Nasional

IKN Dikepung Kabut Asap Karhutla, ISPU Masuk Kategori Tidak Sehat

×

IKN Dikepung Kabut Asap Karhutla, ISPU Masuk Kategori Tidak Sehat

Sebarkan artikel ini

Asap membuat Istana Garuda hingga Masjid Negara terlihat samar. Otorita IKN mengerahkan upaya pemadaman dan mengimbau masyarakat menggunakan masker.

asap selimuti IKN Kalimantan Timur
Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan menyelimuti Kawasan Inti Pusat Pemerintahan Ibu Kota Nusantara, Kalimantan Timur, sehingga sejumlah bangunan terlihat samar dari kejauhan. (Foto: SC)

PARAGRAFNEWS.CO – Kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN), Kalimantan Timur, diselimuti kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Kondisi tersebut membuat sejumlah bangunan di Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP), termasuk Istana Garuda dan Masjid Negara, terlihat samar dari kejauhan.

Dampak karhutla juga terlihat dari penurunan kualitas udara. Berdasarkan data Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH), nilai PM2.5 di sekitar Plaza Bhinneka, KIPP IKN, tercatat mencapai 121 pada pukul 13.00 Wita, Kamis (15/10/2026). Angka tersebut masuk kategori tidak sehat dan dilaporkan sempat menyentuh 150.

Kepala Otorita IKN Basuki Hadimuljono mengatakan aktivitas pemerintahan di kawasan tersebut masih berlangsung normal. Meski demikian, ia mengimbau masyarakat dan pekerja yang beraktivitas di luar ruangan agar menggunakan masker untuk mengurangi risiko paparan asap.

baca juga: Karhutla Indonesia Picu Krisis Kabut Asap, Singapura Catat Polusi Tertinggi 2026

Dikutip dari detikKalimantan, Kamis (15/10/2026), Basuki menyebut asap paling terasa pada pagi hari, meskipun kondisinya mulai berkurang dibandingkan hari sebelumnya.

Istana Garuda hingga Masjid Negara Tertutup Asap

Kabut asap yang menyelimuti IKN mengurangi jarak pandang di sejumlah titik. Bangunan ikonik seperti Istana Garuda, rumah susun aparatur sipil negara (ASN), dan Masjid Negara tidak lagi terlihat jelas dari kejauhan.

Situasi tersebut menjadi perhatian karena kawasan IKN tengah dikembangkan sebagai pusat pemerintahan baru Indonesia. Gangguan kualitas udara akibat karhutla menambah tantangan dalam menjaga kenyamanan dan kesehatan masyarakat yang bekerja maupun beraktivitas di kawasan tersebut.

Meski aktivitas pemerintahan masih berjalan, kondisi udara tidak sehat tetap perlu diwaspadai, terutama oleh anak-anak, lansia, ibu hamil, serta orang yang memiliki gangguan pernapasan.

Asap Diduga Berasal dari Luar Kawasan IKN

Basuki Hadimuljono menyampaikan bahwa sebagian kabut asap yang menyelimuti kawasan inti diduga berasal dari kebakaran di luar wilayah IKN, termasuk asap kiriman dari wilayah lain di Kalimantan.

Dugaan tersebut menunjukkan bahwa dampak karhutla tidak selalu terbatas pada lokasi terjadinya kebakaran. Asap dapat terbawa angin dan menyebar ke wilayah lain, bergantung pada kondisi cuaca dan atmosfer.

Karena itu, penanganan kabut asap membutuhkan koordinasi lintas wilayah, terutama ketika sumber kebakaran berada di luar kawasan yang terdampak.

Otorita IKN menyatakan terus berupaya membantu pemadaman karhutla di wilayah delineasi IKN melalui kerja sama dengan sejumlah pihak, termasuk Lanud Dhomber dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

Helikopter Water Bombing dan Modifikasi Cuaca Dikerahkan

Upaya penanganan karhutla dilakukan melalui pemadaman dari udara menggunakan helikopter water bombing. Selain itu, operasi modifikasi cuaca (OMC) juga telah dilakukan untuk membantu menghasilkan hujan yang diharapkan mendukung pemadaman api.

Namun, pelaksanaan operasi modifikasi cuaca menghadapi kendala karena terbatasnya awan hujan di sekitar IKN. Kondisi tersebut dapat memengaruhi efektivitas upaya menghasilkan hujan untuk membantu penanganan kebakaran.

Otorita IKN terus memantau perkembangan kualitas udara dan berkoordinasi dengan pihak terkait untuk menekan dampak karhutla terhadap kawasan pemerintahan serta masyarakat di sekitarnya.

Warga Diimbau Waspadai Dampak Kesehatan

Paparan kabut asap karhutla mengandung partikel halus yang dapat mengganggu sistem pernapasan. Partikel PM2.5 berukuran sangat kecil sehingga dapat masuk jauh ke dalam paru-paru.

Masyarakat yang berada di wilayah terdampak diimbau mengurangi aktivitas fisik di luar ruangan ketika kualitas udara memburuk, menggunakan masker yang sesuai, serta mengikuti informasi kualitas udara dari otoritas setempat.

Jika mengalami sesak napas, nyeri dada, atau gejala gangguan pernapasan yang berat, masyarakat perlu segera mencari pertolongan medis.

Kabut asap yang menyelimuti IKN menjadi pengingat bahwa pembangunan pusat pemerintahan tidak terlepas dari tantangan lingkungan. Penanganan karhutla, pemantauan kualitas udara, dan perlindungan kesehatan masyarakat perlu berjalan beriringan agar dampaknya tidak meluas.

Sumber: detikKalimantan, 15 Oktober 2026; Media Indonesia, 13 Oktober 2026; Otorita Ibu Kota Nusantara.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *