PARAGRAFNEWS.CO — Wabah Ebola akibat virus Bundibugyo terus menjadi perhatian dunia setelah penyebarannya melintasi sejumlah negara di Afrika. Kenya melaporkan kematian kedua akibat penyakit tersebut pada Jumat, 23 Oktober 2026, ketika otoritas kesehatan masih melakukan penanganan terhadap pasien yang terinfeksi dan menelusuri kontak erat mereka.
Mengutip laporan Reuters, korban terbaru merupakan seorang perempuan berusia 65 tahun yang meninggal setelah mengalami gejala ketika menjalani karantina. Perempuan tersebut merupakan kerabat dekat sekaligus kontak langsung dari pasien pertama Ebola yang teridentifikasi di Kenya.
Kementerian Kesehatan Kenya menyebutkan, hingga laporan terbaru tersebut, negara itu telah mencatat sembilan kasus terkonfirmasi dengan dua kematian. Tujuh pasien lainnya masih menjalani perawatan di dua fasilitas isolasi.
Otoritas kesehatan Kenya menyatakan belum menemukan bukti penularan yang meluas di masyarakat. Seluruh kasus yang teridentifikasi masih berkaitan dengan satu klaster penularan.
Hampir 9.700 Kasus Terkonfirmasi di Kongo
Situasi paling serius dilaporkan terjadi di Republik Demokratik Kongo (DRC), tempat wabah tersebut bermula dan terus menunjukkan penularan yang signifikan.
Dalam laporan Disease Outbreak News yang diterbitkan pada Jumat, 23 Oktober 2026, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat sebanyak 9.704 kasus terkonfirmasi dan 4.687 kematian di DRC hingga Selasa, 20 Oktober 2026.
Angka tersebut menunjukkan besarnya dampak wabah di negara tersebut. WHO juga menyoroti tingginya jumlah kematian yang terjadi di komunitas, yang mengindikasikan masih adanya tantangan dalam mendeteksi kasus lebih awal dan memastikan pasien memperoleh perawatan tepat waktu.
WHO menyatakan wabah penyakit virus Bundibugyo telah meluas secara geografis, sementara penularan dengan intensitas tinggi masih berlangsung di DRC.
Penularan Lintas Negara Jadi Perhatian
Selain DRC dan Kenya, Nigeria juga melaporkan kasus impor Ebola pada Oktober 2026. Pasien tersebut dilaporkan melakukan perjalanan dari Uganda menuju Abuja, Nigeria. Otoritas setempat masih menyelidiki riwayat perjalanan dan kemungkinan sumber paparannya.
Kasus di Kenya sebelumnya melibatkan seorang pria yang melakukan perjalanan dari DRC melalui Uganda sebelum tiba di Nairobi pada Sabtu, 3 Oktober 2026. Pasien tersebut kemudian meninggal pada Senin, 5 Oktober 2026.
WHO menjelaskan bahwa kasus-kasus tambahan di Kenya berkaitan dengan pasien pertama. Sejumlah anggota keluarga dan tenaga kesehatan termasuk dalam kelompok yang terinfeksi.
Wabah yang sama juga pernah dilaporkan di Uganda dan Prancis. Namun, kasus di kedua negara tersebut telah dinyatakan terkendali, sehingga tidak tepat menyimpulkan bahwa semua negara yang pernah melaporkan kasus masih mengalami penularan aktif.
Perkembangan ini memperlihatkan pentingnya pengawasan perjalanan internasional, pelacakan kontak, deteksi dini, serta koordinasi antarnegara untuk mengurangi risiko penyebaran lebih lanjut.
WHO Tekankan Kesiapsiagaan dan Deteksi Dini
WHO menekankan perlunya penguatan kesiapsiagaan kesehatan masyarakat, termasuk pengawasan di pintu masuk negara, pemeriksaan terhadap orang yang berisiko, dan penanganan cepat apabila ditemukan kasus baru.
Berdasarkan penilaian risiko yang tercantum dalam laporan WHO, risiko di DRC dinilai sangat tinggi, sedangkan risiko bagi negara-negara yang berbatasan darat dengan DRC dinilai tinggi. Penilaian tersebut masih dapat berubah seiring perkembangan situasi dan tersedianya informasi baru.
WHO juga tidak merekomendasikan pembatasan perjalanan atau perdagangan terhadap negara-negara terdampak berdasarkan informasi yang tersedia dalam laporan tersebut.
Ebola merupakan penyakit serius yang dapat menimbulkan demam, muntah, diare, serta perdarahan pada kasus tertentu. Penularan dapat terjadi melalui kontak langsung dengan darah atau cairan tubuh orang yang terinfeksi dan benda yang terkontaminasi.
Jenis virus yang menyebabkan wabah saat ini adalah Bundibugyo, yang berbeda dari spesies Ebola lainnya. Menurut laporan Reuters dan WHO, belum tersedia vaksin atau pengobatan yang disetujui secara khusus untuk penyakit akibat virus Bundibugyo tersebut.
Meski demikian, perawatan suportif dan penanganan medis yang tepat tetap menjadi bagian penting dalam perawatan pasien.
Perkembangan wabah ini masih memerlukan pemantauan ketat, terutama di DRC, Kenya, dan Nigeria. Jumlah kasus serta kematian dapat berubah mengikuti hasil pemeriksaan laboratorium dan pembaruan resmi otoritas kesehatan.
Paragrafnews.co akan terus memantau perkembangan wabah Ebola, termasuk pembaruan data dari WHO dan otoritas kesehatan negara-negara terdampak.