ATLANTA – Forum diplomasi negara-negara ekonomi terbesar dunia, Group of Twenty (G20), kembali diwarnai ketegangan politik internasional. Pertemuan para menteri luar negeri G20 di Atlanta, Georgia, Amerika Serikat, Jumat (30/10/2026), harus kehilangan salah satu tradisi diplomatiknya setelah agenda foto bersama dibatalkan akibat penolakan sejumlah negara terhadap kehadiran Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov.
Keputusan tersebut memperlihatkan masih tajamnya perpecahan antara Rusia dan negara-negara Barat, terutama menyangkut perang Rusia-Ukraina yang hingga kini menjadi salah satu persoalan utama keamanan internasional.
Mengutip laporan Reuters, sejumlah perwakilan negara Eropa menolak berdiri bersama Lavrov dalam sesi foto resmi yang biasanya menjadi bagian dari pembukaan pertemuan tingkat menteri G20.
baca juga: Selat Hormuz Membara! Iran Klaim Empat Kapal Tanker Minyak Meledak, Pasokan Energi Dunia Terancam
Seorang diplomat Barat menyebut sekitar sepertiga peserta, termasuk Australia dan Kanada, menyampaikan keberatan untuk difoto bersama menteri luar negeri Rusia tersebut.
Pemerintah Amerika Serikat selaku tuan rumah akhirnya menghapus agenda foto bersama dari rangkaian resmi pertemuan. Washington disebut tidak ingin persoalan tersebut berubah menjadi tontonan diplomatik yang mengalihkan perhatian dari agenda utama.
Eropa Tegas Tolak Foto Bersama Lavrov
Penolakan paling terbuka datang dari Menteri Luar Negeri Jerman Johann Wadephul.
Sebelum pertemuan dimulai, Wadephul menegaskan tidak mungkin ada foto keluarga G20 yang memperlihatkan para mitra Eropa berdiri bersama Lavrov seolah hubungan diplomatik dengan Rusia berjalan normal.
Sikap tersebut berkaitan dengan invasi Rusia ke Ukraina yang masih menjadi sumber ketegangan besar antara Moskow dan negara-negara Barat.
Penolakan serupa juga disampaikan Inggris.
Menteri Luar Negeri Inggris Ed Miliband menegaskan negaranya tidak akan mengubah sikap terhadap Rusia hanya demi mengikuti tradisi foto bersama dalam forum internasional.
Australia turut menyatakan dukungan terhadap keputusan Amerika Serikat membatalkan sesi foto tersebut.
Juru bicara Menteri Luar Negeri Australia Penny Wong menegaskan negaranya tidak ingin menormalisasi invasi Rusia terhadap Ukraina.
Sikap sejumlah negara tersebut menunjukkan bahwa kehadiran Rusia dalam forum internasional belum mampu menghapus ketegangan politik akibat perang yang berlangsung sejak 2022.
Marco Rubio Serukan Persatuan di Tengah Perpecahan
Di tengah kontroversi tersebut, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio tetap membuka pertemuan dengan menyerukan pentingnya persatuan menghadapi berbagai tantangan global.
Rubio memperingatkan bahwa dunia sedang menghadapi berbagai krisis ekonomi dan geopolitik yang saling berkaitan.
Persoalan gangguan pasokan energi, pangan, perdagangan internasional, serta kebebasan navigasi menjadi sejumlah isu yang membutuhkan kerja sama antarnegara.
Pernyataan tersebut memperlihatkan tantangan yang dihadapi Washington sebagai tuan rumah G20 2026. Di satu sisi, Amerika Serikat ingin mendorong kerja sama ekonomi global, tetapi di sisi lain perbedaan sikap politik terhadap Rusia terus membayangi jalannya diplomasi.
Pertemuan G20 Terancam Tanpa Kesepakatan Bersama
Ketegangan di Atlanta tidak hanya berhenti pada pembatalan foto bersama.
Associated Press melaporkan para menteri luar negeri G20 diperkirakan mengakhiri pertemuan dua hari pada Sabtu (31/10/2026) tanpa mencapai konsensus mengenai sejumlah persoalan keamanan global.
Alih-alih mengeluarkan komunike bersama yang mencerminkan kesepakatan seluruh anggota, pertemuan tersebut akan mengandalkan pernyataan ketua yang merangkum jalannya pembahasan.
Perbedaan pandangan mengenai perang Rusia-Ukraina, konflik Amerika Serikat dan Israel dengan Iran, kebijakan tarif perdagangan Amerika, serta ketegangan di Laut China Selatan menjadi sejumlah persoalan yang mempersulit tercapainya kesepakatan.
Menteri Luar Negeri Polandia Radosław Sikorski mengakui sulit menyatukan pandangan ketika negara-negara yang terlibat dalam konflik berada di meja perundingan yang sama.
Kondisi tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa forum G20 masih menghadapi persoalan serius dalam membangun kesepakatan politik di tengah meningkatnya rivalitas kekuatan dunia.
Rusia Tetap Hadir, Ketegangan Diplomatik Berlanjut
Meskipun menghadapi penolakan dari sejumlah negara Barat, Sergey Lavrov tetap menghadiri pertemuan di Atlanta.
Kehadiran Rusia menjadi simbol bahwa Moskow masih mempertahankan ruang diplomatiknya dalam forum internasional, meskipun hubungan dengan negara-negara Eropa dan sekutu Barat terus memburuk.
Rusia juga menolak sejumlah pandangan Barat terkait perang Ukraina dan kepentingan keamanan Moskow.
Sementara itu, Amerika Serikat tetap berupaya menjaga agar agenda G20 tidak sepenuhnya dikuasai oleh perselisihan geopolitik.
Pertemuan tingkat menteri ini menjadi bagian dari rangkaian persiapan menuju KTT Pemimpin G20 yang dijadwalkan berlangsung di Miami, Florida, pada Desember 2026.
Perkembangan di Atlanta menjadi gambaran bahwa tantangan terbesar diplomasi dunia saat ini bukan hanya mencari solusi atas konflik internasional, tetapi juga membangun kembali kepercayaan di antara negara-negara yang memiliki kepentingan politik berbeda.
Pembatalan satu sesi foto mungkin terlihat sederhana. Namun, di panggung diplomasi internasional, peristiwa tersebut memperlihatkan betapa dalamnya jurang perbedaan antara Rusia dan negara-negara Barat.