Paragrafnews.co – Direktur Utama PT Pertamina (Persero), Simon Aloysius Mantiri, kembali menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat Bali menyusul antrean panjang bahan bakar minyak (BBM) di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU). Ia berjanji memperbaiki distribusi energi agar kejadian serupa tidak terulang.
Permintaan maaf tersebut disampaikan Simon dalam konferensi pers bersama Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia dan Gubernur Bali Wayan Koster di Terminal BBM Sanggaran, Denpasar, Senin (19/10/2026).
Mengutip laporan ANTARA, Simon mengatakan antrean panjang yang terjadi dalam beberapa hari terakhir telah mengganggu kenyamanan masyarakat. Ia pun berkomitmen meningkatkan kualitas pelayanan dan memastikan penyaluran BBM berjalan lebih baik.
“Atas nama Pertamina Group sebagai Direktur Utama, dari lubuk hati yang paling dalam, saya menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya. Kami berjanji dan berkomitmen bahwa kejadian ini tidak akan terulang di kemudian hari,” kata Simon.
Gangguan Kapal Pengangkut Picu Masalah Distribusi BBM
Antrean BBM di Bali menjadi perhatian setelah kendaraan mengular di sejumlah SPBU sejak Senin (12/10/2026).
Sebelumnya, Simon menjelaskan bahwa gangguan distribusi dipicu kendala teknis pada kapal pengangkut BBM ketika proses bongkar muat. Masalah tersebut menyebabkan jadwal kapal bersandar mengalami keterlambatan sehingga memengaruhi penyaluran pasokan.
Dalam laporan yang dikutip Media Indonesia pada 13 Oktober 2026, jadwal kapal yang semula direncanakan bersandar pukul 06.30 WITA mundur hingga sekitar pukul 22.00 WITA.
Pertamina juga menyoroti peningkatan konsumsi BBM bersubsidi, terutama Pertalite, sebagai salah satu faktor yang perlu dievaluasi. Meski demikian, gangguan distribusi dan peningkatan konsumsi tersebut perlu dilihat secara menyeluruh untuk memahami persoalan pasokan di lapangan.
Pemerintah Minta Armada Kapal Ditambah
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyebut keterlambatan kapal pengangkut dari Jawa sebagai salah satu penyebab terganggunya distribusi BBM di Bali.
Mengutip laporan Warta Ekonomi, pemerintah meminta Pertamina menambah armada kapal pengangkut BBM dari sebelumnya tiga kapal menjadi tujuh kapal. Langkah tersebut ditujukan untuk memperkuat kelancaran pasokan dari Jawa ke Bali.
Pemerintah juga menargetkan peningkatan ketahanan stok BBM di Bali dari sekitar 11–12 hari menjadi 15 hari.
Penambahan armada dan penguatan cadangan diharapkan dapat mengurangi risiko gangguan pasokan apabila terjadi kendala pada jalur distribusi.
Pertamina Percepat Pelayanan di SPBU
Untuk menangani antrean, Pertamina melakukan percepatan distribusi BBM dari terminal dan depo menuju SPBU. Perusahaan juga menerapkan operasional 24 jam di sejumlah SPBU strategis di wilayah Denpasar dan Badung.
Langkah tersebut diharapkan memperluas waktu pelayanan sekaligus membantu mengurai antrean kendaraan yang membutuhkan bahan bakar.
Simon turut mengapresiasi dukungan Pemerintah Provinsi Bali, TNI, Polri, serta masyarakat dalam proses pemulihan pelayanan. Dukungan tersebut mencakup pengamanan, penguraian antrean, hingga bantuan operasional di lapangan.
Meski demikian, evaluasi terhadap sistem distribusi dan kesiapan armada menjadi bagian penting agar pelayanan tidak kembali terganggu ketika menghadapi kendala logistik.
Janji Pertamina Jadi Sorotan
Permintaan maaf Simon menandai komitmen perusahaan untuk memperbaiki pelayanan setelah masyarakat Bali menghadapi antrean BBM.
Kelancaran pasokan energi menjadi penting bagi aktivitas harian masyarakat, pelaku usaha, dan sektor pariwisata yang menjadi salah satu penggerak ekonomi Pulau Dewata.
Tantangan berikutnya adalah memastikan penambahan armada, penguatan stok, dan perbaikan operasional benar-benar berjalan efektif sehingga kebutuhan BBM masyarakat dapat terpenuhi secara konsisten.
Dengan demikian, keberhasilan penanganan tidak hanya diukur dari berkurangnya antrean, tetapi juga dari kemampuan sistem distribusi menjaga ketersediaan BBM dalam jangka panjang.
red/kaje