BELGRADE, PARAGRAFNEWS.CO — Gerakan mahasiswa Serbia mencetak kemenangan besar dalam pemilihan umum parlemen pada Minggu, 25 Oktober 2026. Kemenangan ini menjadi pukulan politik bagi Aleksandar Vučić, tokoh yang mendominasi politik Serbia selama lebih dari satu dekade.
Hasil sementara yang dirilis Komisi Pemilihan Umum Republik Serbia (RIK) pada Senin, 26 Oktober 2026, menunjukkan daftar kandidat Student List meraih 52,65 persen suara dari data 8.135 tempat pemungutan suara (TPS).
Sementara itu, daftar kandidat Aleksandar Vučić – United Serbia memperoleh 39,22 persen suara. Angka tersebut memperlihatkan keunggulan signifikan gerakan yang didukung mahasiswa dibandingkan kubu politik yang dipimpin Vučić.
Mengutip laporan Reuters pada Senin, dengan hampir 99 persen suara telah dihitung, kandidat yang didukung mahasiswa diproyeksikan mengamankan 139 dari total 250 kursi parlemen. Aliansi yang dipimpin Partai Progresif Serbia (SNS) memperoleh 97 kursi, sedangkan sisanya ditempati partai-partai minoritas.
Vučić pun mengakui kekalahan pada Minggu malam. Dalam pernyataannya, ia menyebut daftar kandidat mahasiswa sebagai pemenang pemilu.
Pengakuan tersebut menjadi penanda perubahan besar dalam peta politik Serbia. Namun, kemenangan di kotak suara belum otomatis menyelesaikan seluruh persoalan politik maupun menjamin agenda reformasi yang dijanjikan gerakan mahasiswa akan terlaksana.
Berawal dari Tragedi yang Menewaskan 16 Orang
Kemenangan gerakan mahasiswa Serbia tidak terjadi secara tiba-tiba. Akar perlawanan tersebut bermula dari tragedi runtuhnya kanopi beton di stasiun kereta api Novi Sad pada 1 November 2024.
Peristiwa itu menewaskan 16 orang dan memicu kemarahan publik. Mahasiswa kemudian menggelar demonstrasi untuk menuntut pertanggungjawaban, transparansi, serta penyelidikan terhadap dugaan korupsi dan persoalan dalam renovasi bangunan tersebut.
Associated Press (AP) melaporkan bahwa mahasiswa menilai tragedi itu mencerminkan persoalan serius dalam tata kelola pemerintahan. Mereka menuntut agar pihak-pihak yang bertanggung jawab diproses dan institusi negara bekerja secara transparan.
Protes yang berlangsung selama berbulan-bulan kemudian berkembang menjadi gerakan politik yang lebih luas. Demonstrasi tidak lagi hanya berkaitan dengan tragedi Novi Sad, tetapi juga menyuarakan tuntutan pemberantasan korupsi, perbaikan pendidikan, dan akuntabilitas pemerintah.
Gerakan tersebut menjadi tantangan serius bagi Vučić dan partainya yang telah lama mendominasi kekuasaan.
Dua Tahun Demonstrasi Berujung Kemenangan di Parlemen
Dilansir Reuters, puluhan ribu orang turun ke jalan di Beograd dan sejumlah kota lainnya setelah kekalahan kubu Vučić diumumkan.
Suasana perayaan terlihat di berbagai lokasi. Bagi para pendukung gerakan mahasiswa, hasil pemilu itu menjadi jawaban atas perjuangan panjang yang mereka lakukan melalui demonstrasi.
Kemenangan tersebut juga memperlihatkan bahwa mobilisasi masyarakat dapat mengubah persaingan politik melalui mekanisme pemilu.
Menurut data sementara RIK, tingkat partisipasi pemilih mencapai 68,78 persen, dengan 4.211.957 orang menggunakan hak pilihnya. Tingginya partisipasi tersebut menjadi salah satu gambaran besarnya perhatian masyarakat terhadap pemilihan parlemen kali ini.
Meski demikian, hasil pemilu tetap harus dipahami sesuai status penghitungan yang diumumkan. Komposisi akhir parlemen dan proses pembentukan pemerintahan mengikuti tahapan resmi setelah hasil pemilu ditetapkan.
Siapa yang Akan Memimpin Pemerintahan Baru?
Kemenangan besar tidak serta-merta membuat masa depan pemerintahan Serbia menjadi jelas.
Salah satu tantangan utama gerakan mahasiswa adalah menentukan siapa yang akan memimpin pemerintahan dan bagaimana berbagai tuntutan demonstrasi akan diterjemahkan menjadi kebijakan konkret.
Reuters melaporkan bahwa gerakan tersebut tidak menonjolkan satu pemimpin tunggal. Strategi ini berkembang selama aksi protes, antara lain untuk menghindari serangan politik yang berfokus pada individu tertentu.
Daftar kandidat mereka melibatkan sejumlah kalangan, termasuk akademisi dan profesional. Namun, membangun pemerintahan yang efektif membutuhkan lebih dari sekadar kemenangan elektoral.
Gerakan tersebut harus menyusun agenda kerja, membentuk kepemimpinan, serta memastikan komitmen pemberantasan korupsi dapat dijalankan melalui lembaga negara.
Selain persoalan domestik, pemerintahan baru juga akan menghadapi tantangan dalam menentukan arah hubungan luar negeri Serbia, termasuk hubungan dengan Uni Eropa, Rusia, dan China.
Kemenangan Mahasiswa Belum Menjamin Perubahan
Peristiwa politik di Serbia memberikan gambaran bahwa tuntutan masyarakat terhadap transparansi dan pertanggungjawaban dapat berkembang menjadi kekuatan elektoral.
Namun, keberhasilan menjatuhkan dominasi politik melalui pemilu baru merupakan tahap awal. Pembuktian sesungguhnya akan terlihat ketika pemerintahan baru mulai bekerja.
Publik akan menunggu apakah janji pemberantasan korupsi benar-benar diwujudkan, apakah kasus-kasus yang memicu kemarahan masyarakat ditangani secara transparan, dan apakah lembaga negara menjadi lebih akuntabel.
Kemenangan Student List menjadi pukulan besar bagi dominasi politik Vučić. Meski begitu, masa depan Serbia masih ditentukan oleh proses pembentukan pemerintahan dan kemampuan para pemenang pemilu memenuhi tuntutan masyarakat.
Satu hal yang jelas, hasil pemilu ini menegaskan bahwa gerakan mahasiswa Serbia telah berubah dari kekuatan demonstrasi menjadi kekuatan politik yang mampu memenangkan dukungan mayoritas pemilih.
kaje/red