BANDUNG — Kemenangan telak 6-0 atas Singapura berubah menjadi pesta yang pahit bagi Malaysia. Harimau Malaya sebenarnya sudah melakukan apa yang harus dilakukan: mencetak enam gol dan menyelesaikan Grup A dengan tujuh poin. Namun, Indonesia mencetak dua gol pada masa tambahan waktu saat menghadapi Bangladesh dan akhirnya merebut tiket final FIFA ASEAN Cup 2026.
Drama perebutan tiket final terjadi hampir bersamaan di dua stadion, yakni Stadion Si Jalak Harupat, Bandung, tempat Malaysia menghadapi Singapura, dan Stadion Utama Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta, tempat Indonesia menghadapi Bangladesh.
Malaysia membutuhkan kemenangan dengan margin besar untuk menjaga peluang finis di puncak Grup A. Mereka pun tampil tanpa ampun.
Namun, mereka tidak menyangka bahwa dua gol Indonesia pada menit-menit terakhir akan mengubah seluruh cerita.
Malaysia Mengamuk, Singapura Dihancurkan 6-0
Malaysia langsung menekan sejak awal pertandingan.
Bergson da Silva membuka keunggulan melalui tendangan penalti pada menit ke-8. Gol tersebut menjadi awal dari pesta gol Harimau Malaya.
Stuart Wilkin kemudian menggandakan keunggulan pada menit ke-26.
Malaysia masuk babak kedua dengan keunggulan 2-0, tetapi belum berhenti mengejar gol.
Bergson kembali mencatatkan namanya di papan skor pada menit ke-62 untuk mengubah kedudukan menjadi 3-0.
Paulo Josue kemudian membuat Malaysia semakin nyaman lewat gol pada menit ke-76.
Memasuki penghujung laga, Syahir Bashah mencetak gol kelima pada menit ke-87.
Bergson kemudian melengkapi hat-trick pada menit 90+3.
Malaysia 6-0 Singapura.
Secara matematis, Malaysia sudah melakukan pekerjaannya dengan sangat baik.
FIFA mencatat Bergson mencetak tiga gol, sementara Stuart Wilkin, Paulo Josue dan Syahir Bashah masing-masing menyumbang satu gol.
Tetapi pertandingan Indonesia belum selesai.
Dan di situlah mimpi Malaysia mulai runtuh.
Indonesia Membuat Drama di Jakarta
Pada waktu yang hampir bersamaan, Indonesia menghadapi Bangladesh di GBK.
Garuda sudah unggul jauh 6-1 pada babak pertama. Namun, Bangladesh kemudian mencetak gol balasan sehingga skor berubah menjadi 7-2.
Situasi itu membuat persaingan dengan Malaysia semakin menegangkan.
Malaysia sudah mengantongi enam gol.
Indonesia membutuhkan tambahan gol untuk memastikan jumlah gol mereka tetap lebih tinggi daripada Malaysia.
Ketegangan memuncak pada masa injury time.
Indonesia mencetak gol melalui Kevin Diks pada menit ke-90+6.
Belum selesai.
Satu menit kemudian, Mitchell Baker kembali mencetak gol pada menit ke-90+7.
Indonesia 9-2 Bangladesh.
Dua gol dalam dua menit tersebut menjadi pembeda.
FIFA menyebut Indonesia akhirnya unggul dalam jumlah gol yang dicetak setelah kedua tim sama-sama mengoleksi tujuh poin dan memiliki selisih gol +9.
Sama-sama 7 Poin, Sama-sama +9
Inilah bagian paling menyakitkan bagi Malaysia.
Setelah tiga pertandingan Grup A:
Indonesia
- 7 poin
- Selisih gol +9
- 11 gol memasukkan
Malaysia
- 7 poin
- Selisih gol +9
- 9 gol memasukkan
Dengan poin dan selisih gol yang sama, produktivitas gol menjadi penentu.
Indonesia mencetak 11 gol, sedangkan Malaysia mencetak 9 gol sepanjang fase grup.
Artinya, kemenangan 6-0 Malaysia atas Singapura ternyata masih belum cukup.
Bernama melaporkan Indonesia mengungguli Malaysia berdasarkan jumlah gol yang dicetak setelah kedua tim sama-sama mengoleksi tujuh poin dan selisih gol +9.
Dari Perayaan Menjadi Kekecewaan
Ada ironi besar dalam pertandingan Malaysia.
Pertandingan Malaysia selesai lebih dahulu.
Dengan kemenangan 6-0, para pemain Harimau Malaya sempat merayakan hasil tersebut karena merasa telah melakukan segala sesuatu yang dibutuhkan untuk mengejar Indonesia.
Namun pertandingan Indonesia masih berlangsung di Jakarta.
Malaysia kemudian hanya bisa menunggu.
Dan ketika Kevin Diks serta Mitchell Baker mencetak dua gol pada masa tambahan waktu, harapan Harimau Malaya langsung sirna.
FIFA menggambarkan situasi tersebut sebagai malam dramatis ketika Malaysia sempat mengira enam gol sudah cukup, sebelum dua gol Indonesia di menit ke-96 dan ke-97 mengubah posisi akhir Grup A.
Tan Cheng Hoe: Kecewa, tetapi Harus Move On
Pelatih interim Malaysia, Tan Cheng Hoe, mengakui kekecewaan setelah timnya gagal mencapai final.
Menurut Cheng Hoe, para pemain Malaysia sudah memberikan performa terbaik, terutama dalam penguasaan bola, kontrol permainan dan penyelesaian akhir.
Namun, sepak bola memang tidak selalu memberikan hadiah kepada tim yang menang besar.
Bernama melaporkan Cheng Hoe menyebut situasi tersebut sebagai perpaduan antara kegembiraan dan kekecewaan. Ia meminta para pemain segera bangkit dan fokus menghadapi pertandingan berikutnya.
Malaysia Masih Punya Perebutan Tempat Ketiga
Gagal ke final bukan berarti perjalanan Malaysia di FIFA ASEAN Cup 2026 langsung berakhir.
Harimau Malaya masih akan tampil dalam perebutan tempat ketiga menghadapi runner-up Grup B.
Sementara itu, Indonesia melaju ke final dan akan menghadapi juara Grup B.
Dengan demikian, pertandingan terakhir Grup A menghasilkan dua cerita yang sangat berbeda.
Malaysia menang besar 6-0, tetapi harus menerima kenyataan pahit tersingkir dari perebutan gelar.
Indonesia menang 9-2, dan dua gol terakhirnya menjadi tiket menuju final.
Enam Gol Tak Cukup
Pada akhirnya, malam FIFA ASEAN Cup 2026 menghasilkan sebuah pelajaran sederhana:
Malaysia menang enam gol, Indonesia menang sembilan gol.
Kedua tim sama-sama mengumpulkan tujuh poin.
Keduanya sama-sama memiliki selisih gol +9.
Tetapi Indonesia mencetak dua gol lebih banyak sepanjang fase grup.
Dan dua gol yang lahir pada menit 90+6 dan 90+7 menjadi pukulan terakhir bagi Malaysia.
Harimau Malaya menang besar.
Garuda menang lebih besar.
Malaysia berpesta, Indonesia yang ke final.
Itulah drama sepak bola yang terjadi di Bandung dan Jakarta pada malam 1 Oktober 2026.
Sumber
- FIFA — laporan Malaysia vs Singapura dan drama perebutan final.
- FIFA — laporan Indonesia vs Bangladesh.
- Bernama — hasil Malaysia 6-0 Singapura dan klasemen Grup A.
- CNA — laporan Malaysia 6-0 Singapura dan kegagalan Malaysia ke final.