InternasionalNewsPolitikRubrik

Siapa Sebenarnya Houthi? Dari Gerakan Keagamaan di Yaman hingga Jadi Kekuatan yang Mengancam Laut Merah

×

Siapa Sebenarnya Houthi? Dari Gerakan Keagamaan di Yaman hingga Jadi Kekuatan yang Mengancam Laut Merah

Sebarkan artikel ini

Paragrafnews.co: Nama Houthi kini kembali menjadi sorotan dunia setelah kelompok bersenjata yang juga dikenal sebagai Ansar Allah memperluas pengaruhnya di sepanjang pesisir Laut Merah Yaman dan bergerak semakin dekat dengan Selat Bab el-Mandeb, salah satu jalur pelayaran paling strategis di dunia.

Perkembangan terbaru ini membuat Houthi bukan lagi sekadar persoalan perang saudara Yaman. Pergerakan mereka kini bersinggungan langsung dengan kepentingan Arab Saudi, Iran, Amerika Serikat, Israel hingga keamanan perdagangan global.

Lantas, siapa sebenarnya kelompok Houthi, dari mana mereka berasal, siapa tokoh di baliknya dan mengapa kelompok ini mampu bertahan menghadapi berbagai kekuatan militer selama lebih dari dua dekade?

Bukan Sekadar Kelompok Milisi

Houthi secara resmi dikenal sebagai Ansar Allah, yang berarti “Pendukung Allah”. Gerakan ini berakar dari komunitas Zaydi, salah satu cabang Syiah yang telah lama berkembang di wilayah utara Yaman.

Gerakan tersebut mulai berkembang pada dekade 1990-an di Provinsi Saada, Yaman utara. Salah satu fondasinya adalah gerakan pendidikan dan kebangkitan keagamaan yang dikenal sebagai Believing Youth atau Shabab al-Moumineen.

siapa houthi
Pejuang Houthi dalam parade pelatihan militer di Sanaa, Yaman 18 Desember 2024. Reuters/Khaled Abdullah/File Foto

Gerakan awal tersebut tidak langsung berbentuk pasukan bersenjata. Fokusnya antara lain menghidupkan kembali identitas Zaydi dan memberikan pendidikan keagamaan kepada generasi muda di wilayah yang merasa semakin terpinggirkan secara politik dan ekonomi.

Namun, ketegangan dengan pemerintah Yaman kemudian mengubah gerakan tersebut secara drastis.

Tokoh Pertama di Balik Houthi: Hussein al-Houthi

Nama Houthi berasal dari keluarga al-Houthi. Tokoh yang kemudian menjadi simbol awal gerakan tersebut adalah Hussein Badr al-Din al-Houthi, seorang ulama Zaydi dan mantan anggota parlemen Yaman.

Hussein menjadi kritis terhadap pemerintahan Presiden Ali Abdullah Saleh, terutama terkait persoalan korupsi, marginalisasi wilayah Saada serta kedekatan pemerintah Yaman dengan Amerika Serikat.

Ketegangan meningkat setelah invasi Amerika Serikat ke Irak pada 2003. Pendukung Hussein semakin keras menyuarakan sikap anti-Amerika dan anti-Israel.

Pada 2004, pemerintah Yaman berusaha menangkap Hussein. Bentrokan pun pecah dan berubah menjadi pemberontakan bersenjata di wilayah utara.

Hussein akhirnya tewas dalam pertempuran pada September 2004.

Kematian tersebut justru tidak menghentikan gerakan. Sebaliknya, nama Houthi semakin melekat dan gerakan tersebut berkembang menjadi organisasi politik sekaligus militer.

Abdul-Malik al-Houthi: Sosok yang Mengubah Houthi Menjadi Kekuatan Besar

Setelah Hussein tewas, kepemimpinan gerakan beralih kepada adiknya, Abdul-Malik al-Houthi.

Abdul-Malik menjadi tokoh paling penting dalam perjalanan Houthi selama lebih dari dua dekade. Ia mengambil alih kepemimpinan ketika usianya masih relatif muda dan kemudian mengembangkan kelompok tersebut menjadi kekuatan bersenjata sekaligus aktor politik utama Yaman.

Di bawah Abdul-Malik, Houthi tidak hanya bertempur melawan pemerintah Yaman.

Kelompok tersebut membangun struktur pemerintahan sendiri, menguasai wilayah, mengembangkan kemampuan rudal dan drone, serta memperluas jaringan politik dan militernya.

Reuters menyebut Houthi sebagai gerakan militer, politik dan keagamaan yang berasal dari wilayah miskin di utara Yaman. Kelompok tersebut berhasil menguasai Sanaa pada 2014 dan kemudian mempertahankan kendali atas sebagian besar wilayah barat laut Yaman.

Titik Balik: Houthi Merebut Sanaa

Peristiwa paling menentukan terjadi pada 2014.

Houthi berhasil merebut ibu kota Yaman, Sanaa, setelah memanfaatkan lemahnya pemerintahan dan kekacauan politik pasca-gejolak Arab Spring.

Pengambilalihan Sanaa membuat konflik lokal berubah menjadi perang nasional.

Presiden Abdrabbuh Mansur Hadi dan pemerintahan yang diakui secara internasional akhirnya kehilangan kendali atas ibu kota dan kemudian berpindah ke Aden.

Situasi tersebut membuat negara-negara Teluk semakin khawatir terhadap meluasnya pengaruh Iran di dekat perbatasan Arab Saudi.

Saudi Arabia Masuk Perang

Pada 2015, Arab Saudi memimpin koalisi militer untuk mendukung pemerintahan Yaman yang diakui internasional dan melawan Houthi.

Perang kemudian berubah menjadi salah satu konflik paling kompleks di Timur Tengah.

Di satu sisi terdapat Houthi yang menguasai sebagian besar wilayah barat laut Yaman.

Di sisi lain terdapat pemerintahan Yaman yang didukung Saudi dan sejumlah kekuatan lokal dengan kepentingan yang berbeda-beda.

Konflik tersebut tidak pernah benar-benar menghasilkan kemenangan mutlak bagi salah satu pihak.

Bahkan setelah gencatan senjata yang dimediasi PBB pada 2022 menurunkan intensitas pertempuran, akar persoalan politik dan militer tetap belum terselesaikan.

Lalu Apa Hubungannya dengan Iran?

Inilah bagian yang paling sering menjadi perdebatan.

Houthi secara luas disebut mendapat dukungan Iran, termasuk bantuan teknologi, persenjataan, pelatihan dan dukungan lainnya. Namun, menyebut Houthi sekadar “boneka Iran” juga terlalu menyederhanakan realitas.

Reuters mencatat bahwa hubungan Houthi dengan Iran memang kuat secara ideologis dan material, tetapi kelompok tersebut juga memiliki kepentingan serta agenda sendiri di Yaman. Houthi bahkan menolak gambaran bahwa mereka hanyalah proxy Iran.

Council on Foreign Relations juga menempatkan Houthi dalam jaringan kelompok yang mendukung kepentingan regional Iran. Namun, karakter Zaydi Houthi tidak identik dengan Syiah Iran yang bermazhab Dua Belas Imam.

Dengan kata lain, Iran dan Houthi memiliki kepentingan strategis yang bertemu, tetapi keduanya bukan organisasi yang sama.

Mengapa Houthi Sangat Sulit Dikalahkan?

Ada beberapa faktor.

Pertama, geografi Yaman.

Wilayah utara dan barat Yaman memiliki pegunungan serta medan yang sangat sulit. Kondisi tersebut memberikan keuntungan besar bagi perang gerilya.

Kedua, Houthi memiliki pengalaman tempur panjang sejak pemberontakan pertama pada 2004.

Ketiga, kelompok tersebut berhasil membangun kemampuan rudal dan drone.

Keempat, mereka mempunyai basis dukungan lokal dan struktur pemerintahan di wilayah yang dikuasai.

Kelima, konflik regional membuat Houthi memperoleh nilai strategis yang jauh lebih besar dibandingkan ukuran wilayah mereka.

Karena itu, serangan udara saja tidak cukup untuk menghilangkan kekuatan Houthi.

Dari Perang Yaman ke Laut Merah

Perubahan terbesar terjadi setelah perang Israel-Hamas meletus pada Oktober 2023.

Houthi mulai meluncurkan serangan rudal dan drone terhadap kapal-kapal di Laut Merah dengan alasan mendukung Palestina dan menekan Israel.

Serangan tersebut kemudian berkembang menjadi krisis pelayaran internasional.

Sejumlah perusahaan pelayaran besar mengalihkan kapal mereka dari Laut Merah dan memilih rute lebih panjang mengelilingi Afrika.

Dampaknya bukan hanya dirasakan Israel atau Yaman.

Biaya pengiriman, asuransi dan waktu perjalanan kapal ikut meningkat.

Council on Foreign Relations mencatat serangan Houthi terhadap kapal di Laut Merah telah menjadi salah satu faktor utama gangguan jalur pelayaran kawasan tersebut.

Bab el-Mandeb: Kartu As Houthi

Mengapa dunia begitu khawatir dengan pergerakan Houthi saat ini?

Jawabannya adalah Bab el-Mandeb.

Selat tersebut berada di antara Yaman dan kawasan Tanduk Afrika, menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden.

Kapal yang melewati Terusan Suez dari Asia menuju Eropa secara tradisional menggunakan jalur Laut Merah dan Bab el-Mandeb.

Reuters memperkirakan sekitar 7 persen minyak dunia melewati kawasan tersebut, sementara jalur itu juga menjadi salah satu koridor utama perdagangan internasional.

Perkembangan terbaru bahkan menunjukkan Houthi bergerak menuju titik-titik strategis di pesisir Laut Merah, termasuk Mokha dan Pulau Perim.

AP melaporkan perkembangan tersebut meningkatkan kekhawatiran bahwa Houthi dapat memberikan tekanan lebih besar terhadap lalu lintas kapal internasional.

Siapa Saja Tokoh Penting di Balik Houthi?

1. Hussein Badr al-Din al-Houthi

Ia merupakan tokoh awal sekaligus pendiri gerakan yang kemudian dikenal sebagai Houthi.

Hussein mengembangkan gerakan kebangkitan Zaydi pada 1990-an dan kemudian memimpin pemberontakan terhadap pemerintah Yaman pada 2004.

Ia tewas pada tahun yang sama.

2. Abdul-Malik al-Houthi

Inilah tokoh paling penting Houthi saat ini.

Ia menggantikan Hussein setelah kematiannya dan berhasil mengubah gerakan tersebut dari pemberontakan lokal menjadi kekuatan militer-politik yang memiliki pengaruh regional.

Abdul-Malik dikenal sebagai pengambil keputusan tertinggi dalam struktur Houthi dan jarang tampil di depan publik secara langsung.

3. Yahya Saree

Jika Abdul-Malik merupakan pemimpin tertinggi, Yahya Saree merupakan salah satu wajah paling dikenal dari sayap militernya.

Ia kerap tampil sebagai juru bicara militer Houthi untuk mengumumkan operasi, serangan rudal maupun drone dan memberikan pernyataan mengenai kapal-kapal di Laut Merah.

Nama Saree semakin dikenal dunia sejak Houthi meningkatkan operasi maritim pada 2023.

4. Mohammed al-Houthi

Mohammed al-Houthi merupakan tokoh senior lainnya dalam struktur politik Houthi.

Ia menjadi salah satu figur penting dalam pemerintahan de facto Houthi dan memiliki pengaruh dalam pengambilan keputusan politik kelompok tersebut.

Dengan demikian, kekuatan Houthi tidak bertumpu pada satu orang saja. Keluarga al-Houthi dan jaringan politik-militernya memainkan peran penting dalam mempertahankan struktur kekuasaan.

Houthi Sekarang Bukan Lagi Kelompok Lokal

Inilah perubahan terbesar yang terjadi selama dua dekade.

Houthi yang bermula dari gerakan keagamaan di Saada kini menjadi salah satu aktor bersenjata paling diperhitungkan di Timur Tengah.

Mereka memiliki rudal, drone, kemampuan perang laut dan jaringan politik.

Persenjataan tersebut membuat kelompok yang menguasai sebagian wilayah Yaman mampu memberikan tekanan kepada negara-negara jauh lebih kuat secara militer.

Mengapa Arab Saudi Sangat Khawatir?

Bagi Riyadh, persoalannya bukan hanya Yaman.

Houthi berada di dekat perbatasan Saudi dan kini semakin dekat dengan jalur pelayaran serta jalur ekspor energi yang sangat penting.

Ketika Houthi menyerang wilayah Saudi atau mengancam kapal yang terkait dengan kerajaan tersebut, Riyadh menghadapi dilema besar.

Membalas dengan operasi militer besar dapat kembali membuka perang Yaman secara penuh.

Namun jika tidak membalas, Houthi dapat melihat situasi tersebut sebagai peluang memperluas pengaruhnya.

Situasi inilah yang membuat perkembangan terbaru di Laut Merah menjadi sangat sensitif. AP menilai Saudi kini menghadapi pilihan sulit antara merespons secara militer atau mencari jalan diplomatik untuk mencegah perang yang lebih luas.

Houthi, Iran dan Ancaman Perang Regional

Jika konflik terus melebar, Houthi dapat menjadi salah satu pintu masuk konflik regional yang jauh lebih besar.

Iran memiliki kepentingan strategis di kawasan.

Arab Saudi merupakan kekuatan utama Teluk.

Amerika Serikat memiliki kepentingan terhadap keamanan pelayaran.

Israel melihat serangan Houthi sebagai ancaman langsung.

Sementara Houthi memiliki kepentingan sendiri untuk mempertahankan kekuasaan di Yaman dan menunjukkan bahwa mereka mampu menekan lawan yang jauh lebih kuat.

Karena itu, setiap serangan baru berpotensi memicu reaksi berantai.

Jadi, Siapa Sebenarnya Houthi?

Jawaban sederhananya: Houthi adalah gerakan politik, keagamaan dan militer Yaman yang berakar dari komunitas Zaydi di utara negara tersebut.

Namun dalam dua dekade, mereka berubah menjadi kekuatan bersenjata yang menguasai wilayah luas, termasuk Sanaa, serta memiliki kemampuan untuk memengaruhi keamanan Laut Merah.

Mereka bukan sekadar kelompok pemberontak lokal.

Mereka juga bukan organisasi yang sepenuhnya dapat dijelaskan hanya sebagai “proxy Iran”.

Houthi memiliki agenda lokal sendiri, tetapi dukungan dan hubungan strategis dengan Iran membuat kekuatan mereka jauh lebih besar dalam peta geopolitik Timur Tengah.

Dan sekarang, ketika kelompok tersebut bergerak semakin dekat ke Bab el-Mandeb, pertanyaannya bukan lagi hanya siapa yang menguasai Yaman.

Pertanyaannya telah berubah menjadi:

Siapa yang mengendalikan salah satu pintu masuk perdagangan dunia?

Jika ketegangan Saudi dan Houthi berubah menjadi perang besar, dampaknya dapat melampaui Yaman. Harga minyak, ongkos pelayaran, rantai pasok global hingga stabilitas ekonomi dunia bisa ikut terguncang.

Inilah alasan mengapa nama Houthi kini tidak lagi hanya menjadi berita tentang perang saudara Yaman.

Houthi telah menjadi salah satu pemain kunci yang dapat menentukan arah konflik Timur Tengah.

Catatan Redaksi

Artikel ini disusun ulang secara independen berdasarkan sejumlah sumber terbuka dan kredibel, termasuk Reuters, Associated Press, Council on Foreign Relations, Wilson Center, United Nations dan lembaga kajian konflik Timur Tengah. Klaim mengenai dukungan Iran, struktur internal Houthi dan perkembangan militer dibedakan dari pernyataan pihak-pihak yang terlibat langsung dalam konflik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *