BeritaInternasional

Saling Gempur di Timur Tengah: Rudal AS Salah Sasaran ke Resepsi Pernikahan, Teheran Ngamuk

×

Saling Gempur di Timur Tengah: Rudal AS Salah Sasaran ke Resepsi Pernikahan, Teheran Ngamuk

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi - Potret kehancuran fisik dan dampak emosional yang ditimbulkan oleh konflik / Pexels

Kuhestak, Kabupaten Sirik, Provinsi Hormozgan, Iran — Ketegangan militer di Timur Tengah memanas tajam menyusul aksi saling serang antara Amerika Serikat dan Iran yang pecah pada Selasa, 1 September 2026. Eskalasi ini memicu kemarahan besar di Tehran setelah serangan udara militer AS dilaporkan salah sasaran dan menghantam sebuah bangunan tempat tinggal yang sedang menggelar resepsi pernikahan.

baca juga: Gerak Cepat Balas Serangan AS: Iran Hujani Pangkalan Militer AS di Yordania dengan Rudal

​Dilansir Rusia Today, otoritas dan media setempat melaporkan bahwa pecahan rudal dari serangan Amerika Serikat menghantam sebuah rumah di kota Kuhestak, Kabupaten Sirik, Provinsi Hormozgan. Insiden tragis tersebut merenggut nyawa sedikitnya lima orang—termasuk seorang anak-anak serta remaja—dan menyebabkan puluhan orang lainnya mengalami luka-luka.

​Militer AS sebelumnya menyatakan bahwa operasi udara besar-besaran tersebut diluncurkan untuk menargetkan fasilitas Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) di dekat Selat Hormuz.

Operasi ini diklaim Washington sebagai bentuk respons atas dugaan upaya Iran yang mengancam pelayaran komersial serta posisi pasukan Amerika di kawasan. Presiden AS Donald Trump melontarkan gempuran tersebut sebagai serangan yang “besar dan kuat”, sambil memperingatkan Teheran agar tidak melakukan aksi balasan.

​Namun, jatuhnya korban jiwa di tengah warga sipil yang sedang merayakan pernikahan langsung memicu reaksi keras dari pemerintah Iran. IRGC secara terbuka mengumumkan dimulainya gelombang “respons yang menghukum”. Tehran meluncurkan rentetan rudal balistik dan drone kamikaze secara masif ke arah berbagai fasilitas militer strategis Amerika Serikat di kawasan Teluk, termasuk pangkalan militer di Yordania, Bahrain, Kuwait, hingga Uni Emirat Arab (UEA).

​Akibat gelombang konflik terbuka ini, stabilitas keamanan regional dilaporkan berada di titik nadir, yang turut berdampak langsung pada lonjakan harga minyak mentah global akibat kekhawatiran terganggunya jalur pasokan energi di sekitar Selat Hormuz.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *