Rubrik

Sebuah Mahakarya Desainer Ratna Djuwita Ciptakan Lampoep, Lampu Ramah Lingkungan dari Kotoran Sapi

×

Sebuah Mahakarya Desainer Ratna Djuwita Ciptakan Lampoep, Lampu Ramah Lingkungan dari Kotoran Sapi

Sebarkan artikel ini

Dalam menciptakan sebuah mahakarya, Ratna tidak bekerja sendiri, ia dibantu oleh Pim Van Baarsen dari Belanda. Dan juga Adhi Nugraha Studio dari Indonesia. 

Lampu Ramah Lingkungan dari Kotoran Sapi
Desainer Produk Indonesia, Ratna Djuwita saat acara Pembukaan Pameran Desain Berkelanjutan “Design Matters Lab” di Erasmus Huis, Jakarta Selatan, Kamis (27/2/2025). Foto: RRI

Jakarta – Desainer Produk Indonesia, Ratna Djuwita menciptakan sebuah kolaborasi Internasional yang menghadirkan Lampoep. Ia mengatakan, Lampoep merupakan lampu ramah lingkungan yang berbahan limbah alami.

Dalam menciptakan sebuah mahakarya, Ratna tidak bekerja sendiri, ia dibantu oleh Pim Van Baarsen dari Belanda. Dan juga Adhi Nugraha Studio dari Indonesia.

Mereka bertiga kemudian memulai bereksperimen dengan menggunakan bambu, limbah air tahu, dan kotoran sapi. “Kami ingin melihat kembali relasi antara alam dan sosial yang selama ini semakin berkurang” ujar Ratna saat diwawancarai dalam acara Pembukaan Pameran Desain Berkelanjutan “Design Matters Lab” di Erasmus Huis, Jakarta Selatan, Kamis (27/2/2025).

Bambu dipilih sebagai struktur utama karena mudah ditemukan dan tersedia melimpah di Indonesia. Material ini dianggap umum dan dekat dengan kehidupan masyarakat.

Selain itu, limbah air tahu yang sering dibuang ke saluran air diolah kembali. “Kami mencoba mengambil limbah itu dan mengolahnya menjadi material otomatif seperti kertas,” ucap Ratna.

Kotoran sapi juga diubah menjadi bahan dasar pembuatan Lampoep bermaterial otomatif yang ia dapatkan di Lembang. Menurutnya, di wilayah tersebut banyak kotoran sapi yang terbuang ke sumber air.

Hasil akhirnya berupa lampu dengan diffuser dari limbah air tahu yang menghasilkan efek pencahayaan unik. Ia menjelaskan, diffuser tersebut memberikan karakter tersendiri pada cahaya yang dihasilkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *