DaerahKuliner

UMKM Bontang Terpukul Pemadaman Listrik: Mesin Minuman hingga Oven Tak Bisa Dipakai, Pesanan Terpaksa Dibatalkan

×

UMKM Bontang Terpukul Pemadaman Listrik: Mesin Minuman hingga Oven Tak Bisa Dipakai, Pesanan Terpaksa Dibatalkan

Sebarkan artikel ini

PARAGRAFNEWS.CO, BONTANG – Pemadaman listrik bergilir yang terjadi berulang kali di Kota Bontang mulai memberikan tekanan langsung terhadap pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Bagi sebagian pelaku usaha, listrik bukan sekadar kebutuhan penerangan. Listrik menjadi tenaga utama untuk mengoperasikan mesin produksi yang digunakan setiap hari. Ketika aliran listrik terputus, aktivitas usaha ikut berhenti.

Kondisi tersebut dirasakan Mamah El, salah seorang pelaku UMKM di kawasan Kampung Baru, Bontang.

Ia mengaku sangat mengeluhkan pemadaman listrik yang terjadi hampir setiap hari karena membuat aktivitas jualannya terganggu.

Menurut Mamah El, sebagian peralatan yang digunakan untuk membuat minuman, baik dingin maupun panas, membutuhkan tenaga listrik. Ketika listrik padam, mesin-mesin tersebut tidak dapat digunakan.

“Kalau listrik mati, kami tidak bisa berjualan. Sebagian alat untuk membuat minuman dingin maupun panas menggunakan mesin, jadi ketika listrik padam alatnya tidak bisa berfungsi,” ujar Mamah El, Senin (14/9).

Bagi pelaku usaha seperti dirinya, pemadaman listrik bukan hanya soal kehilangan penerangan. Ada waktu produksi yang terbuang hingga potensi pendapatan yang ikut hilang.

Situasi serupa dialami Hopsatun, pelaku UMKM di kawasan Pisangan, Jalan HM Ardans, Bontang.

Hopsatun menjalankan usaha kue basah dan kue kering yang sangat bergantung pada peralatan elektronik, terutama oven dan mixer.

Ketika listrik padam, proses produksi otomatis terhenti. Pesanan pelanggan yang seharusnya dikerjakan pun ikut tertunda.

“Semua alat tidak bisa berfungsi, seperti oven dan mixer. Peralatan utama itu tidak bisa dipakai. Akhirnya banyak orderan yang dibatalkan,” keluh Hopsatun.

Menurutnya, kondisi tersebut cukup berat bagi pelaku UMKM karena pelanggan memiliki waktu dan kebutuhan yang harus dipenuhi. Ketika produksi berhenti akibat listrik padam, pelaku usaha berada dalam posisi sulit untuk menyelesaikan pesanan sesuai jadwal.

Bukan Sekadar Mati Lampu

Keluhan dua pelaku UMKM tersebut memperlihatkan bahwa dampak pemadaman listrik telah masuk ke sektor ekonomi masyarakat.

Pemadaman yang berlangsung berulang membuat pelaku usaha harus menyesuaikan jadwal produksi, menerima risiko keterlambatan pesanan hingga kehilangan transaksi.

Sebelumnya, Ketua Komisi B DPRD Bontang Rustam juga meminta PLN memperhatikan waktu pelaksanaan pemadaman agar tidak dilakukan pada jam-jam masyarakat sedang mencari penghasilan. Ia secara khusus menyoroti dampaknya terhadap pelaku UMKM yang bergantung pada listrik untuk menjalankan usaha.

Di sisi lain, pemadaman listrik juga telah berdampak pada pelayanan air bersih. Perumdam Tirta Taman Bontang menyatakan proses pengambilan air baku, pengolahan di WTP hingga distribusi kepada pelanggan membutuhkan pasokan listrik.

Dengan demikian, dampak pemadaman mulai terasa pada berbagai sektor: rumah tangga, layanan air bersih hingga aktivitas ekonomi UMKM.

Pelaku Usaha Menunggu Kepastian

Bagi pelaku UMKM, yang dibutuhkan bukan hanya informasi jadwal pemadaman, tetapi kepastian mengenai kapan kondisi kelistrikan kembali stabil.

Pemadaman yang terjadi berulang membuat pelaku usaha sulit menentukan jadwal produksi dan menerima pesanan dalam jumlah besar.

Mamah El dan Hopsatun menjadi gambaran kecil dari dampak yang dirasakan pelaku UMKM di Bontang ketika listrik tidak tersedia.

Di balik setiap pemadaman, ada mesin produksi yang berhenti, pesanan yang tertunda, pelanggan yang kecewa dan potensi pendapatan yang hilang.

Sementara itu, PLN sebelumnya menjelaskan bahwa pemadaman dilakukan menyusul gangguan pada sejumlah pembangkit yang berdampak terhadap sistem kelistrikan di Bontang. Pemulihan dilakukan secara bertahap dengan menyesuaikan kondisi sistem dan kesiapan pasokan.

Bagi UMKM, harapannya sederhana: listrik kembali stabil agar mesin kembali menyala, produksi berjalan, pesanan terselesaikan, dan roda ekonomi warga Bontang tidak ikut berhenti.

kaje/red

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *