Internasional

Trump Buka Pembicaraan Denuklirisasi dengan Rusia dan China, Dunia Menanti Kesepakatan Nuklir Baru

×

Trump Buka Pembicaraan Denuklirisasi dengan Rusia dan China, Dunia Menanti Kesepakatan Nuklir Baru

Sebarkan artikel ini

Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan Washington tengah berbicara dengan Rusia dan China mengenai denuklirisasi. Pernyataan ini muncul setelah berakhirnya perjanjian pengendalian senjata nuklir New START antara AS dan Rusia, di tengah kekhawatiran terhadap persaingan persenjataan nuklir global.

PARAGRAFNEWS.CO – Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan pemerintahannya sedang membahas upaya denuklirisasi dengan Rusia dan China. Pernyataan tersebut membuka perhatian baru terhadap kemungkinan kerja sama tiga negara berkekuatan nuklir terbesar di dunia untuk mengendalikan ancaman senjata pemusnah massal.

Dilansir dari Reuters, Jumat (16/10/2026), Trump menyampaikan bahwa Washington tengah berbicara dengan Moskow dan Beijing mengenai denuklirisasi. Pernyataan itu disampaikan sehari sebelumnya, Kamis (15/10/2026), ketika ia berbicara kepada media Newsmax.

baca juga: Iran Klaim Ranjau Laut Tenggelamkan Kapal Kargo di Selat Hormuz, Muatan iPhone Jadi Sorotan

Trump mengatakan dirinya ingin melihat pengurangan senjata nuklir apabila hal tersebut memungkinkan. Namun, belum ada rincian mengenai mekanisme, jadwal, maupun kesepakatan konkret yang dihasilkan dari pembicaraan tersebut.

Pernyataan itu menjadi sorotan karena muncul ketika sistem pengendalian senjata nuklir antara negara-negara besar menghadapi tantangan serius. Berakhirnya perjanjian New START pada Februari 2026 telah menghilangkan salah satu kerangka utama yang sebelumnya membatasi persenjataan nuklir strategis Amerika Serikat dan Rusia.

New START Berakhir, Pengendalian Senjata Nuklir Jadi Sorotan

Perjanjian New START ditandatangani Amerika Serikat dan Rusia pada 2010. Perjanjian tersebut membatasi jumlah hulu ledak nuklir strategis yang dikerahkan serta sistem peluncur yang dimiliki kedua negara.

Berdasarkan ketentuan perjanjian, masing-masing negara dibatasi hingga 1.550 hulu ledak nuklir strategis yang dikerahkan, serta 700 sistem peluncur dan pembom berat yang dikerahkan. Perjanjian tersebut juga menyediakan mekanisme verifikasi dan pertukaran informasi untuk meningkatkan transparansi di antara kedua pihak.

Namun, New START resmi berakhir pada 5 Februari 2026 tanpa pengganti yang telah disepakati kedua negara.

Berakhirnya perjanjian tersebut menimbulkan kekhawatiran karena Amerika Serikat dan Rusia memiliki persenjataan nuklir terbesar di dunia. Tanpa kerangka pembatasan yang sama, pengawasan terhadap perkembangan persenjataan strategis kedua negara menghadapi tantangan lebih besar.

Trump sebelumnya menginginkan kesepakatan baru yang juga melibatkan China. Washington menilai keterlibatan Beijing penting karena persenjataan nuklir China terus berkembang.

China Jadi Faktor Penting dalam Kesepakatan Baru

Keterlibatan China menjadi salah satu tantangan utama dalam upaya membangun kerangka pengendalian senjata nuklir yang baru.

Beijing selama ini menolak bergabung dengan perundingan trilateral yang menempatkannya dalam kerangka pembatasan serupa dengan Amerika Serikat dan Rusia. China beralasan persenjataan nuklirnya masih jauh lebih kecil dibandingkan kedua negara tersebut.

baca juga: Laut Hitam Mencekam! Serangan Drone Hantam Kapal Kargo, 2 Tewas dan 25 Awak Hilang

Menurut laporan Reuters, China juga menilai pembicaraan pengendalian senjata harus mempertimbangkan perbedaan skala persenjataan masing-masing negara.

Data dari Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI) menunjukkan bahwa Amerika Serikat dan Rusia masih mendominasi persediaan hulu ledak nuklir global. Sementara itu, China terus memperluas dan memodernisasi kemampuan nuklirnya dalam beberapa tahun terakhir.

Kondisi tersebut membuat upaya mencapai kesepakatan tiga negara tidak sederhana. Selain membahas jumlah hulu ledak, perundingan juga berpotensi menyentuh sistem peluncuran, transparansi, mekanisme verifikasi, dan kepentingan keamanan nasional masing-masing negara.

Akankah Pembicaraan Mengurangi Ancaman Nuklir?

Pernyataan Trump belum memastikan bahwa ketiga negara telah memasuki perundingan formal yang menghasilkan komitmen pengurangan persenjataan. Belum ada pula rincian mengenai target pengurangan, tahapan pelaksanaan, maupun mekanisme pengawasan yang disepakati bersama.

Meski demikian, komunikasi antara Washington, Moskow, dan Beijing dapat menjadi langkah awal untuk membuka ruang diplomasi mengenai risiko nuklir.

Pengendalian senjata nuklir tidak hanya berkaitan dengan jumlah hulu ledak, tetapi juga menyangkut pencegahan salah perhitungan militer, peningkatan transparansi, serta pengurangan risiko konflik yang berpotensi melibatkan senjata pemusnah massal.

Tanpa kesepakatan yang dapat diverifikasi, pernyataan politik saja belum cukup untuk menjamin penurunan ancaman nuklir. Keberhasilan upaya denuklirisasi akan bergantung pada kesediaan ketiga negara untuk membangun komitmen yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan.

Kini, perhatian internasional tertuju pada langkah lanjutan pemerintahan Trump serta respons resmi Rusia dan China. Jika pembicaraan tersebut berkembang menjadi perundingan konkret, hasilnya dapat menentukan arah pengendalian senjata nuklir dunia setelah berakhirnya New START.

Sumber: Reuters, Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI), dan informasi resmi mengenai perjanjian New START dari Departemen Luar Negeri Amerika Serikat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *