Fakta UnikTeknologi

Ditanam 2,4 Kilometer di Bawah Es Antarktika, Sensor AS Perkuat Pemantauan Gempa Dunia

×

Ditanam 2,4 Kilometer di Bawah Es Antarktika, Sensor AS Perkuat Pemantauan Gempa Dunia

Sebarkan artikel ini

Dua seismometer terdalam di dunia dipasang di Kutub Selatan untuk merekam gelombang seismik, mendukung peringatan tsunami, serta membantu pemantauan aktivitas nuklir.

Sensor gempa terdalam di dunia
Ilmuwan merakit instrumen seismometer yang dirancang untuk dipasang jauh di bawah lapisan es Kutub Selatan, Antarktika. Perangkat ini menjadi bagian dari pengembangan jaringan pemantauan gempa global. (Foto: Taylor Wolfram/University of Wisconsin–Madison)

PARAGRAFNEWS.CO – Para ilmuwan Amerika Serikat memasang dua seismometer di kedalaman lebih dari 2,4 kilometer di bawah lapisan es Kutub Selatan, Antarktika. Teknologi tersebut dikembangkan untuk meningkatkan kemampuan pemantauan gempa bumi global, mendukung sistem peringatan tsunami, dan membantu mendeteksi aktivitas yang berkaitan dengan pengujian nuklir.

Dikutip dari situs resmi United States Geological Survey (USGS) dalam artikel berjudul The Loneliest Seismometers on Earth yang diterbitkan 15 Januari 2026, pemasangan instrumen tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas kemampuan Global Seismographic Network (GSN), jaringan pemantauan seismik global yang digunakan untuk mengamati aktivitas gempa bumi.

Kedua instrumen itu ditempatkan lebih dari 8.000 kaki atau sekitar 2,44 kilometer di bawah permukaan lapisan es Antarktika. Kedalaman tersebut menjadikannya seismometer terdalam yang pernah dipasang, menurut USGS.

Proyek ini melibatkan USGS Albuquerque Seismological Laboratory, IceCube Neutrino Observatory, University of Wisconsin–Madison, serta dukungan National Science Foundation Amerika Serikat.

Sensor di Kedalaman Ekstrem untuk Merekam Getaran Bumi

Seismometer merupakan instrumen ilmiah yang berfungsi mendeteksi dan merekam getaran tanah. Data yang dihasilkan membantu para peneliti menganalisis gelombang seismik, menentukan karakteristik gempa, serta mempelajari bagaimana gelombang tersebut merambat melalui bagian dalam Bumi.

baca juga: 

10 Fakta Unik di Dunia yang Terdengar Mustahil, tapi Benar-Benar Terjadi

Berbeda dari perangkat yang dipasang di permukaan, kedua seismometer di Kutub Selatan ditempatkan jauh di bawah lapisan es. Lingkungan tersebut memungkinkan para ilmuwan melakukan pengukuran dengan karakteristik gangguan yang berbeda dari stasiun di permukaan.

Menurut USGS, sensor tersebut dirancang untuk merekam getaran berfrekuensi tinggi maupun gelombang berperiode panjang. Data ini juga berpotensi memperluas penelitian mengenai pergerakan es Antarktika dan struktur bagian dalam Bumi.

Namun, pemasangan pada kedalaman ekstrem bukan tanpa tantangan. Instrumen harus dirancang agar mampu bertahan menghadapi suhu yang sangat rendah serta tekanan dari lapisan es di sekitarnya.

Perkuat Pemantauan Gempa dan Peringatan Tsunami

Keberadaan sensor di Kutub Selatan menjadi penting karena pemantauan gempa bumi membutuhkan data dari berbagai wilayah di dunia.

Ketika gempa terjadi, gelombang seismik merambat melalui Bumi dan dapat direkam oleh sejumlah stasiun yang tersebar di berbagai benua. Data dari jaringan tersebut kemudian digunakan untuk membantu menentukan lokasi, waktu, serta karakteristik peristiwa gempa.

Penambahan instrumen di Antarktika diharapkan dapat meningkatkan cakupan dan kualitas data Global Seismographic Network, terutama untuk mengamati gelombang seismik yang merambat melalui bagian dalam Bumi.

Informasi seismik juga berperan dalam sistem peringatan tsunami. Analisis gempa dapat membantu menilai apakah suatu peristiwa berpotensi memicu tsunami, meskipun penentuan ancaman tersebut tetap membutuhkan data dan analisis tambahan, termasuk informasi mengenai kondisi laut.

Dengan demikian, seismometer ini bukan perangkat yang secara mandiri meramalkan tsunami, melainkan bagian dari sistem pemantauan ilmiah yang mendukung penilaian bahaya.

Data Seismik Juga Berguna untuk Memantau Uji Nuklir

Selain pemantauan gempa dan dukungan terhadap peringatan tsunami, USGS menyebut instrumen tersebut dapat membantu pemantauan pengujian nuklir.

Ledakan nuklir bawah tanah dapat menghasilkan gelombang seismik yang direkam oleh instrumen pemantau. Para ilmuwan kemudian dapat menganalisis karakteristik sinyal tersebut untuk membantu membedakan kemungkinan sumbernya dari gempa alam atau aktivitas lainnya.

Meski demikian, satu rekaman seismik tidak selalu cukup untuk memastikan suatu peristiwa merupakan pengujian nuklir. Penentuan sumber memerlukan analisis teknis dan, bila tersedia, bukti pendukung lainnya.

Pengembangan jaringan pemantauan seismik karena itu memiliki manfaat lebih luas daripada sekadar mendeteksi gempa, yakni menyediakan data ilmiah untuk memahami berbagai peristiwa yang menghasilkan getaran di Bumi.

Kolaborasi Ilmiah di Lingkungan Paling Ekstrem

Pemasangan seismometer tersebut juga menunjukkan bagaimana fasilitas penelitian yang berbeda dapat mendukung pengembangan teknologi bersama.

IceCube Neutrino Observatory dikenal sebagai fasilitas penelitian yang memanfaatkan es Antarktika untuk mendeteksi neutrino, partikel subatomik yang sangat sulit diamati. Pengalaman dalam mengembangkan infrastruktur penelitian di lingkungan es menjadi salah satu faktor pendukung kolaborasi ini.

Sementara itu, USGS memiliki pengalaman panjang dalam pemantauan seismik di Kutub Selatan. Dalam publikasi ilmiahnya, lembaga tersebut mencatat bahwa pengamatan seismik dari wilayah itu telah berkontribusi terhadap penelitian gempa global selama lebih dari enam dekade.

Dengan penambahan dua instrumen baru, para peneliti berharap dapat memperoleh rekaman seismik berkualitas tinggi dari lokasi yang sebelumnya memiliki keterbatasan pengamatan pada kedalaman ekstrem.

Bukan Alat untuk Meramalkan Gempa

Meski menghadirkan kemajuan teknologi, pemasangan seismometer ini tidak berarti ilmuwan telah mampu memprediksi secara pasti kapan, di mana, dan seberapa besar gempa akan terjadi.

Seismometer terutama berfungsi merekam getaran yang berlangsung. Data yang dikumpulkan membantu ilmuwan memahami aktivitas seismik, mengidentifikasi peristiwa gempa, serta meningkatkan pemantauan bahaya.

Hal tersebut berbeda dari sistem peringatan dini gempa, yang mendeteksi gempa yang sudah mulai terjadi dan berupaya memberikan peringatan sebelum gelombang guncangan kuat tiba di lokasi tertentu, jika waktu memungkinkan.

Bagi negara rawan gempa dan tsunami seperti Indonesia, perkembangan jaringan pemantauan seismik global relevan untuk memperkaya pengetahuan ilmiah mengenai perambatan gelombang gempa dan struktur Bumi. Namun, manfaat langsungnya terhadap sistem peringatan di Indonesia bergantung pada integrasi data, jaringan pemantauan, dan mekanisme peringatan yang digunakan.

Pemasangan dua seismometer di bawah es Antarktika pada akhirnya menjadi langkah penting untuk memperluas kemampuan manusia mengamati aktivitas Bumi. Dari salah satu wilayah paling terpencil di planet ini, para ilmuwan berupaya memperoleh rekaman getaran yang dapat membantu memahami dinamika Bumi dalam skala global.

Sumber: United States Geological Survey (USGS), The Loneliest Seismometers on Earth, 15 Januari 2026; National Geophysical Facility, How an astrophysical observatory became two seismometers’ new home.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *