JAKARTA – Fenomena kekeringan yang melanda sejumlah wilayah Indonesia di tengah puncak musim kemarau 2026 mendorong umat Islam di berbagai daerah untuk melaksanakan Salat Istisqa, yakni salat sunnah untuk memohon turunnya hujan.
Gerakan Salat Istisqa dilakukan mulai dari tingkat pemerintah daerah, aparat keamanan, lembaga keagamaan hingga masyarakat. Selain menjadi bentuk ikhtiar spiritual, pelaksanaan salat ini menjadi momentum bagi masyarakat untuk bersama-sama memanjatkan doa agar kekeringan segera berakhir dan hujan yang membawa manfaat segera turun.
Majelis Ulama Indonesia (MUI) bahkan mengimbau umat Islam di berbagai daerah di Indonesia untuk melaksanakan Salat Istisqa di tengah kondisi kemarau dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di sejumlah wilayah.
Salat Istisqa Digelar di Sejumlah Daerah
Pelaksanaan Salat Istisqa dalam beberapa pekan terakhir berlangsung di berbagai wilayah.
Di Kalimantan, misalnya, kegiatan serupa digelar di Palangka Raya, Kalimantan Tengah. Sementara di Kalimantan Timur, Kodam VI/Mulawarman menggelar Salat Istisqa dan doa bersama di Balikpapan pada 29 Agustus 2026 sebagai ikhtiar menghadapi kemarau panjang serta meningkatnya risiko karhutla.
Di Kalimantan Selatan, pemerintah provinsi juga menggelar Salat Istisqa sebagai bentuk ikhtiar bersama menghadapi cuaca panas, musim kemarau dan ancaman kebakaran.
Sementara di Sulawesi Selatan, Pemerintah Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap) sebelumnya menggelar Salat Istisqa tingkat kabupaten dengan melibatkan pemerintah daerah, santri pondok pesantren dan masyarakat. Kegiatan tersebut dimaksudkan sebagai ikhtiar bersama memohon turunnya hujan sekaligus memperkuat solidaritas masyarakat menghadapi musim kemarau.
Di Jambi, Salat Istisqa juga digelar di Lapangan Garuda, kompleks Kantor Gubernur Jambi, pada 2 September 2026.
Gelombang ikhtiar tersebut berlanjut hingga wilayah Kalimantan Timur. Di Ibu Kota Nusantara (IKN), seribuan jemaah mengikuti Salat Istisqa pada Jumat, 4 September 2026, setelah kawasan tersebut dilaporkan mengalami kemarau selama lebih dari tiga bulan.
Di Bontang, Kalimantan Timur, ratusan warga juga melaksanakan Salat Istisqa dan doa bersama di Stadion Bessai Berinta atau Lang-Lang pada Sabtu, 5 September 2026. Kegiatan tersebut digelar karena hujan tak kunjung turun di tengah kondisi kemarau.
Fenomena ini menunjukkan bahwa Salat Istisqa kembali menjadi bagian dari respons sosial-keagamaan masyarakat ketika kebutuhan terhadap air semakin mendesak.
Kekeringan Meluas, Krisis Air Mulai Dirasakan
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebelumnya memprediksi sebagian besar wilayah Indonesia mengalami musim kemarau pada 2026. Dalam pemutakhiran prediksi musim kemarau, BMKG menyebut sebagian besar wilayah diperkirakan mengalami curah hujan di bawah normal selama periode kemarau.
Memasuki Agustus 2026, kondisi kemarau semakin meluas. BMKG mencatat kondisi kemarau pada dasarian II Agustus mencapai sekitar 79,9 persen wilayah Indonesia atau 559 Zona Musim (ZOM), dengan sebagian besar wilayah mengalami curah hujan rendah dan di bawah normal.
Dampaknya tidak hanya dirasakan melalui suhu udara yang lebih panas. Kekeringan dapat menyebabkan berkurangnya ketersediaan air bersih, menyusutnya debit sumber air, terganggunya aktivitas pertanian hingga meningkatnya risiko gagal panen.
Sejumlah wilayah bahkan mulai menghadapi kesulitan mendapatkan pasokan air bersih. Kekeringan juga meningkatkan tekanan terhadap sektor pertanian karena tanaman membutuhkan pasokan air untuk mempertahankan pertumbuhan.
Kekeringan Memperbesar Risiko Karhutla
Kondisi tanah dan vegetasi yang semakin kering juga membuat risiko kebakaran hutan dan lahan meningkat.
BMKG telah mengingatkan mengenai meningkatnya risiko karhutla selama periode kemarau. Kondisi kering dapat membuat vegetasi lebih mudah terbakar, sementara angin dan rendahnya kelembapan dapat membantu api menyebar lebih cepat.
Kebakaran juga menjadi persoalan serius di sejumlah wilayah Sumatra dan Kalimantan. Associated Press melaporkan kebakaran hutan dan lahan di sejumlah wilayah telah menghasilkan asap pekat yang mengganggu aktivitas masyarakat dan kualitas udara. Dampaknya bahkan meluas menjadi kabut asap lintas batas ke negara tetangga seperti Malaysia dan Brunei.
Pemerintah pun melakukan berbagai langkah penanganan, mulai dari pemadaman darat, operasi udara, water bombing hingga modifikasi cuaca. Artinya, penanganan karhutla tidak cukup hanya mengandalkan satu pendekatan, tetapi membutuhkan kombinasi mitigasi, penegakan hukum, kesiapsiagaan masyarakat dan pengendalian faktor penyebab kebakaran.
Salat Istisqa, Apa Itu?
Dalam ajaran Islam, Salat Istisqa merupakan salat sunnah yang dilakukan untuk memohon kepada Allah SWT agar menurunkan hujan ketika terjadi kekeringan atau kebutuhan air yang mendesak.
Kementerian Agama menjelaskan bahwa Salat Istisqa dilaksanakan secara berjamaah dan tata caranya memiliki kemiripan dengan Salat Id.
Salat ini merupakan salah satu bentuk ikhtiar spiritual yang telah dikenal sejak zaman Rasulullah SAW.
Dalam sebuah hadis yang menjadi dasar pelaksanaan Salat Istisqa, Rasulullah SAW pernah keluar untuk memohon hujan, kemudian melaksanakan salat dua rakaat tanpa azan dan iqamah, dilanjutkan dengan khutbah dan doa.
Keutamaan Salat Istisqa
Salat Istisqa memiliki sejumlah nilai penting bagi umat Islam.
Pertama, sebagai bentuk permohonan kepada Allah SWT.
Ketika manusia menghadapi keterbatasan dan membutuhkan hujan, Salat Istisqa menjadi salah satu bentuk pengakuan bahwa manusia memiliki keterbatasan dan membutuhkan pertolongan Allah SWT.
Kedua, menjadi momentum memperbanyak istighfar dan introspeksi.
Pelaksanaan Salat Istisqa tidak sekadar berkumpul untuk meminta hujan. Dalam khutbahnya, umat biasanya diajak memperbanyak istighfar, bertaubat dan memperbaiki diri.
Ketiga, memperkuat kebersamaan masyarakat.
Ketika masyarakat, pemerintah, ulama, aparat dan berbagai elemen berkumpul dalam satu tempat untuk berdoa, muncul rasa kebersamaan dalam menghadapi persoalan lingkungan yang berdampak terhadap kehidupan bersama.
Keempat, mengingatkan manusia untuk menjaga lingkungan.
Doa meminta hujan tidak berarti mengesampingkan kewajiban manusia menjaga alam. Penggunaan air secara bijaksana, pencegahan pembakaran lahan dan perlindungan hutan tetap menjadi bagian penting dari ikhtiar menghadapi kekeringan dan karhutla.
Tata Cara Salat Istisqa
Berdasarkan panduan Kementerian Agama, Salat Istisqa dilaksanakan sebanyak dua rakaat secara berjamaah, umumnya di tanah lapang. Salat ini tidak didahului azan dan iqamah.
Secara umum, pelaksanaannya sebagai berikut:
1. Berkumpul di tempat terbuka
- Imam dan jamaah berkumpul di tanah lapang untuk melaksanakan salat secara berjamaah.
2. Berniat Salat Istisqa
- Jamaah berniat melaksanakan salat sunnah Istisqa dua rakaat karena Allah SWT.
3. Takbir pada rakaat pertama
- Setelah takbiratul ihram, dilakukan tujuh kali takbir sebelum membaca Al-Fatihah dan surah Al-Qur’an.
4. Takbir pada rakaat kedua
- Pada rakaat kedua dilakukan lima kali takbir sebelum membaca Al-Fatihah dan surah lainnya.
Setelah itu, rangkaian salat dilanjutkan seperti salat pada umumnya hingga rukuk, sujud, tahiyat dan salam.
5. Khutbah
- Setelah salat, imam atau khatib menyampaikan khutbah. Jamaah diajak memperbanyak istighfar, bertaubat dan memohon ampun kepada Allah SWT.
6. Berdoa meminta hujan
- Khatib kemudian memanjatkan doa agar Allah SWT menurunkan hujan yang bermanfaat, mencukupi kebutuhan masyarakat, menyuburkan tanah dan menghentikan dampak kekeringan.
Dalam pelaksanaannya, khatib juga dapat menghadap kiblat dan mengangkat kedua tangan ketika berdoa, sebagaimana dicontohkan dalam riwayat mengenai Salat Istisqa.
Bukan Sekadar Menunggu Hujan
Meningkatnya pelaksanaan Salat Istisqa di berbagai wilayah Indonesia menjadi gambaran bagaimana masyarakat menghadapi kondisi kemarau melalui pendekatan spiritual.
Namun, doa dan ibadah perlu berjalan berdampingan dengan ikhtiar nyata.
Pencegahan karhutla, penghematan air, distribusi air bersih, perlindungan kawasan hutan, kesiapsiagaan menghadapi kebakaran dan penegakan hukum terhadap pembakaran lahan tetap diperlukan.
Terlebih, faktor cuaca kering dapat memperbesar risiko kebakaran, sementara sebagian kebakaran juga berkaitan dengan aktivitas manusia. Menteri Kehutanan menyebut tantangan pengendalian kebakaran pada September diperkirakan tetap besar seiring kondisi El Niño yang memperkuat cuaca panas dan kering.
Dengan demikian, Salat Istisqa dapat dimaknai sebagai ikhtiar spiritual yang berjalan bersama ikhtiar manusia.
Di tengah tanah yang mengering, sumber air yang menyusut dan asap karhutla yang mengganggu kehidupan masyarakat, doa menjadi pengingat agar manusia kembali mendekat kepada Tuhan sekaligus semakin bertanggung jawab menjaga alam.
Semoga hujan segera turun di wilayah-wilayah yang membutuhkan, menjadi rahmat bagi masyarakat, memadamkan titik-titik api, mengisi kembali sumber air dan mengakhiri panjangnya musim kekeringan.
kaje











