JAKARTA — Rocky Gerung kini memasuki fase baru dalam perjalanan publiknya.
Pada Jumat, 2 Oktober 2026, Presiden Prabowo Subianto melantiknya sebagai salah satu anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres). Rocky menjadi bagian dari 26 tokoh yang masuk dalam susunan Wantimpres baru.
Pelantikan itu menarik perhatian bukan semata karena jabatan baru yang diterimanya.
artikel terkait: Daftar Lengkap 26 Wantimpres Prabowo yang Dilantik: Ada Rocky Gerung, Quraish Shihab hingga Ignasius Jonan
Ada perjalanan panjang sebelum nama Rocky berada di Istana.
Ia pernah berada di lingkungan akademik, mengajar filsafat, terlibat dalam isu demokrasi dan hak asasi manusia, bersinggungan dengan aktivitas politik, kemudian berkembang menjadi figur intelektual publik yang dikenal melalui diskusi dan komentar mengenai politik Indonesia.
Kini, posisi tersebut berubah.
Rocky yang selama bertahun-tahun menyampaikan pandangan politik dari luar struktur pemerintahan telah masuk ke sebuah lembaga yang memberikan nasihat dan pertimbangan kepada Presiden.
Perubahan itulah yang membuat profil Rocky Gerung menjadi relevan untuk dilihat bukan hanya dari jabatan barunya, tetapi dari perjalanan gagasan yang membentuk dirinya.
Rocky Gerung, Pria Kelahiran Manado yang Menekuni Filsafat
Rocky Gerung lahir di Manado, Sulawesi Utara, pada 20 Januari 1959.
Ia kemudian menempuh pendidikan tinggi di Universitas Indonesia (UI) dan menyelesaikan pendidikan di bidang Ilmu Filsafat pada 1986. Setelah lulus, Rocky kembali berada di lingkungan akademik UI sebagai dosen tidak tetap di Departemen Ilmu Filsafat.
Di kampus, bidang yang diajarkannya antara lain filsafat politik, teori keadilan dan metode penelitian filsafat.
Ia mengajar di UI selama sekitar 15 tahun sebelum berhenti mengajar pada awal 2015. Sejumlah laporan menyebut persoalan kualifikasi pendidikan dosen menjadi salah satu konteks berhentinya Rocky dari kegiatan mengajar tersebut.
Mengapa filsafat penting dalam perjalanan Rocky?
Karena filsafat bukan sekadar bagian dari riwayat pendidikannya.
Filsafat menjadi salah satu cara Rocky membaca persoalan publik.
Dalam berbagai penampilannya, ia kerap tidak berhenti pada pertanyaan tentang apa yang terjadi, tetapi membawa pembicaraan kepada pertanyaan yang lebih mendasar: bagaimana kekuasaan bekerja, bagaimana suatu kebijakan seharusnya dinilai, apa hubungan negara dengan warga, serta bagaimana konsep kebebasan dan keadilan ditempatkan dalam kehidupan politik.
Dengan latar tersebut, Rocky kemudian berkembang bukan hanya sebagai pengajar filsafat, tetapi sebagai intelektual publik.
Bukan Hanya Ruang Kampus
Perjalanan Rocky kemudian bergerak keluar dari lingkungan perguruan tinggi.
Ia terlibat dalam berbagai aktivitas yang berkaitan dengan demokrasi, hak asasi manusia dan masyarakat sipil.
Salah satu titik pentingnya adalah keterlibatan dalam pendirian SETARA Institute pada 2005.
Data resmi SETARA mencatat Rocky Gerung sebagai salah satu tokoh yang termasuk dalam kelompok pendiri organisasi tersebut. SETARA sendiri lahir sebagai organisasi penelitian dan advokasi kebijakan dengan perhatian pada demokrasi, pluralisme, kemanusiaan dan hak asasi manusia.
RRI juga mencatat keterlibatan Rocky sebagai salah satu pendiri SETARA Institute dalam perjalanan profesionalnya.
Dari filsafat ke persoalan masyarakat
Perpindahan dari kampus ke aktivitas masyarakat sipil memperluas ruang kerja intelektual Rocky.
Jika filsafat memberikan perangkat untuk membedah konsep, aktivitas masyarakat sipil mempertemukannya dengan persoalan konkret seperti demokrasi, kebebasan dan hak warga negara.
Dua ruang tersebut kemudian menjadi bagian dari perjalanan publik Rocky.
Fakta: Rocky memiliki latar akademik filsafat dan terlibat dalam pendirian SETARA Institute.
Analisis: kombinasi pengalaman akademik dan aktivisme tersebut ikut menjelaskan mengapa Rocky kemudian dikenal sebagai intelektual yang banyak berbicara mengenai politik, demokrasi dan kekuasaan.
Pernah Bersinggungan dengan Politik Praktis
Meski kemudian lebih dikenal sebagai pengamat dan intelektual publik, perjalanan Rocky juga memiliki persinggungan dengan politik organisasi.
RRI mencatat Rocky pernah terlibat dalam pendirian Partai Indonesia Baru (PIB) dan kemudian memiliki keterlibatan dengan Partai Serikat Rakyat Independen (SRI).
Kumparan juga mencatat keterlibatan Rocky dalam kedua organisasi politik tersebut.
Hal ini menunjukkan bahwa hubungan Rocky dengan dunia politik bukan sesuatu yang baru muncul ketika ia masuk Wantimpres pada 2026.
Namun ada perbedaan penting.
Keterlibatan dalam aktivitas politik pada masa lalu tidak otomatis berarti Rocky merupakan politikus karier.
Sebagian besar identitas publik Rocky justru terbentuk melalui kegiatan intelektual, pendidikan, penelitian, diskusi dan komentar politik.
Karena itu, lebih tepat melihat pengalaman politik tersebut sebagai salah satu bagian dari perjalanan Rocky, bukan sebagai keseluruhan identitasnya.
Rocky dan Ruang Pendidikan Nonformal
Selain kampus dan organisasi masyarakat sipil, Rocky juga tercatat terlibat dalam sejumlah kegiatan pendidikan dan forum pemikiran di luar perguruan tinggi.
Kumparan mencatat Rocky pernah mengajar di Lemhannas, memberikan materi kepada perwira TNI dan Polri, serta terlibat dalam kegiatan pendidikan di Megawati Institute. Ia juga pernah mengetuai Sekolah Ilmu Sosial (SIS), sebuah lembaga pendidikan nonformal yang membahas persoalan sosial secara interdisipliner.
Bagian ini menarik karena menunjukkan bahwa ruang diskusi Rocky tidak hanya berada di lingkungan akademik.
Ia juga bersinggungan dengan kelompok yang memiliki hubungan langsung dengan negara, keamanan, politik dan masyarakat sipil.
Dengan kata lain, perjalanan Rocky mempertemukannya dengan berbagai ruang yang berbeda:
kampus → masyarakat sipil → aktivitas politik → forum publik → kini Wantimpres.
Dari Pengajar Menjadi Figur Publik
Popularitas Rocky akhirnya berkembang jauh melampaui lingkungan akademik.
Namanya semakin sering muncul dalam diskusi politik, wawancara media, seminar dan forum publik.
Ia dikenal dengan gaya argumentasi yang menggunakan istilah filsafat dan kritik terhadap konsep-konsep politik.
Dalam proses tersebut, Rocky tidak lagi hanya dikenal oleh mahasiswa atau kalangan akademisi.
Ia menjadi salah satu figur yang sering dicari ketika media atau publik membutuhkan komentar mengenai persoalan politik dan pemerintahan.
Di sinilah identitas Rocky Gerung sebagai intelektual publik semakin kuat.
Ia tidak memegang jabatan pemerintahan, tetapi pandangannya ikut membentuk percakapan publik mengenai berbagai persoalan politik.
Mengapa Kritik Menjadi Bagian dari Identitas Rocky?
Rocky kemudian dikenal luas sebagai salah satu figur yang kritis terhadap kekuasaan.
Pernyataan-pernyataannya mengenai pemerintah, kebijakan publik dan politik sering mendapatkan perhatian media.
Namun istilah “kritis” perlu dibedakan dari label politik tertentu.
Tidak semua kritik terhadap pemerintah otomatis berarti seseorang merupakan oposisi formal.
Rocky sendiri lebih sering hadir sebagai pengamat dan intelektual publik daripada sebagai pemegang jabatan formal dalam struktur pemerintahan.
Karena itu, secara jurnalistik lebih presisi menyebutnya sebagai figur publik yang dikenal kritis terhadap kebijakan dan kekuasaan, daripada memberikan label kelembagaan yang tidak didukung fakta.
Perubahan Besar Terjadi pada 2 Oktober 2026
Perjalanan tersebut kemudian mencapai titik baru.
Presiden Prabowo Subianto melantik Rocky Gerung sebagai anggota Wantimpres di Istana Negara, Jumat, 2 Oktober 2026.
Secara formal, Rocky kini berada di dalam lembaga negara yang memberikan nasihat dan pertimbangan kepada Presiden.
Inilah yang membuat jabatan tersebut berbeda dengan seluruh fase sebelumnya.
Rocky tidak lagi hanya menyampaikan gagasan sebagai akademisi atau komentator.
Ia sekarang memiliki posisi kelembagaan dalam struktur Wantimpres.
Rocky: “Saya Cuma Pindah dari Luar ke Dalam”
Setelah pelantikan, Rocky memberikan penjelasan mengenai perubahan tersebut.
Ia mengatakan dirinya “cuma pindah dari luar ke dalam” dan menyatakan sikap serta pandangannya tetap dipertahankan. Rocky bahkan menyebut istilah radical break ketika menjelaskan sikapnya setelah masuk Wantimpres.
Pernyataan itu penting karena datang langsung dari Rocky.
Tetapi secara jurnalistik, kalimat tersebut tetap harus ditempatkan sebagai pernyataan Rocky mengenai dirinya sendiri.
Belum ada dasar untuk menyimpulkan bahwa ia akan selalu berbeda dengan pemerintah.
Sebaliknya, belum ada dasar pula untuk mengatakan bahwa masuknya ia ke Wantimpres berarti seluruh kritiknya telah berubah.
Kedua kesimpulan tersebut baru bisa diuji melalui rekam kerja setelah ia menjalankan jabatan.
Rocky Menjelaskan Fungsi Wantimpres
Setelah pelantikan, Rocky juga menjelaskan bagaimana ia memahami tugas barunya.
Menurut Rocky, Wantimpres harus bersikap kritis terhadap kebijakan, bukan sekadar melakukan kritik.
Ia menjelaskan bahwa sebuah kebijakan dapat menimbulkan persepsi berbeda di tengah masyarakat. Karena itu, Wantimpres perlu melihat persoalan secara lebih mendalam dan memberikan pertimbangan kepada Presiden.
Rocky menyebut fungsi tersebut berada pada wilayah etis, bukan teknis.
Ia juga mengatakan tugas Wantimpres adalah memberikan pertimbangan, sedangkan keputusan akhir berada pada Presiden.
Dalam penjelasan lainnya, Rocky mengatakan Presiden Prabowo meminta Wantimpres memperhatikan ekses kebijakan dan memberikan pertimbangan mengenai arah kebijakan agar sesuai dengan visi Presiden.
Rocky juga menyebut Wantimpres dapat memonitor situasi politik dan kebudayaan serta mengawasi, memantau dan mengevaluasi program pemerintah.
Di Sinilah Posisi Rocky Menjadi Unik
Perubahan posisi Rocky dapat dilihat dari dua sisi.
Fakta
Sebelum dilantik, Rocky dikenal sebagai akademisi, aktivis, pengamat dan intelektual publik yang berada di luar struktur pemerintahan.
Fakta
Setelah 2 Oktober 2026, ia menjadi anggota Wantimpres.
Analisis
Perubahan tersebut menciptakan perubahan saluran bagi Rocky untuk menyampaikan pandangan.
Jika sebelumnya gagasan disampaikan melalui media, forum diskusi atau ruang publik, kini ia memiliki forum kelembagaan untuk memberikan pertimbangan kepada Presiden.
Namun, perubahan saluran tersebut tidak otomatis membuktikan perubahan ideologi atau pandangan politik.
Itulah sebabnya fase setelah pelantikan menjadi bagian yang paling menarik untuk diamati.
Bukan Soal “Masuk Istana” Saja
Membaca perjalanan Rocky hanya sebagai cerita “pengkritik masuk Istana” sebenarnya terlalu sederhana.
Ada perjalanan intelektual yang lebih panjang di belakangnya.
Ia tumbuh dari lingkungan filsafat.
Kemudian mengajar.
Berinteraksi dengan isu demokrasi dan HAM.
Terlibat dalam masyarakat sipil.
Memiliki pengalaman bersinggungan dengan aktivitas politik.
Kemudian menjadi figur publik yang dikenal melalui analisis politik.
Dan akhirnya masuk ke lembaga pertimbangan Presiden.
Jika seluruh perjalanan tersebut disusun sebagai satu garis, maka jabatan Wantimpres merupakan fase baru, bukan titik awal keterlibatan Rocky dalam persoalan negara.
Apa yang Belum Bisa Dijawab?
Ada sejumlah pertanyaan yang muncul setelah Rocky masuk Wantimpres.
Apakah ia akan menyampaikan pertimbangan yang berbeda dengan pemerintah ketika menemukan persoalan dalam sebuah kebijakan?
Bagaimana pandangan filsafat politik yang selama ini ia sampaikan diterapkan dalam ruang kelembagaan?
Apakah gaya kritiknya akan berubah ketika ia berbicara sebagai anggota Wantimpres?
Dan sejauh mana pertimbangan yang diberikan Wantimpres menjadi bagian dari proses kebijakan Presiden?
Untuk saat ini, pertanyaan tersebut belum memiliki jawaban faktual.
Pelantikan baru terjadi pada 2 Oktober 2026.
Karena itu, jawaban paling akurat bukanlah memprediksi perilaku Rocky, melainkan menunggu rekam kerja dan pernyataan resmi setelah ia menjalankan tugas.
FAKTA vs ANALISIS
Agar profil ini tidak berubah menjadi opini, berikut batas yang perlu diperhatikan.
| Fakta | Analisis |
|---|---|
| Rocky lahir di Manado pada 20 Januari 1959 | Latar kelahiran tersebut menjadi bagian dari perjalanan awal kehidupannya |
| Rocky menempuh dan menyelesaikan pendidikan filsafat di UI | Filsafat menjadi salah satu fondasi cara berpikir publik Rocky |
| Ia pernah mengajar di UI | Pengalaman akademik ikut membentuk identitas intelektualnya |
| Rocky tercatat sebagai salah satu pendiri SETARA Institute | Aktivisme masyarakat sipil menjadi salah satu fase perjalanan Rocky |
| Ia pernah bersinggungan dengan aktivitas politik | Politik bukan bidang yang sama sekali baru bagi Rocky |
| Ia dikenal luas sebagai intelektual publik dan komentator politik | Popularitas publiknya berkembang di luar lingkungan akademik |
| Prabowo melantiknya sebagai anggota Wantimpres | Jabatan tersebut mengubah posisi kelembagaannya |
| Rocky menyatakan tetap kritis | Apakah sikap itu konsisten dalam praktik masih harus dilihat |
| Rocky mengatakan “pindah dari luar ke dalam” | Kalimat tersebut menggambarkan cara Rocky sendiri melihat perubahan posisinya |
Rocky Gerung Sekarang
Ada satu perubahan yang paling jelas dalam perjalanan Rocky Gerung.
Dulu ia memberikan pandangan tentang kekuasaan dari luar struktur pemerintahan.
Sekarang ia memberikan pertimbangan sebagai bagian dari lembaga resmi yang berada di lingkungan Presiden.
Perubahan tersebut merupakan fakta.
Sementara makna politik dari perubahan itu masih terbuka untuk diamati.
Rocky sendiri sudah memberikan sinyal bahwa ia tidak menganggap jabatan tersebut sebagai alasan untuk meninggalkan sikap kritis.
Namun, pada akhirnya ukuran yang paling konkret bukanlah pernyataan saat pelantikan.
Ukuran sebenarnya adalah apa yang ia lakukan setelah berada di dalam Wantimpres.
Kesimpulan
Rocky Gerung bukan figur yang tiba-tiba muncul dalam politik nasional setelah dilantik menjadi Wantimpres.
Perjalanannya berlangsung selama beberapa dekade.
Ia berangkat dari dunia filsafat dan akademik, mengajar di Universitas Indonesia, terlibat dalam isu demokrasi dan hak asasi manusia melalui masyarakat sipil, memiliki pengalaman bersinggungan dengan aktivitas politik, kemudian berkembang menjadi salah satu intelektual publik yang dikenal luas melalui diskusi dan komentar politik.
Pada 2 Oktober 2026, perjalanan itu memasuki babak baru ketika Presiden Prabowo Subianto melantiknya sebagai anggota Wantimpres.
Rocky mengatakan ia hanya “pindah dari luar ke dalam” dan menegaskan bahwa fungsi Wantimpres harus tetap kritis terhadap kebijakan.
Fakta berhenti di sana.
Apakah Rocky akan benar-benar mempertahankan karakter intelektual dan kritisnya di dalam lembaga tersebut?
Itu bukan lagi pertanyaan tentang masa lalu.
Itu adalah cerita baru yang mulai berjalan sejak Rocky resmi duduk di Wantimpres.
Sumber
- ANTARA — pernyataan Rocky mengenai fungsi kritis Wantimpres.
- Detik — penjelasan Rocky mengenai pesan Presiden dan fungsi Wantimpres.
- RRI — profil dan perjalanan karier Rocky Gerung.
- Metro TV — profil Rocky sebagai akademisi dan aktivis.
- Kumparan — riwayat pendidikan, pengajaran dan aktivitas Rocky.
- SETARA Institute — sejarah pendirian dan daftar tokoh yang memulai SETARA.