PARAGRAFNEWS.CO — Harga minyak dunia kembali meledak di tengah memburuknya situasi keamanan di Timur Tengah. Harga minyak mentah Brent menembus US$108 per barel pada Senin, 14 September 2026, setelah serangan terhadap infrastruktur energi Arab Saudi dan meningkatnya ancaman terhadap jalur pelayaran strategis di kawasan.
Reuters mencatat harga Brent sempat berada di sekitar US$107,81 per barel, naik sekitar 3 persen. Minyak mentah Amerika Serikat atau West Texas Intermediate (WTI) juga melonjak hingga sekitar US$102,94 per barel.
Kenaikan tersebut bukan sekadar reaksi terhadap satu serangan.
Pasar energi kini menghadapi kombinasi gangguan: East-West Pipeline milik Saudi Arabia mengalami kerusakan dan ditutup, sementara kelompok Houthi yang didukung Iran semakin mendekati Bab el-Mandeb, salah satu jalur laut paling penting bagi perdagangan dan pengiriman energi dunia.
Pipa Minyak Saudi Jadi Titik Panas Baru
East-West Pipeline merupakan jalur strategis Saudi Arabia yang menghubungkan ladang-ladang minyak di wilayah timur dengan fasilitas ekspor di kawasan Laut Merah.

Keberadaan pipa tersebut sangat penting karena memungkinkan Saudi Arabia mengirim minyak tanpa harus melewati Selat Hormuz, jalur sempit yang selama ini menjadi salah satu titik paling sensitif dalam perdagangan minyak dunia.
Namun, fasilitas tersebut mengalami serangan drone.
Menurut laporan AP, serangan terhadap pipeline dikaitkan dengan kelompok bersenjata yang berbasis di Irak. Kerusakan tersebut membuat sebagian besar jalur pipa diperkirakan tidak dapat beroperasi selama sekitar tiga hingga lima minggu, dengan kapasitas yang terdampak mencapai sekitar 7 juta barel per hari.
Saudi Arabia kemudian menutup jalur tersebut sebagai langkah keamanan.
Situasi ini langsung membuat pasar bertanya:
Jika jalur alternatif Saudi menuju Laut Merah saja terganggu, dari mana pasokan minyak berikutnya akan datang?
Bukan Hanya Pipa, Bab el-Mandeb Juga Terancam
Di saat yang hampir bersamaan, situasi di Yaman bergerak semakin berbahaya.
Kelompok Houthi yang didukung Iran dilaporkan telah mencapai Pulau Perim, sebuah pulau strategis di Selat Bab el-Mandeb.
Reuters melaporkan perkembangan tersebut berdasarkan keterangan sejumlah sumber pemerintah Yaman. Perim berada di titik yang sangat strategis karena menghadap jalur sempit yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden.
Houthi juga dilaporkan bergerak menuju Dhubab, wilayah Yaman yang berada tepat di sisi lain Bab el-Mandeb dari Pulau Perim.
Penguasaan atau kemampuan mengancam kedua titik tersebut dapat memberi Houthi posisi yang jauh lebih kuat untuk mengganggu lalu lintas kapal yang melewati pintu masuk Laut Merah.
Reuters menyebut kemajuan Houthi di kawasan tersebut berpotensi memberi Iran pengaruh terhadap dua koridor utama pengiriman minyak di kawasan.
Kenapa Dunia Panik?
Masalahnya sederhana tetapi dampaknya sangat besar.
Minyak dunia bergantung pada jalur distribusi yang melewati kawasan Timur Tengah.
Jika satu jalur terganggu, kapal masih bisa mencari rute alternatif.
Tetapi jika beberapa jalur sekaligus berada dalam ancaman, biaya pengiriman meningkat dan perusahaan minyak mulai menghitung ulang risiko.
Situasi inilah yang sekarang membuat harga minyak kembali menembus US$100.
Reuters melaporkan harga Brent naik lebih dari 3 persen pada Senin, sementara kekhawatiran terhadap keamanan pengiriman minyak terus meningkat. Tarif kapal tanker juga ikut terdorong karena risiko pelayaran semakin tinggi.
East-West Pipeline: Jalur Alternatif yang Kini Ikut Terganggu
East-West Pipeline sebelumnya dianggap sebagai salah satu kartu penting Saudi Arabia untuk menghadapi risiko di Selat Hormuz.
Minyak dari wilayah produksi di bagian timur Saudi dapat dialihkan menuju pelabuhan di Laut Merah.
Dengan cara tersebut, Saudi Arabia memiliki pilihan untuk tidak sepenuhnya bergantung pada Hormuz.
Namun, ketika East-West Pipeline mengalami serangan dan harus dihentikan, pilihan tersebut ikut menyempit.
AP memperkirakan gangguan terhadap jalur tersebut dapat berlangsung beberapa pekan. Jika berlangsung lebih lama dari perkiraan, dampaknya terhadap pasar minyak global bisa semakin besar.
Reuters juga melaporkan bahwa kapasitas East-West Pipeline sebelumnya sangat besar, sementara gangguan terhadap fasilitas tersebut meningkatkan kekhawatiran mengenai berkurangnya pasokan minyak yang dapat bergerak menuju pasar internasional.
Houthi Bukan Satu-Satunya Persoalan
Ada hal penting yang perlu diluruskan.
Narasi bahwa “Houthi menyerang East-West Pipeline Saudi” tidak sepenuhnya menggambarkan informasi terbaru yang tersedia.
Serangan drone yang menyebabkan kerusakan pada pipeline tersebut dilaporkan berasal dari wilayah Irak dan dikaitkan dengan kelompok bersenjata yang memiliki hubungan dengan jaringan milisi regional.
Sementara itu, Houthi menghadirkan ancaman berbeda melalui perkembangan militernya di Yaman dan kawasan Bab el-Mandeb.
Namun, kedua peristiwa tersebut terjadi dalam konflik regional yang sama dan sama-sama meningkatkan risiko terhadap jalur energi global. AP juga melaporkan adanya koordinasi serangan antara Houthi dan milisi Irak terhadap fasilitas minyak Saudi, meski rincian tanggung jawab masing-masing serangan masih menjadi persoalan yang berkembang.
Harga Minyak Bisa Naik Lebih Tinggi?
Pertanyaan berikutnya mulai muncul di pasar:
Apakah minyak akan menembus US$110 bahkan US$120 per barel?
Belum ada kepastian.
Namun, semakin lama gangguan berlangsung, semakin besar risiko kenaikan harga.
Pasar minyak tidak hanya menghitung jumlah barel yang hilang hari ini. Trader juga memperhitungkan risiko pasokan beberapa minggu atau beberapa bulan ke depan.
Jika East-West Pipeline tidak segera kembali normal dan ancaman terhadap Bab el-Mandeb semakin besar, premi risiko minyak dapat terus meningkat.
Reuters bahkan menggambarkan pasar saat ini sebagai fase konflik yang semakin panjang, dengan gangguan terhadap infrastruktur energi dan jalur pelayaran membuat kemampuan pasar menyerap guncangan semakin terbatas.
Dampaknya Bisa Sampai ke Indonesia
Kenaikan harga minyak dunia tidak berhenti di pasar internasional.
Jika harga minyak bertahan tinggi, biaya pengadaan energi dan produk turunannya berpotensi ikut meningkat.
Efek berantainya dapat terasa pada:
- harga bahan bakar;
- biaya transportasi;
- ongkos logistik;
- harga tiket dan angkutan;
- biaya produksi industri;
- harga barang kebutuhan;
- inflasi;
- hingga tekanan terhadap kebijakan suku bunga.
Bagi negara seperti Indonesia, perkembangan harga minyak global menjadi penting karena energi merupakan bagian besar dari aktivitas ekonomi.
Kenaikan harga minyak juga dapat memengaruhi nilai tukar dan neraca perdagangan melalui perubahan nilai impor energi.
Namun, dampak terhadap harga BBM di Indonesia tidak otomatis terjadi dalam besaran yang sama dengan kenaikan harga minyak dunia. Pemerintah masih memiliki berbagai instrumen kebijakan, termasuk kebijakan harga, subsidi, kompensasi dan pengelolaan pasokan.
Dunia Kini Menghadapi Krisis Energi yang Berlapis
Yang membuat kondisi kali ini berbeda adalah banyaknya titik tekanan yang muncul secara bersamaan.
Selat Hormuz bermasalah.
East-West Pipeline Saudi terganggu.
Bab el-Mandeb semakin terancam.
Dan konflik di kawasan terus berkembang.
Reuters mencatat bahwa gangguan tersebut telah mendorong harga minyak kembali di atas US$100 dan meningkatkan biaya pengiriman energi.
Jika situasi tidak segera mereda, persoalannya tidak lagi sekadar tentang harga minyak.
Ini dapat berubah menjadi persoalan inflasi global, biaya transportasi, keamanan energi, perdagangan internasional dan stabilitas ekonomi dunia.
Minyak Dunia Menunggu Satu Hal
Pasar sekarang menunggu dua perkembangan utama.
Pertama, seberapa cepat Saudi Arabia dapat memulihkan East-West Pipeline.
Kedua, seberapa jauh Houthi mampu memperluas kendali atau ancaman terhadap Bab el-Mandeb.
Dua pertanyaan tersebut akan sangat menentukan arah harga minyak dalam beberapa hari dan pekan mendatang.
Untuk sementara, angka di layar perdagangan sudah memberikan peringatan keras:
Minyak Brent kembali menembus US$108 per barel.
Dan jika gangguan energi Timur Tengah semakin meluas, angka tersebut belum tentu menjadi batas atas.
Paragrafnews.co akan terus memantau perkembangan harga minyak, keamanan jalur pelayaran Timur Tengah, serta dampaknya terhadap ekonomi global dan Indonesia.
Sumber: Reuters, Associated Press (AP), Al Jazeera, The Guardian.











