Nasional

Puluhan WNI Diduga Jadi Tentara Rusia, 8 Nama Diungkap Ukraina, 2 Tewas, Nasib Satria Misterius

×

Puluhan WNI Diduga Jadi Tentara Rusia, 8 Nama Diungkap Ukraina, 2 Tewas, Nasib Satria Misterius

Sebarkan artikel ini
WNI tentara Rusia
Ilustrasi keterlibatan warga negara asing dalam konflik bersenjata Rusia-Ukraina. (Ilustrasi/Paragrafnews.co)

JAKARTA — Keterlibatan warga negara Indonesia (WNI) dalam perang Rusia-Ukraina semakin menjadi sorotan. Puluhan WNI dilaporkan diduga bergabung dengan militer Rusia, delapan nama diungkap intelijen Ukraina, sementara dua orang dilaporkan tewas di medan pertempuran.

Di tengah kabar tersebut, nasib mantan anggota Korps Marinir TNI AL, Satria Arta Kumbara, juga kembali menjadi perhatian setelah berulang kali dikabarkan meninggal dunia. Namun, hingga Sabtu (31/10/2026), belum ada konfirmasi resmi mengenai kematiannya.

Puluhan WNI Diduga Bergabung dengan Militer Rusia

Perwakilan Indonesia di Rusia sebelumnya mengungkap adanya puluhan laporan mengenai WNI yang diduga bergabung dengan militer Rusia.

artikel terkait: Tragis! WNI Direkrut Jadi Tentara Rusia Tewas di Ukraina, Hanya Dilatih 1,5 Minggu

Wakil Duta Besar RI untuk Rusia, Hartyo Harkomoyo, menyebut perkiraan jumlah WNI yang terlibat mencapai puluhan orang. Sebagian diduga direkrut melalui tawaran pekerjaan dengan iming-iming gaji besar.

Bahkan, terdapat laporan WNI yang berangkat menggunakan visa turis sebelum akhirnya bergabung dengan militer Rusia.

Sementara itu, Duta Besar RI untuk Rusia dan Belarus, Jose Antonio Morato Tavares, mengungkapkan KBRI Moskow menerima sejumlah laporan dari keluarga yang mengkhawatirkan kerabatnya diduga menjadi tentara bayaran.

Meski demikian, angka puluhan tersebut masih merupakan perkiraan berdasarkan laporan yang diterima, bukan jumlah WNI yang seluruhnya telah terverifikasi sebagai anggota militer Rusia.

Delapan Nama WNI Diungkap Intelijen Ukraina

Pada Agustus 2026, Dinas Intelijen Luar Negeri Ukraina (FISU) mempublikasikan delapan nama WNI yang disebut direkrut untuk bergabung dengan militer Rusia.

Berikut nama-nama yang dipublikasikan:

  1. Yuda Putra Pratama
  2. Haryanto Dwi Kencana
  3. Erwanda
  4. Ngangun Hudri Fadli
  5. Muhammad Syaripudin
  6. M. Hadi Maulana
  7. Wahyu Oktavian Iskandar
  8. Helmi Nuraha Hakim

Menurut FISU, perekrutan dilakukan dengan berbagai tawaran, mulai dari gaji tinggi, pekerjaan non-tempur, hingga kesempatan memperoleh kewarganegaraan Rusia.

Namun, para rekrutan disebut berisiko ditempatkan di garis depan pertempuran.

Daftar tersebut merupakan informasi dari intelijen Ukraina dan belum berarti seluruh identitas serta status perekrutan telah dikonfirmasi secara independen oleh pemerintah Indonesia.

Dua WNI Dilaporkan Tewas di Medan Perang

Kasus keterlibatan WNI semakin memprihatinkan setelah dua warga Indonesia dilaporkan meninggal dunia saat bergabung dengan militer Rusia.

Pertama, Rendi Apriyanto (30), warga Natuna, Kepulauan Riau. Ia dilaporkan tewas sekitar 18–20 September 2026 akibat serangan drone di wilayah pertempuran Ukraina.

Keluarga Rendi memperoleh kabar kematian tersebut dari rekan sesama WNI yang berada di militer Rusia.

Kasus kedua adalah Muhammad Taufiq (48), yang disebut berdomisili di Surabaya, Jawa Timur.

Berdasarkan laporan intelijen pertahanan Ukraina (HUR), Taufiq menandatangani kontrak militer Rusia pada 19 April 2026 di Korolyov, dekat Moskow.

Ia bertugas sebagai penembak senapan mesin dan hanya menjalani pelatihan sekitar 1,5 minggu sebelum dikirim ke wilayah Donetsk.

Taufiq kemudian dilaporkan tewas dalam pertempuran pertamanya ketika pasukan Rusia berupaya bergerak menuju Novoselivka dan Drobysheve.

Kementerian Luar Negeri RI menyatakan masih melakukan verifikasi melalui KBRI Moskow terkait identitas dan status Taufiq.

Satria Kumbara, Mantan Marinir yang Dikabarkan Tewas

Selain dua WNI tersebut, nama Satria Arta Kumbara juga menjadi perhatian publik.

Mantan anggota Korps Marinir TNI AL itu diketahui bergabung dengan militer Rusia setelah meninggalkan dinas tanpa izin.

Pada Agustus 2025, beredar video yang memperlihatkan Satria mengalami luka serius di bagian kepala. Ia disebut menjadi korban serangan drone dan mortir Ukraina ketika bertugas bersama pasukan Rusia.

Kabar mengenai kondisinya semakin mengkhawatirkan setelah muncul informasi bahwa dirinya harus menjalani perawatan dan proses evakuasi.

Pada Juni 2025, Satria bahkan sempat dikabarkan meninggal dunia oleh rekan sesama WNI. Namun, kabar tersebut kemudian dibantah melalui video klarifikasi yang menyatakan dirinya masih hidup.

Kabar kematiannya kembali viral pada Juli 2026. Sebuah unggahan media sosial mengklaim Satria meninggal setelah lokasi perawatannya diserang pasukan Ukraina dan dimakamkan di wilayah Pokrovsk.

Namun, hingga kini belum ada konfirmasi resmi dari pemerintah Indonesia maupun otoritas Rusia yang memastikan kabar tersebut.

Dengan demikian, Satria belum dapat dimasukkan dalam daftar WNI yang terkonfirmasi meninggal dunia.

Kemlu RI Minta Rusia Tidak Merekrut WNI

Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri telah mengambil langkah diplomatik untuk mencegah semakin banyak WNI terlibat dalam konflik Rusia-Ukraina.

Kemlu meminta pemerintah Rusia tidak merekrut warga Indonesia ke dalam militer maupun formasi lain yang berkaitan dengan militer.

Indonesia juga meminta agar dimasukkan ke dalam daftar negara yang warganya dikecualikan dari perekrutan militer Rusia.

Pemerintah turut menyoroti dugaan penipuan dan eksploitasi dalam proses perekrutan yang berpotensi mengarah pada tindak pidana perdagangan orang (TPPO).

Masyarakat diimbau berhati-hati terhadap tawaran pekerjaan di luar negeri yang menjanjikan penghasilan besar tanpa kejelasan perusahaan, kontrak, maupun jenis pekerjaan.

Rentetan laporan tersebut memperlihatkan besarnya risiko yang dihadapi WNI ketika terjebak dalam perekrutan militer asing.

Di tengah perang yang belum berakhir, pemerintah Indonesia masih menghadapi pekerjaan besar untuk menelusuri keberadaan warganya, memastikan laporan kematian, dan mencegah perekrutan baru yang dapat mengancam keselamatan warga Indonesia.

kaje/red

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *