Daerah

Bontang Kejar Stunting Satu Digit, Kanaan Ditantang Zero dalam 56 Hari

×

Bontang Kejar Stunting Satu Digit, Kanaan Ditantang Zero dalam 56 Hari

Sebarkan artikel ini

Pemkot Bontang meluncurkan Inovasi Cantik untuk mempercepat penanganan stunting. Secara kota, prevalensi masih 14,05 persen, sementara Kelurahan Kanaan menyisakan 21 kasus yang kini ditargetkan ditekan hingga nol.

stunting bontang
Wali Kota Bontang Neni Moerniaeni saat meluncurkan program Inovasi Cantik (Cegah dan Tangani Stunting) di Kelurahan Kanaan, Kecamatan Bontang Barat, Kamis (1/10/2026). Program tersebut menargetkan percepatan penanganan stunting melalui intervensi lintas sektor selama 56 hari kerja. / Dok. Pemkot Bontang

BONTANG — Pemerintah Kota Bontang mulai memperketat perang melawan stunting dari tingkat kelurahan. Program Inovasi Cantik (Cegah dan Tangani Stunting) resmi diluncurkan di Kelurahan Kanaan, Kecamatan Bontang Barat, dengan sasaran mempercepat penanganan anak yang masuk kategori stunting sekaligus mencegah munculnya kasus baru.

Program ini menjadi bagian dari target besar Pemkot Bontang untuk menekan prevalensi stunting hingga satu digit atau di bawah 10 persen.

artikel terkait:

Apa Itu Stunting? Pengertian, Penyebab, Ciri, Dampak, dan Cara Mencegahnya

Data hasil penimbangan serentak terhadap 9.884 balita di seluruh Kota Bontang menunjukkan sebanyak 1.389 anak atau 14,05 persen tercatat masuk kategori stunting. Angka tersebut masih berada di atas target satu digit yang ingin dicapai pemerintah daerah.

Namun, perhatian khusus kini diarahkan ke Kelurahan Kanaan.

Di wilayah tersebut tercatat 21 kasus stunting atau sekitar 7,8 persen. Wali Kota Bontang Neni Moerniaeni bahkan memasang target agar kasus yang tersisa dapat ditekan hingga zero stunting.

56 Hari untuk Mengejar Perubahan

Inovasi Cantik tidak dirancang sebagai kegiatan seremonial semata.

Pemkot Bontang menyiapkan intervensi selama 56 hari kerja untuk melihat perkembangan penanganan di lapangan.

Pendekatan yang digunakan tidak hanya berfokus pada pemberian makanan tambahan atau pemenuhan kebutuhan gizi anak. Pemerintah juga menyoroti faktor lain yang dapat berkaitan dengan persoalan stunting, mulai dari kondisi ibu dan anak, kesehatan reproduksi, kehamilan dini hingga sanitasi lingkungan.

“Penanganan masalah kesehatan dan sosial ini harus dikeroyok bersama,” kata Neni saat peluncuran program di Kanaan, Kamis (1/10/2026).

Pesan tersebut menunjukkan bahwa penanganan stunting tidak dibebankan hanya kepada sektor kesehatan.

Kelurahan, RT, kader posyandu, keluarga, dunia usaha dan unsur masyarakat lainnya didorong mengambil peran sesuai fungsi masing-masing.

Stunting Bukan Sekadar Soal Makanan

Salah satu poin yang ditekankan Pemkot Bontang adalah perlunya melihat stunting secara lebih menyeluruh.

Pemenuhan gizi pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) tetap menjadi bagian penting. Namun, pemerintah juga menyoroti edukasi kesehatan reproduksi bagi remaja, pencegahan kehamilan dini serta kondisi sanitasi lingkungan.

Lingkungan tempat tinggal juga menjadi perhatian.

Aparatur kelurahan diminta ikut memastikan kebersihan lingkungan warga, termasuk mengawasi area peternakan yang berpotensi menjadi sumber penyakit infeksi.

Artinya, upaya menekan stunting tidak berhenti ketika anak mendapatkan makanan tambahan. Kondisi keluarga dan lingkungan tempat anak tumbuh juga harus diperhatikan.

Pemkot juga meminta tenaga kesehatan lebih teliti dalam menetapkan status stunting.

Neni mengingatkan bahwa anak dengan tubuh pendek tidak otomatis mengalami stunting karena faktor genetik dan postur orang tua juga perlu dipertimbangkan dalam penilaian.

RT Didorong Jadi Mata dan Telinga di Lapangan

Strategi lain yang diperkuat adalah pemantauan sampai tingkat Rukun Tetangga.

Pemkot Bontang memberikan insentif Rp2 juta per bulan untuk ketua RT, sementara bendahara, sekretaris dan kader masing-masing menerima Rp1 juta.

Dukungan tersebut diharapkan memperkuat pemantauan kondisi warga secara langsung dengan pendekatan by name by address.

Dengan model tersebut, keluarga yang membutuhkan intervensi diharapkan dapat lebih cepat dikenali dan ditindaklanjuti.

Pendekatan berbasis wilayah juga membuat penanganan stunting tidak hanya bergantung pada data agregat kota. Kondisi setiap keluarga sasaran dapat dipantau lebih dekat oleh aparatur dan kader di lingkungan masing-masing.

Kanaan Jadi Titik Uji

Kanaan menjadi salah satu wilayah yang kini mendapat perhatian khusus karena jumlah kasusnya telah berada di bawah 10 persen.

Dengan 21 kasus atau sekitar 7,8 persen, target zero stunting yang disampaikan Wali Kota menjadi tantangan berikutnya.

Namun, target tersebut tidak berarti persoalan gizi di Kanaan hanya berhenti pada angka stunting.

Data lokal juga menunjukkan masih terdapat persoalan wasting dan underweight yang membutuhkan perhatian. Karena itu, intervensi diarahkan secara lebih luas, mulai dari remaja, ibu hamil, ibu menyusui hingga balita.

Pemkot Bontang juga mendapat dukungan dari dunia usaha. Dalam peluncuran program, PT Kaltim Parna Industri (KPI) turut terlibat dalam kolaborasi penanganan stunting di Kanaan. Rangkaian kegiatan juga melibatkan BNN Kota Bontang, kader posyandu, ketua RT dan unsur pemerintah setempat.

Bukan Hanya Kanaan

Program penanganan stunting di Bontang sebelumnya juga dilakukan melalui berbagai intervensi berbasis kelurahan.

Pada September 2026, misalnya, Pemkot meluncurkan SI-ODO (One Day One Egg) dan Gerakan Peduli Kader di Tanjung Laut Indah. Program tersebut menyasar balita dengan intervensi pemberian telur setiap hari selama 30 hari dan pemantauan oleh kader.

Pemkot juga memperluas pemberian makanan tambahan ke sejumlah kelurahan sebagai bagian dari intervensi terhadap keluarga berisiko stunting.

Rangkaian program tersebut menunjukkan bahwa penanganan stunting di Bontang mulai diarahkan pada pendekatan yang lebih dekat dengan keluarga dan wilayah tempat tinggal.

Target Besar Bontang

Tantangan terbesar Pemkot Bontang kini bukan sekadar menjalankan program, tetapi memastikan intervensi benar-benar menghasilkan perubahan pada angka dan kondisi anak.

Dari 14,05 persen, pemerintah menargetkan prevalensi stunting turun menjadi di bawah 10 persen.

Sementara di Kanaan, targetnya dibuat lebih tinggi: dari 21 kasus yang tercatat, pemerintah ingin mengejar kondisi zero stunting.

Dalam 56 hari masa intervensi, hasil pemantauan akan menjadi salah satu ukuran penting untuk melihat perkembangan program tersebut.

Bagi Bontang, persoalan stunting bukan hanya persoalan angka statistik. Di balik setiap angka terdapat anak, keluarga dan lingkungan yang membutuhkan perhatian.

Karena itu, keberhasilan Inovasi Cantik pada akhirnya akan ditentukan oleh seberapa konsisten pemerintah, tenaga kesehatan, kader, RT, keluarga dan dunia usaha bekerja bersama setelah seremoni peluncuran berakhir.

Dari Kanaan, Bontang kini mencoba membuktikan bahwa target satu digit bukan sekadar angka di atas kertas.

Sumber

  • ANTARA News Kalimantan Timur — laporan peluncuran Inovasi Cantik dan data stunting Bontang.
  • Pemerintah Kota Bontang/Setda — keterangan resmi peluncuran Inovasi Cantik di Kelurahan Kanaan.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *