KesehatanRubrik

Badabida, Lulur Ketan Hitam Warisan Perempuan Kaili yang Kini Menembus Pasar Modern

×

Badabida, Lulur Ketan Hitam Warisan Perempuan Kaili yang Kini Menembus Pasar Modern

Sebarkan artikel ini

Sigi, 10 September 2026 — Jauh sebelum produk lulur hadir dalam kemasan modern dan dipasarkan secara luas, perempuan Kaili di Sulawesi Tengah telah mengenal ketan hitam sebagai bagian dari tradisi perawatan tubuh calon pengantin.

Warisan tersebut dikenal dengan nama badabida, lulur berbahan ketan hitam yang digunakan dalam rangkaian tradisi nombungu. Kini, pengetahuan yang diwariskan dari generasi ke generasi itu kembali diperkenalkan kepada masyarakat melalui inovasi produk perawatan tubuh berbasis bahan alami.

Di balik perjalanan badabida menuju pasar modern, tersimpan cerita tentang perempuan, budaya, petani lokal hingga upaya memanfaatkan kembali bahan sisa produksi agar tidak langsung menjadi limbah.

badabida lulur ketan hitam perempuan Kaili
Foto: Pexels

Warisan Perempuan Kaili dari Tradisi Nombungu

Dalam tradisi nombungu, calon pengantin menjalani berbagai rangkaian perawatan tubuh dan wajah menggunakan bahan-bahan alami. Salah satunya adalah ketan hitam yang diolah menjadi lulur atau masker.

Nelam Ayu Kusuma, pendiri Nelamayu Tradisional di Kabupaten Sigi, mengatakan badabida dahulu digunakan secara khusus dalam perawatan calon pengantin.

“Dulu badabida dipakai calon pengantin. Wajahnya ditutup dengan lulur dari ketan hitam. Itu tradisi lama perempuan Kaili,” ujar Nelam.

Jika dahulu badabida dibuat dalam bentuk bedak atau masker sederhana, Nelam kemudian mengembangkannya menjadi body scrub agar lebih mudah digunakan oleh konsumen masa kini.

Namun, inovasi tersebut tidak dimaksudkan untuk menghilangkan akar budaya dari produk tersebut.

Bagi Nelam, badabida bukan sekadar produk perawatan kulit, melainkan bagian dari cerita panjang mengenai pengetahuan perempuan Kaili yang diwariskan dalam keluarga.

Berawal dari Pengetahuan Sang Nenek

Perjalanan Nelam melestarikan pengetahuan tradisional juga berkaitan erat dengan resep keluarga.

Ia menguasai pengetahuan mengenai bada kumba, yakni bedak dingin tradisional berbahan beras dan rempah yang telah digunakan turun-temurun.

Resep tersebut diperoleh Nelam dari sang nenek yang dikenal sebagai perawat herbal di kampung pada masa pendudukan Jepang. Ketika obat-obatan sulit diperoleh, sang nenek meracik bedak dari beras, daun basakaling atau kodombuku, kunyit kayu, kencur dan sejumlah rempah lainnya.

Racikan tersebut kemudian digunakan dalam keluarga untuk merawat kulit bayi dan anak-anak.

Nelam mempelajari kembali bahan serta proses pembuatannya agar pengetahuan yang diwariskan sang nenek tidak berhenti pada satu generasi.

Dari pengetahuan keluarga tersebut kemudian lahir Nelamayu Tradisional pada 2018.

Pada awalnya, produk Nelam lebih banyak digunakan oleh calon pengantin yang masih menjalankan tradisi nombungu. Namun, seiring waktu, produk tersebut mulai dikenal oleh konsumen yang tertarik dengan perawatan tubuh berbahan alami sekaligus cerita budaya dari berbagai daerah Indonesia.

“Saya ingin produk ini tidak hanya dikenal karena hasilnya di kulit, tetapi juga karena ceritanya. Tentang perempuan, tradisi, kesehatan, dan alam yang saling terhubung,” kata Nelam.

Ketika Tradisi Bertemu Pasar Modern

Membawa resep keluarga ke pasar modern ternyata tidak hanya soal mengubah bentuk produk dan membuat kemasan yang lebih menarik.

Pelaku usaha juga harus memahami aspek kebersihan, keamanan produk, klasifikasi, perizinan hingga batas klaim manfaat yang diperbolehkan.

Salah satu titik penting dalam perkembangan Nelamayu Tradisional terjadi ketika usaha tersebut mengikuti program inkubasi Gampiri Interaksi Lestari pada 2023.

Selama enam bulan, Nelam mendapatkan pendampingan dalam pengembangan produk, penguatan usaha, pengurusan perizinan, pemasaran hingga akses pasar.

“Pendampingan kami fokus pada hilirisasi berbasis alam. Kami ingin produk seperti Nelamayu Tradisional dapat tumbuh secara ekonomi tanpa kehilangan nilai budaya dan lingkungannya,” ujar Nedya Sinintha Maulaning, perwakilan Gampiri Interaksi Lestari.

Pendampingan tersebut membantu Nelam memahami posisi produknya dalam ketentuan yang berlaku, termasuk mengarahkan produk agar memenuhi persyaratan sesuai klasifikasi dan penggunaannya.

Ketan Hitam dari Petani Lokal Sigi

Menariknya, keberlanjutan badabida tidak berhenti pada pelestarian budaya.

Bahan baku utama produk tersebut, yakni ketan hitam, diperoleh dari petani lokal di Dolo Barat, Kabupaten Sigi.

Dalam satu kali pembelian, Nelam dapat menyerap hingga 25 kilogram ketan hitam dari petani setempat.

Rantai produksi tersebut menciptakan hubungan yang lebih luas. Tradisi budaya yang dihidupkan kembali melalui produk UMKM turut membuka pasar bagi hasil pertanian lokal.

Tidak hanya itu, proses produksinya juga berupaya memanfaatkan bahan yang tersisa.

Dedak hasil penggilingan beras dimanfaatkan sebagai pakan ternak atau disalurkan kembali kepada petani. Sementara abu dari proses sangrai digunakan kembali sebagai abu gosok untuk kebutuhan rumah tangga.

Praktik tersebut memperlihatkan bagaimana prinsip ekonomi sirkular dapat diterapkan dalam skala usaha rumahan.

Dari Lulur Tradisional Menjadi Ekonomi Restoratif

Menurut Nedya, keterlibatan petani lokal, pemanfaatan sumber daya secara bijak serta pelestarian pengetahuan budaya merupakan bagian dari praktik ekonomi restoratif.

“Ketika lingkungan dijaga, sumber daya alam dimanfaatkan secara bijak, dan masyarakat lokal terlibat langsung, maka pemulihan ekonomi terjadi secara alami. Pendapatan meningkat, budaya tetap hidup, dan alam tidak dieksploitasi,” katanya.

Lingkar Temu Kabupaten Lestari (LTKL) juga mendukung proses yang dijalankan Gampiri sebagai bagian dari upaya kolektif memperkuat ekosistem ekonomi lokal, membangun ketahanan masyarakat dan mendorong terwujudnya visi kabupaten lestari.

Dengan demikian, perjalanan badabida menunjukkan bahwa pelestarian tradisi tidak harus berhenti sebagai cerita masa lalu.

Pengetahuan perempuan Kaili yang dahulu diwariskan dari nenek kepada cucu kini menemukan bentuk baru. Ketan hitam dari petani lokal masuk ke dalam rantai produksi, sisa bahan kembali dimanfaatkan, sementara tradisi nombungu diperkenalkan kepada generasi yang lebih muda.

Bagi Nelam, membawa badabida ke pasar yang lebih luas bukan berarti mengubahnya menjadi sekadar produk kecantikan.

Lebih dari itu, ia ingin setiap produk tetap membawa cerita tentang perempuan Kaili, pengetahuan leluhur, alam dan kehidupan masyarakat yang menjadi bagian dari warisan tersebut.

baca juga: 10+ Mamfaat Ikan Belida untuk Kesehatan

kaje/red

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *