Pemerintahan Rusia di bawah kepemimpinan Presiden Vladimir Putin kembali menegaskan komitmen penuhnya untuk mendampingi serta menyokong Iran di tengah eskalasi konflik militer melawan Amerika Serikat (AS) di kawasan Timur Tengah.
Sikap solidaritas tersebut mendapat sambutan hangat sekaligus haru dari Presiden Iran, Masoud Pezeshkian. Pertemuan krusial antar kedua kepala negara ini berlangsung di sela-sela Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Organisasi Kerja Sama Shanghai (Shanghai Cooperation Organisation) yang bertempat di Kirgistan pada Selasa (1/9).
Komitmen Perbantuan dan Eratnya Hubungan Bilateral
Dalam kesempatan tersebut, Putin secara terbuka menyampaikan kepada Pezeshkian bahwa Moskow siap menyediakan berbagai macam dukungan maupun fasilitas yang diperlukan oleh pihak Teheran.
“Kami mengagumi keberanian dan ketangguhan Anda dalam memperjuangkan kepentingan nasional Anda,” tutur Putin dalam pernyataan yang dilansir oleh media Rusia dan dikutip dari AFP.
Di samping memperkuat koordinasi di ranah pertahanan dan politik, Putin juga menyoroti pentingnya menjaga kesinambungan jalur perdagangan serta pertumbuhan ekonomi bilateral yang telah dibangun sejak periode sebelumnya.
Mendapat dukungan moril yang kuat, Pezeshkian menyampaikan rasa terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya kepada pihak Rusia.
“Kami menghargai dan berterima kasih atas sikap Anda di setiap tahapan. Hal ini menunjukkan bahwa hubungan kita adalah hubungan strategis; ini bukan hubungan biasa,” tegas Pezeshkian.
Imbas Sanksi Global dan Eskalasi Lanjutan di Timur Tengah
Saat ini, Rusia maupun Iran sama-sama tengah menghadapi tekanan berat akibat rentetan sanksi ekonomi dari kancah internasional. Kondisi tersebut secara tidak langsung mendorong kedua negara untuk semakin mempererat kerja sama guna memperkuat ketahanan nasional masing-masing.
Di sisi lain, Washington terus memperketat jeratan sanksi guna melemahkan stabilitas finansial Iran. Ketegangan regional ini sendiri telah membara sejak akhir Februari menyusul rangkaian serangan militer AS dan Israel yang turut merenggut nyawa mantan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.
Konfrontasi bersenjata antara kedua belah pihak kembali memanas pekan ini setelah militer Amerika Serikat melancarkan aksi ofensif baru di kawasan Pulau Larak, Selat Hormuz.
(kaje)











