NEW DELHI — Dunia tengah menyoroti pertemuan para pemimpin BRICS di New Delhi, India. KTT BRICS ke-18 yang berlangsung 12–13 September 2026 mempertemukan kekuatan ekonomi berkembang dalam situasi geopolitik yang sedang memanas.
Presiden Indonesia Prabowo Subianto, Presiden Rusia Vladimir Putin, Presiden China Xi Jinping, Perdana Menteri India Narendra Modi hingga Presiden Iran Masoud Pezeshkian menjadi sejumlah tokoh utama yang hadir dalam forum tersebut.
BRICS kini beranggotakan 11 negara dan mewakili hampir separuh populasi dunia serta sekitar 40 persen ekonomi global berdasarkan paritas daya beli. Besarnya kekuatan tersebut membuat KTT di New Delhi tidak hanya menjadi forum ekonomi, tetapi juga panggung penting perebutan pengaruh dalam tatanan dunia yang semakin multipolar.
Bukan Sekadar KTT Ekonomi
India sebagai tuan rumah membawa empat prioritas utama dalam kepemimpinan BRICS 2026, yakni ketangguhan, inovasi, kerja sama dan keberlanjutan.
Namun di balik tema tersebut terdapat agenda yang jauh lebih besar.
BRICS ingin mendorong kerja sama perdagangan, investasi, teknologi, energi, rantai pasok, sistem pembayaran dan reformasi lembaga internasional.
Menteri Perdagangan dan Industri India Piyush Goyal menyebut negara-negara BRICS mewakili hampir separuh umat manusia dan sekitar 40 persen PDB dunia. Ia mendorong agar kekuatan ekonomi tersebut diterjemahkan menjadi lapangan kerja, kesejahteraan dan kemakmuran nyata bagi masyarakat.
Artinya, ujian BRICS sekarang bukan lagi sekadar seberapa besar jumlah anggotanya.
Pertanyaan besarnya adalah apakah BRICS mampu menghasilkan kerja sama konkret.
Putin Dorong BRICS Bangun Platform Ekonomi Baru
Salah satu perkembangan paling mencuri perhatian terjadi menjelang KTT.
Presiden Rusia Vladimir Putin bertemu Narendra Modi di New Delhi dan mendorong BRICS agar bergerak menuju platform pertumbuhan ekonomi yang lebih praktis dan tidak terlalu bergantung pada aturan yang didominasi Barat.
Moskow ingin kerja sama BRICS diperkuat melalui teknologi, infrastruktur, sistem pembayaran dan investasi.
Putin juga membahas hubungan bilateral dengan India, termasuk perdagangan, energi, pertahanan dan kerja sama industri.
India dan Rusia bahkan menargetkan peningkatan perdagangan bilateral hingga US$100 miliar pada 2030.
Perkembangan ini membuat isu dedolarisasi dan sistem pembayaran alternatif kembali menjadi sorotan.
Tetapi ada satu hal yang perlu digarisbawahi.
BRICS belum sepakat menciptakan mata uang bersama untuk menggantikan dolar AS.
Yang lebih realistis saat ini adalah pengembangan mekanisme pembayaran lintas negara dan kerja sama finansial agar transaksi antaranggota semakin mudah dan tidak terlalu bergantung pada sistem tertentu.
Modi dan Xi Jinping Jadi Pertemuan yang Ditunggu Dunia
Jika ada satu pertemuan bilateral yang paling menarik perhatian, maka Modi–Xi Jinping berada di urutan teratas.
Hubungan India dan China sempat memburuk setelah bentrokan berdarah di kawasan Galwan pada 2020.
Namun beberapa tahun terakhir terjadi proses pencairan hubungan. Kesepakatan pelepasan pasukan dicapai pada 2024 dan hubungan perdagangan serta konektivitas perlahan kembali meningkat.
China bahkan menjadi sumber impor terbesar India pada tahun fiskal 2025/2026 dengan nilai sekitar US$132 miliar. Meski demikian, kedua negara masih mempertahankan kekuatan militer yang besar di sepanjang wilayah perbatasan yang disengketakan.
Karena itu, pertemuan Modi dan Xi di New Delhi bukan sekadar agenda diplomatik.
Pertemuan tersebut dapat menjadi indikator apakah hubungan dua raksasa Asia itu benar-benar memasuki fase baru atau hanya mengalami pencairan sementara.
Prabowo Bawa Indonesia ke Tengah Panggung BRICS
Kehadiran Presiden Prabowo Subianto menjadi perkembangan penting bagi Indonesia.
Indonesia kini merupakan salah satu dari 11 anggota BRICS, bersama Brasil, Rusia, India, China, Afrika Selatan, Mesir, Ethiopia, Iran, Arab Saudi dan Uni Emirat Arab.
Bagi Jakarta, keanggotaan BRICS membuka peluang memperluas kerja sama ekonomi dengan negara-negara yang memiliki pasar besar.
Indonesia dapat mendorong kerja sama di sektor perdagangan, investasi, energi, pangan, teknologi, mineral kritis dan keuangan.
Duta Besar India untuk Indonesia Sandeep Chakravorty sebelumnya mengatakan agenda BRICS 2026 memiliki keselarasan yang semakin kuat dengan agenda bilateral Indonesia dan India.
Posisi Indonesia juga menarik karena Jakarta selama ini berupaya menjaga hubungan dengan berbagai kekuatan dunia.
Indonesia dapat menggunakan BRICS sebagai salah satu instrumen untuk memperbesar ruang diplomasi dan ekonomi tanpa harus terjebak dalam persaingan blok kekuatan besar.
Perang Ukraina dan Konflik Timur Tengah Bayangi KTT
KTT BRICS kali ini berlangsung ketika perang dan konflik bersenjata masih membayangi dunia.
Perang Rusia-Ukraina menjadi salah satu isu besar.
Konflik di Timur Tengah juga ikut memberi tekanan terhadap agenda BRICS, terutama karena Iran merupakan salah satu anggota kelompok tersebut.
Situasi ini membuat negara-negara BRICS harus menghadapi pertanyaan sulit: bisakah mereka mencapai konsensus meski memiliki kepentingan geopolitik yang berbeda?
AP mencatat perang Ukraina, konflik Timur Tengah dan ketegangan Amerika Serikat-China berpotensi memperlebar perbedaan internal BRICS.
India sendiri harus memainkan diplomasi yang sangat hati-hati.
New Delhi tetap mempertahankan hubungan strategis dengan Rusia, memiliki hubungan penting dengan Amerika Serikat dan negara-negara Barat, sekaligus berusaha memperbaiki hubungan dengan China.
Reformasi Tata Kelola Global Jadi Agenda Besar
Selain ekonomi, BRICS juga ingin mendorong perubahan dalam tata kelola global.
Salah satu isu yang mencuat adalah reformasi lembaga-lembaga internasional dan penguatan multilateralisme.
Indian Express melaporkan bahwa deklarasi pemimpin BRICS diperkirakan memuat sikap bersama mengenai pemberantasan terorisme, reformasi institusi tata kelola global dan penguatan multilateralisme.
Jika terealisasi, agenda tersebut akan membuat BRICS semakin terlihat sebagai kelompok yang tidak hanya berbicara mengenai perdagangan.
BRICS sedang mencoba membangun posisi sebagai salah satu suara utama Global South.
Tapi BRICS Punya Masalah Besar: Perbedaan Internal
Di balik kekuatan ekonomi dan jumlah penduduk yang besar, BRICS menghadapi persoalan yang tidak sederhana.
China dan India merupakan dua kekuatan besar dengan kepentingan strategis yang sering berseberangan.
Rusia menghadapi tekanan dan sanksi Barat.
Iran memiliki persoalan geopolitik di Timur Tengah.
Sementara negara-negara seperti Arab Saudi dan Uni Emirat Arab mempunyai kepentingan ekonomi serta hubungan internasional yang berbeda.
Financial Times menilai ekspansi BRICS memang meningkatkan pengaruh kelompok tersebut, tetapi perbedaan kepentingan internal juga dapat menghambat kemampuan mereka bergerak sebagai satu kesatuan.
Inilah ujian terbesar BRICS.
Besar secara angka belum tentu kuat secara politik.
Apakah BRICS Bisa Mengubah Peta Dunia?
KTT New Delhi menjadi momentum penting untuk melihat masa depan BRICS.
Jika negara-negara anggota mampu memperkuat perdagangan, investasi, sistem pembayaran, teknologi, energi dan kerja sama pembangunan, BRICS berpotensi menjadi salah satu pusat kekuatan ekonomi dunia.
Namun jika perbedaan kepentingan semakin besar, BRICS berisiko menjadi forum yang kuat secara statistik tetapi sulit menghasilkan keputusan strategis bersama.
Karena itu, dunia kini tidak hanya menunggu apa yang akan dikatakan para pemimpin BRICS.
Dunia menunggu apakah mereka mampu menghasilkan sesuatu yang benar-benar mengubah hubungan ekonomi global.
Bagi Indonesia, momentum tersebut juga sangat penting.
Kehadiran Prabowo di New Delhi menempatkan Indonesia di tengah salah satu forum negara berkembang paling berpengaruh di dunia.
Dan dari sinilah pertanyaan besar muncul:
Apakah BRICS sedang membangun alternatif baru bagi tatanan ekonomi dunia, atau hanya memperbesar forum tanpa kekuatan politik yang benar-benar solid?
Jawabannya akan mulai terlihat dari hasil KTT BRICS ke-18 di New Delhi.
Sumber: Reuters, Associated Press, Financial Times, Indian Express, Pemerintah India, ANTARA dan sumber resmi BRICS 2026.











