SARAWAK, MALAYSIA – Kabut asap lintas batas kembali menjadi sorotan setelah kualitas udara di sejumlah wilayah Sarawak, Malaysia, memburuk hingga mencapai kategori berbahaya. Kondisi tersebut terjadi di tengah meningkatnya aktivitas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Indonesia, khususnya Kalimantan.
baca juga: Aksi Protes di KBRI Kuala Lumpur: Warga Tuntut Penanganan Krisis Kabut Asap Lintas Batas
Pemerintah Malaysia merespons kondisi tersebut dengan menjalankan operasi pembenihan awan atau cloud seeding di Sarawak. Operasi yang dimulai 3 September dan berlangsung selama tiga hari tersebut tidak hanya ditujukan untuk membantu mengurangi kabut asap, tetapi juga meningkatkan kembali cadangan air di sejumlah waduk yang mengalami penurunan akibat cuaca panas dan kering.
Mengutip Antara News, Operasi pembenihan awan difokuskan antara lain di wilayah tangkapan air tiga bendungan utama, yakni Batang Ai, Bakun, dan Murum, yang memiliki peran penting bagi pasokan air dan pembangkit listrik tenaga air di Sarawak.
Kualitas Udara Sarawak Mencapai Level Berbahaya
Dampak kabut asap semakin serius pada awal September. Malay Mail melaporkann data sistem pemantauan kualitas udara Malaysia menunjukkan sejumlah wilayah Sarawak mengalami peningkatan indeks polusi secara drastis.
Pada 4 September, Serian mencatat API 518, masuk kategori berbahaya. Sementara itu, Kuching juga berada pada kategori berbahaya dengan angka sekitar 310. Samarahan tercatat 281 dan Sri Aman 245, yang masuk kategori sangat tidak sehat.
Sebagai pembanding, indeks di atas 300 dikategorikan berbahaya dalam sistem indeks pencemaran udara Malaysia.
Situasi tersebut membuat aktivitas masyarakat ikut terganggu. Pemerintah Malaysia bahkan mengambil langkah lebih jauh dengan menetapkan status darurat di Distrik Serian setelah indeks pencemaran udara menembus ambang kritis.
Asap dari Kebakaran di Kalimantan Melintasi Perbatasan
Sarawak memiliki posisi geografis yang berbatasan langsung dengan Pulau Kalimantan. Ketika kebakaran hutan dan lahan terjadi di wilayah Kalimantan, asap dapat terbawa oleh pola angin dan menyebar melintasi batas negara.
Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang memperburuk kualitas udara di Sarawak. Laporan Departemen Lingkungan Malaysia sebelumnya menyebut kabut asap lintas batas terjadi bersamaan dengan ratusan titik panas di Kalimantan dan Sumatra.
Namun, kondisi kabut asap tidak semata-mata disebabkan kebakaran di Indonesia. Otoritas Malaysia juga menyebut adanya faktor cuaca panas dan kering serta pembakaran terbuka di dalam negeri yang turut berkontribusi terhadap memburuknya kualitas udara.
Bengkayang Naikkan Status Darurat Karhutla
Di sisi Indonesia, dampak karhutla juga mulai dirasakan serius di wilayah yang berdekatan dengan Sarawak.
Pemerintah Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat, menaikkan status penanganan karhutla dari siaga menjadi tanggap darurat bencana asap. Status tersebut berlaku mulai 31 Agustus hingga 14 September 2026.
BPBD Bengkayang menyebut keputusan itu diambil karena kebakaran masih terjadi dan dampaknya terhadap kualitas udara mulai mengganggu lingkungan serta berisiko terhadap kesehatan masyarakat.
Kondisi ini menjadi perhatian khusus karena Bengkayang merupakan salah satu wilayah Kalimantan Barat yang secara geografis berdekatan dengan Sarawak.
Indonesia dan Malaysia Hadapi Persoalan Asap Lintas Batas
Persoalan kabut asap sebenarnya bukan isu baru bagi Indonesia dan Malaysia. Namun, kondisi tahun ini kembali menunjukkan bahwa kebakaran di satu negara dapat memberikan dampak langsung kepada negara tetangga.
Malaysia dan Indonesia sebelumnya telah sepakat meningkatkan langkah pencegahan untuk menghadapi ancaman kabut asap lintas batas. Salah satu langkah yang dibahas adalah peningkatan operasi pembenihan awan untuk membantu mengatasi kondisi kering dan memperbaiki kualitas udara.
Malaysia juga telah memberikan perhatian serius terhadap kondisi Sarawak. Pada 4 September, Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim menyatakan pemerintah akan mengambil langkah yang diperlukan, termasuk pembenihan awan dan tindakan lain, menyusul memburuknya kondisi udara di Serian.
Kabut asap bukan hanya persoalan jarak pandang. Partikel halus hasil pembakaran dapat masuk ke saluran pernapasan dan memperburuk risiko gangguan kesehatan, terutama bagi anak-anak, lansia, serta masyarakat yang memiliki sensitivitas terhadap kualitas udara.
Laporan terbaru juga menunjukkan adanya peningkatan keluhan terkait asma dan infeksi saluran pernapasan di Malaysia selama periode kabut asap.
Karena itu, masyarakat di wilayah yang kualitas udaranya berada pada level tidak sehat hingga berbahaya dianjurkan mengurangi aktivitas di luar ruangan dan mengikuti arahan otoritas kesehatan setempat.
Karhutla Indonesia Kembali Menjadi Sorotan Regional
Reuters menyebutkan perkembangan di Sarawak menunjukkan bahwa persoalan karhutla di Indonesia telah berkembang menjadi isu lingkungan lintas batas.
Di Indonesia sendiri, penanganan terus dilakukan melalui pemadaman darat, operasi udara, pembasahan lahan, hingga modifikasi cuaca. Kebakaran juga mulai mendekati sejumlah kawasan strategis di Kalimantan. Reuters melaporkan kebakaran bahkan telah merambah kawasan sekitar Nusantara, dengan sekitar 400 hektare lahan terdampak di sekitar kawasan tersebut.
Situasi ini memperlihatkan pentingnya penanganan karhutla secara lebih agresif, terutama pada lahan gambut dan kawasan yang rawan terbakar. Tanpa hujan yang cukup dan pengendalian sumber api, kebakaran dapat bertahan lebih lama dan menghasilkan asap yang terbawa angin ke wilayah lain.
Kabut asap kini bukan lagi persoalan satu daerah. Ketika asap menyeberangi batas negara, penanganan karhutla Indonesia berubah menjadi persoalan regional yang membutuhkan koordinasi Indonesia dan negara-negara tetangga.
kaje/red











