Kalimantan Timur memiliki kekayaan budaya yang terbentuk dari keberagaman masyarakat dan sejarah panjang peradaban di tepian sungai, pedalaman hutan, hingga kawasan pesisir. Di balik tarian tradisional, pakaian adat, dan festival budaya, terdapat ritual yang diwariskan lintas generasi.
Sebagian upacara adat dilaksanakan untuk memohon keselamatan, menyambut musim tanam atau panen, dan mengobati orang sakit menurut kepercayaan masyarakat pendukungnya. Ada pula ritual yang berkaitan dengan penghormatan kepada orang yang telah meninggal dunia maupun tradisi Kesultanan Kutai.
Melansir berbagai sumber kebudayaan, termasuk dokumentasi Kementerian Kebudayaan, pemerintah daerah, dan publikasi resmi pariwisata, sejumlah tradisi tersebut memperlihatkan betapa eratnya hubungan masyarakat Kalimantan Timur dengan alam, keluarga, komunitas, dan warisan leluhur.
Berikut 10 upacara adat di Kalimantan Timur yang unik dan memiliki makna mendalam.
1. Erau, Pesta Adat Kesultanan Kutai yang Sarat Makna
Erau merupakan salah satu tradisi budaya paling dikenal di Kalimantan Timur. Upacara ini berasal dari tradisi Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura dan dilaksanakan melalui rangkaian prosesi adat yang melibatkan kerabat kesultanan, pemangku adat, serta masyarakat.
Mengutip laman resmi Erau Kartanegara, Erau berasal dari istilah lokal eroh, yang bermakna ramai, riuh, bergembira, atau berpesta. Pelaksanaannya memiliki tujuan adat tertentu dan berkembang menjadi bagian penting dari identitas budaya Kutai.
Rangkaian Erau mencakup berbagai ritual, antara lain Menjamu Benua, Merangin, Ngatur Dahar, Mendirikan Tiang Ayu, Beluluh, Bepelas, Mengulur Naga, hingga Belimbur. Setiap prosesi memiliki aturan dan makna tersendiri.
Erau tidak sekadar menjadi pesta rakyat. Tradisi ini juga merepresentasikan hubungan antara pemimpin adat, masyarakat, dan warisan sejarah Kesultanan Kutai.
Dalam perkembangannya, Erau turut menjadi ruang pertemuan kebudayaan, pertunjukan seni tradisional, serta promosi pariwisata daerah.
2. Belimbur, Tradisi Saling Menyiram Air yang Melambangkan Penyucian
Salah satu prosesi paling menarik dalam rangkaian Erau adalah Belimbur. Tradisi ini dikenal melalui kegiatan saling menyiram air yang diikuti masyarakat setelah prosesi adat tertentu dilaksanakan.
Belimbur memiliki makna penyucian diri, keselamatan, keberkahan, dan harapan agar masyarakat terhindar dari hal-hal buruk. Dalam rangkaian adat Erau, prosesi ini berkaitan dengan penggunaan Air Tuli yang diambil melalui ritual khusus.
Melansir pemberitaan detikKalimantan mengenai tahapan Erau, Belimbur menjadi salah satu puncak kegiatan yang paling dinantikan masyarakat.
Meski terlihat seperti permainan air, Belimbur memiliki konteks adat yang tidak boleh dilepaskan dari rangkaian ritualnya. Pelaksanaannya perlu menghormati ketentuan panitia dan pemangku adat, termasuk menjaga keselamatan serta tidak mengganggu orang yang tidak ingin terlibat.
Tradisi ini memperlihatkan bagaimana simbol adat dapat diwujudkan dalam kegiatan bersama yang meriah, sekaligus mempererat hubungan sosial masyarakat.
3. Bepelas, Ritual Sakral dalam Tradisi Kesultanan Kutai
Bepelas merupakan salah satu prosesi penting dalam rangkaian Erau yang berkaitan dengan Sultan sebagai pemimpin adat Kesultanan Kutai.
Berdasarkan dokumentasi kebudayaan dalam publikasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tentang pakaian adat tradisional Kalimantan Timur, Bepelas ditujukan kepada Sultan sebagai Kepala Adat Besar. Ritual ini mengandung harapan agar Sultan memiliki kekuatan, keberanian, dan keteguhan dalam menghadapi tantangan.
Prosesi Bepelas dilaksanakan berdasarkan tata cara adat, dengan perlengkapan dan pakaian khusus serta keterlibatan pelaksana ritual yang memiliki peran masing-masing.
Keberadaan Bepelas memperlihatkan bahwa kepemimpinan dalam tradisi kesultanan tidak hanya berkaitan dengan kedudukan, tetapi juga mengandung tanggung jawab moral dan simbolis terhadap masyarakat.
Sebagai bagian dari Erau, Bepelas menjadi salah satu contoh bagaimana tradisi kerajaan tetap dikenang dan diwariskan sebagai identitas sejarah daerah.
4. Kwangkay, Upacara Penghormatan kepada Leluhur Dayak Benuaq
Kwangkay atau Kuangkay merupakan upacara adat yang berkaitan dengan kematian dalam tradisi masyarakat Dayak Benuaq, khususnya di wilayah Kutai Barat dan kawasan sekitarnya.
Tradisi ini memiliki kedudukan penting dalam sistem kepercayaan masyarakat pendukungnya. Upacara dilaksanakan sebagai bagian dari penghormatan kepada orang yang telah meninggal dunia dan sebagai ikhtiar ritual keluarga untuk memberikan tempat yang baik bagi roh leluhur menurut kepercayaan adat.
Mengutip dokumentasi Warisan Budaya Takbenda Indonesia dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, Upacara Adat Kwangkay ditetapkan sebagai warisan budaya Indonesia melalui Surat Keputusan Nomor 186/M/2015.
Kwangkay juga memperlihatkan kuatnya hubungan keluarga dan komunitas dalam masyarakat adat. Pelaksanaannya dapat melibatkan persiapan panjang, kerja bersama, serta dukungan keluarga besar dan warga sekitar.
Tradisi ini bukan sekadar prosesi kematian, melainkan bagian dari cara masyarakat pendukungnya memahami penghormatan, ikatan keluarga, dan kesinambungan hubungan dengan leluhur.
Karena memiliki aturan adat dan nilai sakral, Kwangkay perlu dipahami dengan menghormati keyakinan masyarakat yang melaksanakannya.
5. Belian, Ritual Tradisional Masyarakat Dayak dan Paser
Belian atau Balian dikenal dalam sejumlah tradisi masyarakat Dayak dan Paser di Kalimantan Timur. Pelaksanaannya dapat berbeda menurut komunitas, wilayah, dan sistem kepercayaan yang dianut.
Dalam tradisi masyarakat Paser, ritual Balian antara lain berkaitan dengan pengobatan tradisional, doa, penghormatan kepada leluhur, serta permohonan keselamatan. Dalam komunitas Dayak tertentu, istilah Belian juga digunakan untuk ritual yang berkaitan dengan penyembuhan, perlindungan, atau keperluan adat lainnya.
Mengutip publikasi Direktorat Jenderal Kekayaan Negara Kementerian Keuangan mengenai kearifan lokal masyarakat suku Paser, Balian merupakan salah satu ritual budaya yang masih dikenal dalam kehidupan masyarakat Paser.
Ritual ini dapat melibatkan pemimpin adat, doa atau tuturan ritual, gerakan tari, serta iringan alat musik tradisional sesuai ketentuan komunitasnya.
Makna yang menonjol adalah harapan akan keselamatan dan keseimbangan kehidupan. Namun, Belian merupakan praktik budaya dan kepercayaan tradisional, bukan pengganti pemeriksaan maupun pengobatan medis.
Keberadaannya menunjukkan bahwa pengetahuan tradisional memiliki tempat tersendiri dalam sejarah sosial dan kebudayaan masyarakat Kalimantan Timur.
6. Nebe’e Rau, Ungkapan Syukur atas Ladang dan Harapan Panen
Nebe’e Rau dikenal sebagai upacara tradisional masyarakat Dayak yang berkaitan dengan kehidupan pertanian, terutama rasa syukur atas ladang dan harapan memperoleh hasil panen yang baik.
Dalam masyarakat yang kehidupannya erat dengan alam, keberhasilan menanam padi bukan hanya menyangkut kebutuhan pangan, tetapi juga berkaitan dengan kelangsungan hidup keluarga dan komunitas.
Dokumen Rencana Pembangunan Infrastruktur Wilayah Kalimantan Timur yang diterbitkan melalui portal pemerintah provinsi mencatat Nebe’e Rau sebagai upacara untuk mengungkapkan rasa syukur atas ladang yang dapat ditanami serta harapan akan hasil panen yang melimpah.
Rangkaian upacaranya dapat melibatkan pertunjukan seni tradisional, termasuk tarian yang memiliki kedudukan khusus dalam tradisi masyarakat pendukungnya.
Makna Nebe’e Rau mengingatkan bahwa keberhasilan pertanian bergantung pada banyak hal, mulai dari kondisi alam hingga kerja keras masyarakat. Tradisi ini juga menjadi sarana mewariskan pengetahuan dan nilai kebersamaan kepada generasi muda.
7. Hudoq, Ritual Bertopeng yang Berkaitan dengan Pertanian
Hudoq merupakan tradisi budaya masyarakat Dayak di Kalimantan yang dikenal melalui penggunaan topeng dan kostum khas. Di sejumlah komunitas, Hudoq berkaitan dengan siklus pertanian, permohonan kesuburan, dan harapan agar tanaman terlindungi dari gangguan.

Penampilan para penari dengan topeng yang menyerupai karakter tertentu menjadi daya tarik utama. Namun, Hudoq tidak tepat dipahami hanya sebagai pertunjukan hiburan, sebab dalam komunitas pendukungnya tradisi ini dapat memiliki fungsi ritual dan makna simbolis.
Hubungan manusia dengan alam menjadi salah satu pesan penting yang dapat dibaca dari tradisi tersebut. Masyarakat menggambarkan harapan terhadap kesuburan tanah, keselamatan, serta keberlangsungan kehidupan melalui simbol, gerak, musik, dan perlengkapan adat.
Bentuk pelaksanaan maupun makna khusus Hudoq dapat berbeda antara satu kelompok Dayak dan kelompok lainnya. Karena itu, penjelasan mengenai tradisi ini sebaiknya selalu mempertimbangkan komunitas asalnya.
Sebagai warisan budaya, Hudoq memperlihatkan bagaimana seni pertunjukan, sistem pengetahuan lokal, dan kehidupan agraris dapat saling berkaitan.
8. Manguati Banua, Tradisi Mengobati Kampung di Berau
Manguati Banua merupakan tradisi adat yang dikenal di Kabupaten Berau. Nama tradisi ini berkaitan dengan makna mengobati kampung dan menjadi bagian dari upaya masyarakat memohon keselamatan serta kesejahteraan bersama.
Pemerintah Kabupaten Berau pernah mendokumentasikan pelaksanaan Manguati Banua dalam rangkaian peringatan hari jadi kabupaten dan Kota Tanjung Redeb pada Sabtu, 14 September 2024. Kegiatan tersebut dilaksanakan bersama unsur kebudayaan daerah dan Kesultanan Sambaliung.
Menurut keterangan dalam publikasi pemerintah daerah tersebut, prosesi diawali dengan pembacaan doa tolak bala dan dilanjutkan dengan pemotongan puncak rasul, makanan khas Berau berbahan ketan yang disusun menyerupai tumpeng datar.
Tradisi ini mengandung harapan agar masyarakat memperoleh perlindungan, ketenteraman, dan kesejahteraan. Pelaksanaannya juga menjadi ruang untuk mempertemukan pemangku adat, pemerintah, dan masyarakat.
Manguati Banua menunjukkan bahwa ritual adat tidak hanya berkaitan dengan individu atau keluarga, tetapi juga dapat menjadi simbol kepedulian terhadap keselamatan suatu wilayah dan kehidupan bersama.
9. Bekudung Betiung, Warisan Adat Dayak di Berau
Bekudung Betiung merupakan tradisi budaya masyarakat Dayak di Kabupaten Berau yang memuat sejumlah rangkaian adat dan nilai kebersamaan.
Dalam pemberitaan resmi Pemerintah Kabupaten Berau mengenai Festival Bekudung Betiung dan hari jadi Kampung Tumbit Dayak, tradisi ini dijelaskan memiliki rangkaian seperti Jak Gai, Batiung, Bejiak, serta kunjungan adat ke Rumah Kepala Tua.
Setiap prosesi mengandung makna tersendiri, mulai dari penghormatan kepada leluhur, rasa syukur, hingga penghargaan terhadap tokoh adat dan pemimpin masyarakat.
Tradisi ini juga memperlihatkan bahwa warisan budaya tidak selalu hadir dalam satu ritual tunggal. Ada rangkaian kegiatan yang saling terhubung dan mencerminkan hubungan antarkeluarga serta kehidupan sosial masyarakat.
Festival yang mengangkat Bekudung Betiung menjadi salah satu sarana memperkenalkan tradisi kepada masyarakat luas sekaligus mendorong generasi muda mengenal identitas budaya daerahnya.
Pelestarian tradisi semacam ini penting agar nilai yang terkandung di dalamnya tidak hilang di tengah perubahan zaman.
10. Erau Pelas Benua, Tradisi Adat yang Hidup di Bontang
Kalimantan Timur juga memiliki tradisi Erau Pelas Benua yang dilestarikan masyarakat Guntung, Kota Bontang. Tradisi ini memperlihatkan bagaimana warisan budaya Kutai tetap hidup dan berkembang di lingkungan masyarakat setempat.
Mengutip laman Jadesta milik Kementerian Pariwisata, Pesta Adat Erau Pelas Benua di Desa Wisata Guntung merupakan tradisi yang berakar dari kebudayaan Keraton Kutai dan diwariskan secara turun-temurun.
Rangkaian kegiatannya antara lain mencakup Bepelas Benua, Belian, dan Belimbur. Masing-masing memiliki tata cara serta makna yang berkaitan dengan keselamatan dan harapan baik bagi kehidupan masyarakat.
Tradisi ini juga menjadi bagian dari identitas budaya warga Guntung. Di tengah perkembangan Kota Bontang sebagai kawasan industri, keberadaan upacara adat memperlihatkan pentingnya menjaga hubungan dengan sejarah dan akar budaya lokal.
Erau Pelas Benua sekaligus berpotensi menjadi daya tarik wisata budaya apabila diperkenalkan dengan baik, tanpa menghilangkan penghormatan terhadap aturan adat dan nilai sakral yang melekat di dalamnya.
Menjaga Upacara Adat Kalimantan Timur agar Tidak Hilang Ditelan Zaman
Sepuluh tradisi tersebut memperlihatkan keragaman makna yang hidup di tengah masyarakat Kalimantan Timur. Ada upacara yang berkaitan dengan Kesultanan Kutai, ritual pertanian masyarakat Dayak, penghormatan kepada leluhur, pengobatan tradisional, hingga permohonan keselamatan bagi suatu kampung.
Di balik perbedaan tata cara dan latar belakangnya, terdapat nilai yang saling beririsan: kebersamaan, penghormatan terhadap generasi terdahulu, rasa syukur, serta tanggung jawab menjaga warisan budaya.
Pelestarian tradisi tidak cukup dilakukan melalui festival atau dokumentasi. Pengenalan budaya kepada generasi muda, dukungan terhadap komunitas adat, pencatatan sejarah yang akurat, dan penghormatan terhadap pemangku adat juga diperlukan.
Masyarakat yang ingin mengenal tradisi tersebut sebaiknya mempelajari konteksnya terlebih dahulu, terutama untuk ritual yang bersifat sakral dan tidak terbuka bagi umum.
Dengan demikian, upacara adat tidak hanya menjadi kenangan masa lalu, tetapi juga bagian dari identitas Kalimantan Timur yang terus hidup di tengah perubahan zaman.
kaje/red