Badan Gizi Nasional (BGN) akhirnya angkat bicara mengenai insiden keracunan massal yang menimpa ratusan santri di Yayasan Pondok Pesantren Manba’ul Hikam, Sidoarjo. Berdasarkan investigasi awal, dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang menjadi sorotan dan diduga memproduksi makanan tersebut berlokasi di kawasan Kalitengah, Kecamatan Tanggulangin, Sidoarjo, serta dikelola oleh Yayasan Indonesia Makmur Mandiri.
Wakil Koordinator Regional Provinsi Jawa Timur BGN, Teguh Bayu Wibowo, menyatakan bahwa pihaknya langsung bergerak cepat menuju lokasi kejadian begitu menerima laporan pada pukul 17.00 WIB. Setibanya di sana, BGN langsung berkoordinasi secara intensif dengan Dinas Kesehatan serta jajaran Forkopimda Sidoarjo untuk memastikan penanganan korban berjalan maksimal.
Fasilitas pelayanan gizi yang dipimpin oleh Rafli Ridho sebagai Kepala SPPG ini kini tengah berada di bawah sorotan tajam. Tim gabungan langsung melakukan inspeksi mendadak (sidak) guna menguji seluruh rantai pasok makanan—mulai dari proses pengolahan bahan baku, penyimpanan, pengemasan, hingga tahap distribusi ke para penerima manfaat.
Kendati demikian, pihak BGN menegaskan bahwa mereka belum bisa menarik kesimpulan final apakah menu dari SPPG Kalitengah merupakan penyebab tunggal insiden ini. Meskipun informasi awal menyebutkan paket makanan tersebut didistribusikan sebelum waktu zuhur berdasarkan keterangan pengasuh pesantren, validasi mendalam masih terus berlangsung.
Sebagai langkah pembuktian ilmiah, sampel makanan telah diamankan dan dikirimkan ke laboratorium oleh Dinas Kesehatan bersama Polresta Sidoarjo. Di sisi lain, fokus utama saat ini tetap diarahkan sepenuhnya pada pemulihan kesehatan ratusan santri yang tengah menjalani perawatan intensif di berbagai rumah sakit di wilayah Sidoarjo.
Mewakili lembaga, Teguh menyampaikan permohonan maaf yang terbuka atas musibah yang tidak terduga ini.
“Kami meminta maaf kepada para korban. Untuk saat ini, kami fokus pada penanganan korban. Kami mohon maaf atas kejadian ini,” ungkapnya, Selasa (1/9) malam.
Seluruh hasil investigasi laboratorium beserta evaluasi lapangan nantinya akan segera dilaporkan kepada pimpinan pusat BGN guna menentukan langkah kebijakan dan hukum selanjutnya.
Sebelumnya para santri mulai merasakan gejala mual, muntah, dan pusing sekitar pukul 17.00 WIB. Gejala tersebut muncul beberapa jam setelah mereka menyantap menu Makan Bergizi Gratis (MBG) pada pukul 12.00 WIB. Sejumlah santri bahkan sempat mengeluhkan bahwa makanan yang mereka konsumsi terasa agak kecut.
Hingga malam hari, penanganan medis dilakukan secara intensif baik di lokasi pesantren maupun di sejumlah fasilitas kesehatan. Berdasarkan data sementara, ada 267 santri yang harus ditangani di 7 rumah sakit berbeda.
Pihak PMI Sidoarjo bersama tenaga kesehatan juga menyiagakan ambulans di area pondok pesantren untuk mempercepat proses evakuasi.
kaje/red











