JAKARTA — Timur Tengah kembali berada di ambang ledakan besar. Konflik antara Arab Saudi dan kelompok Houthi di Yaman memasuki babak baru setelah pasukan Houthi memperluas kendali di sepanjang pesisir Laut Merah dan menguasai sejumlah titik strategis yang berdekatan dengan Selat Bab el-Mandeb.
Situasi semakin panas setelah Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman (MBS) dilaporkan meminta Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk melakukan serangan terhadap Houthi.
Namun permintaan tersebut disebut ditolak Trump.
Perkembangan ini membuka pertanyaan besar: apakah Arab Saudi sedang mempersiapkan perang besar baru melawan Houthi?
MBS Minta Trump Serang Houthi
Informasi mengenai komunikasi antara Riyadh dan Washington menjadi salah satu perkembangan paling mengejutkan dalam eskalasi terbaru.

CNN melaporkan bahwa Mohammed bin Salman berbicara dua kali dengan Donald Trump pada Kamis dan mendesak Presiden AS tersebut untuk melancarkan serangan terhadap Houthi.
Namun Trump menolak permintaan itu. Informasi tersebut berasal dari sumber yang mengetahui pembicaraan kedua pemimpin dan sebelumnya juga dilaporkan Axios.
Reuters kemudian melaporkan bahwa Riyadh memang meminta dukungan militer Amerika Serikat untuk menghadapi meningkatnya ancaman Houthi.
Washington tidak memberikan lampu hijau untuk serangan langsung. Sebagai gantinya, AS disebut memberikan dukungan intelijen dan bantuan penargetan kepada Saudi serta mitra regionalnya.
Keputusan Washington tersebut menjadi sangat penting.
Sebab, keterlibatan militer langsung Amerika Serikat berpotensi mengubah konflik Yaman menjadi perang regional yang jauh lebih besar.
Houthi Kuasai Titik Strategis Laut Merah
Tekanan terhadap Saudi meningkat setelah Houthi membuat kemajuan besar di wilayah pesisir Yaman.
Reuters melaporkan pasukan Houthi yang bersekutu dengan Iran bergerak cepat hingga menguasai kawasan strategis di sekitar Bab el-Mandeb.
Houthi sebelumnya merebut Mokha, sebuah kota pelabuhan penting di pesisir Laut Merah.
Pergerakan tersebut membuat posisi kelompok Houthi semakin dekat dengan salah satu jalur pelayaran paling penting di dunia.
Bab el-Mandeb bukan sekadar selat biasa.
Jalur tersebut menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden dan menjadi salah satu pintu penting bagi perdagangan serta pengiriman energi antara Asia, Timur Tengah dan Eropa.
Jika jalur ini terganggu secara serius, dampaknya bisa menjalar jauh melampaui Yaman dan Arab Saudi.
Houthi Beri Peringatan: Kapal Saudi Jadi Target
Situasi semakin serius setelah juru bicara militer Houthi, Yahya Saree, menyatakan bahwa pelayaran melalui Bab el-Mandeb tetap aman bagi kapal-kapal lain, tetapi kapal Saudi dikecualikan.
Pernyataan tersebut disampaikan setelah Houthi mengklaim telah menguasai sejumlah posisi strategis di sepanjang pesisir Laut Merah.
Pernyataan itu secara tidak langsung menunjukkan bahwa Houthi mulai menggunakan posisi geografisnya di Laut Merah sebagai alat tekanan terhadap Riyadh.
Dengan kata lain, konflik tidak lagi hanya berlangsung melalui rudal dan drone.
Laut Merah kini ikut menjadi medan pertarungan.
Saudi Sudah Merasakan Serangan Houthi
Arab Saudi sebelumnya membawa persoalan tersebut ke Dewan Keamanan PBB.
Riyadh mengecam serangkaian serangan Houthi yang menyasar sejumlah wilayah dan fasilitas sipil maupun ekonomi di Abha, Khamis Mushait, Jazan dan Najran.
Saudi menyebut serangan tersebut menyebabkan 73 warga sipil terluka, termasuk perempuan dan anak-anak.
Dalam forum PBB, perwakilan Saudi menegaskan bahwa kerajaan memiliki hak untuk mempertahankan diri dan melindungi kedaulatan serta keamanan nasionalnya.
Pernyataan tersebut menjadi sinyal bahwa Riyadh sedang membangun dasar politik dan diplomatik untuk menghadapi eskalasi berikutnya.
Pipeline Minyak Saudi Ikut Dihantam Drone
Ancaman terhadap Saudi kemudian melebar ke sektor energi.
Jaringan East-West Pipeline, salah satu jalur minyak strategis Saudi, mengalami serangan drone.
CNN melaporkan berdasarkan informasi pejabat Amerika Serikat dan citra satelit bahwa sejumlah fasilitas di sepanjang jalur tersebut mengalami kerusakan dan kebakaran. Pemerintah Saudi kemudian menutup pipeline tersebut sebagai tindakan pencegahan.
Namun satu hal penting perlu digarisbawahi:
serangan terhadap pipeline tersebut belum dikonfirmasi sebagai serangan Houthi.
Saudi menyatakan drone datang dari wilayah Irak.
Pemerintah Irak kemudian mengakui bahwa serangan tersebut diluncurkan dari wilayahnya dan melakukan penyelidikan. Baghdad bahkan memberhentikan seorang pejabat militer setelah lokasi peluncuran serangan diketahui berada di Provinsi Maysan.
Presiden Donald Trump sendiri mengatakan Iran kemungkinan berada di balik serangan tersebut.
Tetapi pernyataan Trump merupakan penilaian politik dan bukan bukti bahwa Houthi melakukan serangan terhadap pipeline Saudi.
Saudi Pilih Menahan Diri, untuk Sementara
Menariknya, Riyadh belum langsung membalas serangan drone dari wilayah Irak.
Saudi menyatakan memilih memberi kesempatan kepada pemerintah Irak untuk mengambil tindakan terhadap pihak yang menggunakan wilayah Irak untuk melancarkan serangan.

Namun kerajaan juga menegaskan bahwa Saudi tetap memiliki hak untuk mengambil langkah yang dianggap perlu guna melindungi kedaulatan, keamanan dan fasilitas vitalnya.
Sikap tersebut memperlihatkan bahwa Saudi masih mencoba menghindari perang terbuka di banyak front sekaligus.
Tetapi ruang geraknya semakin sempit.
Minyak Dunia Kembali Jadi Taruhan
Jika Bab el-Mandeb terganggu dan jalur alternatif energi Saudi ikut terkena serangan, dampaknya bisa dirasakan oleh pasar minyak dunia.
Reuters memperkirakan gangguan terhadap Bab el-Mandeb dapat memengaruhi hampir 7 persen perdagangan minyak dunia dan sekitar 12 persen perdagangan global yang berkaitan dengan jalur tersebut.
Harga minyak pun telah bergerak menembus level US$100 per barel, meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi dan biaya energi global. AP melaporkan eskalasi di Laut Merah menjadi salah satu faktor yang memperbesar tekanan terhadap pasar energi.
Jika konflik berlanjut dan pelayaran komersial kembali terganggu, biaya pengiriman dan asuransi kapal juga berpotensi meningkat.
Dampaknya bisa terasa sampai ke konsumen di berbagai negara.
Arab Saudi Menghadapi Pilihan Sulit
Riyadh kini menghadapi dilema besar.
Pilihan pertama adalah perang.
Saudi dapat meningkatkan serangan terhadap posisi Houthi dan berusaha merebut kembali wilayah strategis di pesisir Laut Merah.
Namun langkah tersebut berisiko menghidupkan kembali perang Yaman secara penuh.
Pilihan kedua adalah diplomasi.
Tetapi diplomasi menjadi semakin sulit ketika Houthi sudah menguasai titik strategis di sekitar Bab el-Mandeb dan secara terbuka menjadikan kapal Saudi sebagai pengecualian dari jaminan keamanan pelayaran yang mereka klaim.
AP menilai pilihan Saudi semakin terbatas karena serangan militer dapat memperbesar konflik, sementara solusi diplomatik menghadapi tuntutan Houthi dan persoalan keterlibatan Iran.
Iran Ikut Membayangi Konflik
Konflik Saudi-Houthi juga tidak bisa dipisahkan dari persaingan yang lebih luas antara Saudi Arabia dan Iran.
Houthi merupakan kelompok yang didukung Iran dan selama bertahun-tahun menjadi salah satu kekuatan utama yang berhadapan dengan Saudi di Yaman.
Kini, ketika hubungan Iran dengan Amerika Serikat juga berada dalam kondisi sangat tegang, konflik Houthi berpotensi menjadi salah satu front tambahan dalam konflik Timur Tengah.
Reuters menilai kemajuan Houthi menempatkan pemerintahan Trump dalam posisi sulit karena Washington harus memilih antara memperbesar dukungan kepada sekutu regional atau menghindari keterlibatan langsung dalam perang baru.
Apakah Saudi Akan Menyerang Houthi Besar-Besaran?
Inilah pertanyaan yang paling banyak muncul.
Sampai 12 September 2026, belum ada pengumuman resmi yang memastikan Arab Saudi telah memutuskan operasi militer besar-besaran terhadap Houthi dengan jadwal tertentu.
Namun tanda-tanda eskalasi semakin jelas.
Pertama, Houthi berhasil memperluas pengaruhnya di pesisir Laut Merah.
Kedua, posisi mereka semakin dekat dengan Bab el-Mandeb.
Ketiga, Houthi secara terbuka mengecualikan kapal Saudi dari jaminan keamanan pelayaran yang mereka umumkan.
Keempat, serangan terhadap wilayah Saudi telah menyebabkan puluhan warga sipil terluka.
Kelima, MBS dilaporkan meminta Trump untuk menyerang Houthi.
Keenam, Saudi kini menghadapi ancaman terhadap infrastruktur energi strategisnya.
Semua perkembangan itu membuat kemungkinan serangan balasan Saudi yang lebih besar menjadi salah satu skenario yang paling diperhatikan.
Namun, hingga saat ini, belum tepat menyebut bahwa Saudi telah memulai atau mengumumkan perang besar-besaran baru terhadap Houthi.
Bab el-Mandeb Bisa Menjadi Pemicu Ledakan Berikutnya
Yang paling mengkhawatirkan bukan hanya siapa yang menguasai wilayah di Yaman.
Yang dipertaruhkan adalah jalur perdagangan dunia.
Jika Bab el-Mandeb berubah menjadi zona perang terbuka, kapal-kapal dagang dapat kembali menghindari Laut Merah dan memilih rute yang lebih panjang mengelilingi Afrika.
Akibatnya, waktu pengiriman meningkat, biaya logistik membengkak dan harga energi dapat kembali melonjak.
Dalam skenario terburuk, satu konflik di Yaman dapat berubah menjadi krisis ekonomi global.
Timur Tengah Menunggu Langkah Saudi
Untuk saat ini, dunia masih menunggu keputusan Riyadh.
Apakah Saudi akan memilih serangan militer besar untuk menghentikan ekspansi Houthi?
Ataukah kerajaan akan menahan diri sambil mencari dukungan diplomatik dan militer dari Amerika Serikat?
Sementara itu, Houthi terus memperkuat posisi mereka di pesisir Laut Merah.
Dan Bab el-Mandeb kini berada tepat di tengah pusaran konflik.
Satu keputusan dari Riyadh, Washington atau Sana’a dapat menentukan apakah krisis ini berhenti sebagai eskalasi terbatas—atau berubah menjadi perang Timur Tengah dengan dampak global.
Catatan redaksi:
Artikel ini diperbarui berdasarkan perkembangan dan laporan yang tersedia hingga 12 September 2026. Informasi mengenai permintaan MBS kepada Trump untuk menyerang Houthi bersumber dari laporan CNN dan Reuters yang mengutip sumber terkait. Sementara itu, belum ada konfirmasi resmi bahwa Arab Saudi telah menetapkan operasi militer besar-besaran baru terhadap Houthi. Klaim mengenai keterlibatan Iran dalam serangan terhadap pipeline Saudi juga masih perlu dibedakan dari fakta mengenai lokasi peluncuran drone yang menurut Saudi dan Irak berasal dari wilayah Irak.











