BONTANG, PARAGRAFNEWS.CO — Popong Otje Djunjunan atau yang akrab disapa Ceu Popong, tokoh politik asal Jawa Barat, menjadi salah satu narasumber dalam kegiatan Sosialisasi Empat Pilar MPR RI yang digelar di Ballroom Hotel Sintuk, Bontang, Selasa (5/3/2019) sore.
Kehadiran Ceu Popong menarik perhatian Paguyuban Wargi Sunda Bontang (PWSB), salah satu organisasi yang menghadiri kegiatan tersebut. Puluhan anggota PWSB tampak antusias menyambangi dan berbincang dengan Ceu Popong, sekaligus mengabadikan momen bersama melalui foto swafoto seusai acara.
Baca juga: Mahyudin Sosialisasikan Empat Pilar MPR RI kepada 500 Peserta di Bontang
Ketua PWSB, Yayat Ruhiyat, turut terlihat bercengkerama bersama Ceu Popong dan sejumlah anggota paguyuban.
Dalam kesempatan itu, Ceu Popong menyampaikan pesan kepada warga Sunda yang tinggal di Kota Bontang. Ia mengingatkan bahwa masyarakat Sunda yang berada di luar daerah asal perlu memahami lingkungan serta menjaga sikap selama merantau.
Ceu Popong Ingatkan Filosofi Sunda kepada Perantau
Ceu Popong menjelaskan bahwa masyarakat Sunda memiliki beragam filosofi kehidupan yang mengajarkan pentingnya menjaga perilaku dan menyesuaikan diri ketika berada di lingkungan orang lain.
Salah satu filosofi yang disampaikannya adalah “Kudu bisa nitip diri sangsang badan”, yang bermakna bahwa seseorang harus pandai membawa diri dan menjaga sikap ketika berada di tempat orang lain.
“Kita kan tamu, yang punya ada. Kita harus bisa sedemikian rupa sehingga disukai sama yang punya rumah,” kata Ceu Popong.
Ia kemudian menyampaikan filosofi Sunda lainnya, yakni “Pindah cai pindah tampian”, yang mengandung pesan agar seseorang mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan dan budaya setempat.
Ceu Popong mengibaratkan perubahan tempat tinggal warga Sunda yang merantau ke Bontang seperti berpindah tempat mengambil air dan mandi.
“Yang biasanya cai (air) kita di Garut, di Bandung, di Sukabumi, sekarang air kita, tampian kita, tempat mandi kita di Bontang,” tuturnya dengan logat Sunda.
Pesan tersebut menekankan pentingnya menghormati lingkungan tempat tinggal baru tanpa melupakan identitas dan nilai-nilai budaya asal.
Pentingnya Menjaga Etika dalam Organisasi
Selain menyampaikan filosofi Sunda, Ceu Popong juga membahas pentingnya etika dalam kehidupan bermasyarakat, khususnya ketika seseorang berada dalam organisasi yang mempertemukan orang-orang dengan karakter berbeda.
Menurutnya, kehidupan di tanah rantau menuntut kemampuan menjalin hubungan baik dengan sesama manusia. Perbedaan karakter, sikap, dan cara berkomunikasi kerap menjadi tantangan dalam membangun keharmonisan.
Ceu Popong mengaitkan hal tersebut dengan konsep hablumminannas, yakni hubungan baik antarmanusia, serta hablumminallah, yaitu hubungan manusia dengan Allah SWT.
Ia menjelaskan bahwa menjalankan kewajiban kepada Tuhan merupakan satu hal, sedangkan membangun hubungan baik dengan sesama manusia membutuhkan kemampuan memahami dan menyikapi beragam karakter.
“Kalau berbicara tentang merantau, jawabannya hablumminannas. Kalau hablumminallah, itu urusan dengan Tuhan. Karena karakter orang lain sangat berbeda-beda, ada yang pemarah, ada yang egois. Dari sifat orang itulah kita paling sulit menjalankan hablumminannas,” jelasnya.
Ia menambahkan, setiap orang yang ditemui dapat memiliki karakter yang berbeda. Karena itu, sikap saling memahami dan kemampuan menjaga hubungan menjadi penting agar tidak mudah terjadi perselisihan.
“Sepuluh orang yang kita jumpai, ya bisa sepuluh macam orang dengan karakter berbeda. Ada yang cepat marah, ada yang tidak bisa ditegur. Kenapa bisa tidak akur? Karena hablumminannas yang tidak berjalan dalam kepribadian orang itu,” pungkas Ceu Popong.
Pesan tersebut menjadi pengingat bagi warga Sunda di Bontang agar menjaga etika, menghormati lingkungan tempat merantau, dan membangun hubungan harmonis dengan masyarakat setempat.