Eskalasi militer di Timur Tengah kembali memanas setelah otoritas pertahanan Israel secara terbuka memperingatkan Iran. Tel Aviv menegaskan siap melancarkan respons militer dengan kekuatan penuh jika Teheran nekat melancarkan serangan balasan.
Melansir Arab News, pernyataan keras tersebut disampaikan langsung oleh Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, di tengah meningkatnya kekhawatiran atas potensi serangan balasan menyusul gempuran situs-situs strategis Amerika Serikat (AS) di kawasan regional.
Siaga Tinggi Menjelang Hari Raya Yahudi
Pasukan pertahanan Israel (IDF) saat ini dilaporkan berada dalam status siaga tingkat tinggi.
baca juga: Putin Turun Tangan! Rusia Gaspol Bantu Iran Bikin Rudal Supersonik Buat Lawan AS
Pemerintah Israel mendeteksi adanya potensi ancaman serangan dari Iran yang diprediksi dapat terjadi selama musim hari raya besar Yahudi, yang dijadwalkan mulai berlangsung pada pertengahan September.
“Kami siap menghadapi kemungkinan serangan selama musim hari raya besar Yahudi… Jika Iran menyerang, Israel akan merespons dengan kekuatan besar, secara independen dari siapa pun, dan pesawat-pesawat kami siap lepas landas,” tegas Israel Katz dalam konferensi pers yang disiarkan oleh media lokal.
Meskipun demikian, Menteri Luar Negeri Israel, Gideon Saar, menambahkan bahwa hingga saat ini pihaknya belum melihat indikasi langsung adanya keinginan Iran untuk memperluas cakupan perang secara terbuka, meski kesiapan defensif maupun ofensif terus diperketat berkoordinasi dengan Amerika Serikat.
Eskalasi Pasca-Serangan terhadap Pangkalan AS
Ketegangan terbaru ini meletus setelah Garda Revolusi Iran meluncurkan serangkaian serangan balasan skala besar menggunakan drone dan rudal. Serangan tersebut menargetkan sejumlah pangkalan militer serta situs-situs strategis AS di berbagai negara kawasan, termasuk Yordania, Uni Emirat Arab (UEA), Kuwait, Bahrain, hingga wilayah otonom Kurdistan di Irak.
Pertukaran serangan ini menjadi salah satu eskalasi terberat dalam beberapa minggu terakhir di tengah konflik berkepanjangan yang telah berlangsung selama enam bulan, memicu kekhawatiran global akan stabilitas keamanan internasional dan jalur pasokan energi dunia.











