraan menjadi bagian dari skenario kesiapsiagaan pertahanan udara. TNI Angkatan Udara (TNI AU) menguji pemanfaatan ruas Tol Pasuruan–Probolinggo (Paspro), Jawa Timur, sebagai landasan alternatif untuk pendaratan dan lepas landas pesawat militer dalam kondisi tertentu.

Uji coba yang berlangsung Kamis (22/10/2026) tersebut melibatkan dua jet tempur F-16 Fighting Falcon dan dua pesawat EMB-314 Super Tucano. Kegiatan dipusatkan di ruas KM 834 hingga KM 837+500, tepatnya pada segmen Probolinggo Barat–Probolinggo Timur.

Dilansir dari ANTARA, Kepala Staf TNI Angkatan Udara (KSAU) Marsekal TNI Mohamad Tonny Harjono mengatakan, latihan tersebut bertujuan menguji kesiapan operasional sekaligus kemampuan TNI AU memanfaatkan infrastruktur jalan sebagai landasan alternatif untuk mendukung operasi udara.

baca juga: KSAU Beri Sinyal Kuat, Jet Tempur J-10 China Diperkirakan Tiba di Indonesia April 2027

Menurut Tonny, penggunaan jalan tol sebagai landasan alternatif diperlukan dalam situasi ketika pangkalan udara atau bandara tidak dapat digunakan untuk mendukung operasi penerbangan.

Mengapa Jalan Tol Disiapkan untuk Landasan Pesawat?

Pemanfaatan jalan tol sebagai landasan alternatif berkaitan dengan kebutuhan menjaga keberlangsungan operasi udara ketika fasilitas penerbangan utama menghadapi kendala atau tidak dapat digunakan.

Dalam skenario tersebut, ketersediaan lokasi alternatif berpotensi memberikan pilihan tambahan bagi operasi pesawat militer. Namun, tidak semua jalan tol otomatis dapat digunakan untuk pendaratan pesawat. Kondisi permukaan jalan, panjang dan lebar ruas, ruang bebas di sekitar jalur, serta prosedur keselamatan harus menjadi bagian dari pertimbangan teknis.

Tol Paspro yang digunakan dalam latihan ini memiliki lebar ruas sekitar 24 meter. Segmen sepanjang kurang lebih 3,5 kilometer dipersiapkan untuk menguji kemampuan pendaratan dan lepas landas pesawat militer.

Meski demikian, pengujian tersebut tidak berarti seluruh ruas jalan tol di Indonesia dapat langsung difungsikan sebagai landasan pesawat. Penggunaannya tetap bergantung pada kesesuaian teknis, kondisi operasional, koordinasi lintas instansi, dan prosedur keselamatan yang berlaku.

F-16 dan Super Tucano Terlibat dalam Latihan

Berdasarkan laporan RRI, rangkaian kegiatan diawali dengan gladi kotor pada Selasa (20/10/2026), kemudian dilanjutkan gladi bersih pada Rabu (21/10/2026).

Dalam gladi bersih, dua F-16 Fighting Falcon dari Skadron Udara 3 Lanud Iswahjudi serta dua Super Tucano dari Lanud Abdulrachman Saleh melakukan manuver terbang rendah di sekitar ruas tol yang dipersiapkan sebagai landasan darurat.

Aktivitas tersebut menarik perhatian warga di sekitar Probolinggo. Sejumlah masyarakat mendatangi kawasan sekitar lokasi untuk menyaksikan pesawat militer yang melakukan rangkaian latihan.

Namun, kegiatan itu bukan sekadar tontonan udara. Latihan tersebut merupakan bagian dari pengujian pemanfaatan infrastruktur sipil untuk mendukung kepentingan pertahanan negara.

Dalam laporan ANTARA pada Kamis (22/10/2026), Tonny menjelaskan bahwa uji coba di Tol Paspro merupakan pelaksanaan kedua setelah kegiatan serupa di ruas Tol Terbanggi Besar, Lampung, pada 11 Februari 2026.

TNI AU juga berencana melanjutkan koordinasi dengan Kementerian Pekerjaan Umum untuk memetakan ruas jalan tol lain yang memenuhi persyaratan sebagai landasan alternatif. Sejumlah lokasi yang disebutkan antara lain Tol Cibinong–Cilincing serta rencana pembangunan jalan tol di Lombok, Nusa Tenggara Barat.

Tol Ditutup Sementara, Pengguna Jalan Dialihkan

Pelaksanaan latihan berdampak langsung terhadap aktivitas lalu lintas. Ruas antara Gerbang Tol Probolinggo Barat dan Gerbang Tol Probolinggo Timur ditutup sementara selama rangkaian kegiatan berlangsung.

Mengutip laporan RRI, pengalihan arus kendaraan dilakukan melalui Exit Tol Leces dan Simpang Jorongan. Pada Rabu sore, sempat terjadi antrean kendaraan yang mengarah ke barat. Petugas kepolisian kemudian melakukan pengaturan lalu lintas untuk menjaga kelancaran arus.

Rekayasa lalu lintas tersebut memperlihatkan bahwa latihan pertahanan yang melibatkan infrastruktur publik membutuhkan koordinasi antara TNI AU, pengelola tol, pemerintah daerah, dan kepolisian.

Keselamatan penerbangan juga menjadi perhatian. Dalam rangkaian gladi bersih, petugas mengamankan sedikitnya delapan layang-layang yang dinilai berpotensi membahayakan aktivitas pesawat.

Masyarakat di sekitar lokasi diimbau mematuhi arahan petugas dan tidak melakukan aktivitas yang berisiko mengganggu keselamatan penerbangan.

Seberapa Penting bagi Kesiapsiagaan Pertahanan Indonesia?

Pengujian Tol Paspro memberikan gambaran mengenai upaya TNI AU menyiapkan pilihan infrastruktur pendukung operasi udara di luar pangkalan konvensional.

Dalam perspektif pertahanan, tersedianya alternatif landasan dapat menjadi salah satu unsur pendukung ketahanan operasi apabila fasilitas utama tidak bisa digunakan. Akan tetapi, efektivitasnya tidak cukup dinilai dari keberhasilan pesawat melakukan pendaratan dan lepas landas semata.

Evaluasi juga perlu mempertimbangkan kesiapan teknis ruas jalan, dukungan personel, fasilitas pendukung, prosedur pengamanan, serta kemampuan mengembalikan jalan tol ke fungsi normal secara aman.

Karena itu, hasil latihan menjadi penting untuk menilai apakah ruas yang diuji benar-benar memenuhi kebutuhan operasional dalam skenario tertentu. Rincian evaluasi teknis tersebut masih perlu merujuk pada keterangan resmi TNI AU.

KSAU menegaskan bahwa pemanfaatan jalan tol sebagai landasan alternatif bersifat terbatas dan situasional. Fungsi utama jalan tol sebagai sarana transportasi masyarakat, keselamatan pengguna jalan, serta kepentingan publik tetap menjadi prioritas.

Uji coba di Tol Paspro dengan demikian bukan berarti jalan tol akan digunakan secara rutin untuk operasi pesawat tempur. Kegiatan ini merupakan pengujian kesiapan pemanfaatan infrastruktur daerah sebagai salah satu alternatif untuk mendukung operasi udara ketika kondisi mengharuskannya.

Sumber: ANTARA, 22 Oktober 2026; RRI, 21 Oktober 2026.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *