Pertempuran makin berkecamuk tak terelekan perebutan kekuasaan antara panglima militer Sudan Abdel Fattah Al-Burhan dan wakilnya, Mohamed Hamdan Daglo, yang memimpin Pasukan Dukungan Cepat (RSF) paramiliter yang kuat.
Terkini, mengutip arabnews, ledakan mengguncang ibu kota Sudan Khartoum, Senin, saat pertempuran antara tentara reguler dan paramiliter berkecamuk untuk hari ketiga dengan jumlah korban tewas meningkat 97 orang tewas.
Pertempuran sengit memicu protes internasional dan menyerukan segera mendakan gencatan senjata dan dialog.
“Korban tewas di antara warga sipil dalam bentrokan sejak dimulai pada Sabtu telah mencapai 97,” kata serikat dokter dalam sebuah pernyataan Senin pagi.
Menurutnya, angka itu tidak termasuk semua korban karena banyak yang tidak dapat mencapai rumah sakit karena kesulitan dalam penanganan, serta ratusan warga sipil terluka dalam bentrokan itu.
Pertempuran sengit pecah setelah ketidaksepakatan antara Burhan dan Daglo atas rencana integrasi RSF ke dalam tentara reguler — syarat utama untuk kesepakatan akhir yang bertujuan mengakhiri krisis sejak kudeta militer 2021 yang mereka atur bersama.
Kudeta tersebut telah menggagalkan transisi ke pemerintahan sipil setelah penggulingan presiden Omar Al-Bashir tahun 2019 dan menumpuk pada krisis ekonomi yang meningkat di Sudan.
Bentrokan tersebut memaksa warga Sudan untuk berdiam diri di rumah mereka dengan kekhawatiran akan konflik yang berkepanjangan yang dapat menjerumuskan negara ke dalam kekacauan yang lebih dalam, memupuskan harapan untuk kembali ke pemerintahan sipil.
Sejak Sabtu, kedua belah pihak saling menyalahkan siapa yang memulai pertempuran.
Masing-masing mengklaim berada di atas angin dengan menyatakan kontrol atas situs-situs utama, termasuk bandara dan istana kepresidenan, tetapi tidak satu pun dari klaim mereka dapat diverifikasi secara independen.
Pertempuran juga berkecamuk di bagian lain Sudan termasuk wilayah Darfur barat dan di perbatasan timur negara bagian Kassala.
Tewasnya tiga staf PBB di Darfur Utara berakibat dihentikannya semua operasi pangan di negara miskin itu.
Petugas medis telah memohon koridor yang aman untuk ambulans dan gencatan senjata untuk merawat para korban karena jalanan terlalu berbahaya untuk mengangkut korban ke rumah sakit.
RSF dibentuk di bawah Bashir pada 2013, muncul dari milisi Janjaweed yang dilancarkan pemerintahnya terhadap etnis minoritas non-Arab di Darfur satu dekade sebelumnya, menimbulkan tuduhan kejahatan perang.
Kekerasan terbaru yang dipicu oleh kedua jenderal tersebut mencerminkan perpecahan yang mendalam antara tentara reguler dan RSF.
Terlepas dari seruan luas untuk gencatan senjata, kedua jenderal itu tampaknya tidak berminat untuk melakukan pembicaraan.
Burhan, yang naik pangkat di bawah pemerintahan tiga dekade Bashir yang sekarang dipenjara, mengatakan kudeta itu “diperlukan” untuk memasukkan lebih banyak faksi dalam politik.
Daglo kemudian menyebut kudeta itu sebagai “kesalahan” yang gagal membawa perubahan dan menghidupkan kembali sisa-sisa rezim Bashir yang digulingkan oleh tentara pada 2019 menyusul protes massal.