TEHERAN – Situasi keamanan di Selat Hormuz, jalur pelayaran paling strategis bagi perdagangan energi dunia, kembali memanas. Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengklaim empat kapal tanker minyak terbakar dan meledak setelah mencoba melintasi jalur yang disebut tidak diizinkan oleh otoritas Iran.
Laporan tersebut disampaikan media pemerintah Iran dan dikutip Reuters dalam pemberitaan Jumat (30/10/2026).
Dalam pernyataan terbarunya, Angkatan Laut IRGC menyebut sebuah kapal tanker keempat yang membawa lebih dari dua juta barel minyak mentah menghantam ranjau laut hingga mengalami ledakan besar dan terbakar.
Sebelumnya, pihak Iran juga menyampaikan klaim bahwa tiga kapal tanker lainnya mengalami nasib serupa setelah mencoba melewati jalur selatan Selat Hormuz yang dianggap tidak diizinkan.
Namun, hingga laporan ini disusun, Reuters menyatakan belum dapat memverifikasi secara independen klaim Iran mengenai empat kapal tanker tersebut.
UKMTO Laporkan Kapal Tanker Terkena Serangan
Di tengah meningkatnya ketegangan, United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO), lembaga pemantau keamanan pelayaran maritim Inggris, juga menerima laporan mengenai sebuah kapal tanker minyak mentah yang terkena proyektil tak dikenal ketika sedang meninggalkan Selat Hormuz.
Menurut laporan Reuters, insiden tersebut disampaikan oleh sumber terverifikasi kepada UKMTO.
Dalam laporan terpisah, sebuah kapal juga dilaporkan terkena serangan pada bagian lambung kiri sekitar 40 mil laut di selatan Pulau Lavan, Iran. Insiden itu menyebabkan kebakaran, tetapi seluruh awak kapal dilaporkan selamat.
Belum dapat dipastikan apakah kapal-kapal yang dilaporkan UKMTO tersebut merupakan bagian dari empat kapal tanker yang disebut oleh pihak Iran.
Perbedaan laporan ini menjadi penting karena situasi keamanan di kawasan tersebut masih berkembang dan sejumlah insiden belum sepenuhnya teridentifikasi.
25 Awak Kapal Dievakuasi Angkatan Laut Oman
Ketegangan juga dilaporkan di sekitar perairan Oman.
Reuters melaporkan Angkatan Laut Kerajaan Oman mengevakuasi 25 awak kapal komersial berbendera Panama setelah kapal tersebut menjadi sasaran serangan dan terbakar di sekitar Musandam.
Lokasi kejadian dilaporkan berada sekitar 1,6 mil laut dari garis pantai Musandam.
Proses evakuasi dilakukan bersama Maritime Security Centre Oman. Seluruh awak kapal mendapatkan penanganan medis setelah berhasil diselamatkan.
Namun, otoritas Oman belum memberikan rincian lebih lanjut mengenai identitas kapal maupun pihak yang bertanggung jawab atas serangan tersebut.
Selat Hormuz, Jalur Vital yang Bisa Mengguncang Harga Minyak Dunia
Peristiwa ini menjadi perhatian internasional karena Selat Hormuz memiliki posisi sangat penting dalam rantai pasokan energi dunia.
Mengutip data U.S. Energy Information Administration (EIA) yang diperbarui pada Maret 2026, rata-rata sekitar 20,9 juta barel minyak mentah dan produk petroleum melintasi Selat Hormuz setiap hari pada semester pertama 2025.
Jumlah tersebut setara dengan sekitar 20 persen konsumsi petroleum cair global dan sekitar seperempat perdagangan minyak dunia melalui jalur laut.
Sebagian besar pengiriman minyak dari kawasan Teluk Persia melalui jalur tersebut menuju pasar Asia, termasuk China, India, Jepang, dan Korea Selatan.
Artinya, gangguan berkepanjangan di Selat Hormuz berpotensi menimbulkan dampak berantai terhadap perdagangan energi, biaya transportasi, industri, hingga harga bahan bakar di berbagai negara.
Bagi Indonesia, perkembangan ini juga patut dicermati. Kenaikan harga minyak mentah dunia berpotensi meningkatkan tekanan terhadap biaya impor energi dan beban subsidi maupun kompensasi energi, bergantung pada perkembangan harga, nilai tukar, serta kebijakan pemerintah.
Konflik Regional Berpotensi Meluas
Situasi di Selat Hormuz tidak bisa dilepaskan dari meningkatnya ketegangan militer di kawasan Timur Tengah setelah serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari 2026.
Aktivitas militer dan ancaman terhadap kapal komersial meningkatkan risiko bagi perusahaan pelayaran internasional yang menggunakan jalur tersebut.
Selat Hormuz sendiri merupakan perairan sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan Laut Arab. Posisi geografisnya menjadikan kawasan tersebut salah satu titik paling sensitif dalam perdagangan energi internasional.
Jika gangguan keamanan terus berlanjut, perusahaan pelayaran dapat menghadapi peningkatan biaya asuransi, perubahan rute, hingga penundaan pengiriman minyak.
Hingga Sabtu (31/10/2026), belum ada konfirmasi independen yang memastikan seluruh klaim Iran mengenai empat kapal tanker terbakar.
Perkembangan selanjutnya masih menunggu hasil penyelidikan otoritas maritim dan informasi resmi dari pihak-pihak terkait.
Ketegangan ini kembali memperlihatkan betapa rentannya perdagangan energi dunia terhadap konflik geopolitik. Satu jalur pelayaran yang terganggu dapat memberikan dampak jauh melampaui kawasan Timur Tengah.
kaje/red