BALIKPAPAN, PARAGRAFNEWS.CO – Kemarau panjang mulai memberikan dampak serius terhadap sektor pertanian di Kota Balikpapan, Kalimantan Timur. Sekitar 695 hektare lahan pertanian di wilayah tersebut dilaporkan terdampak kekeringan yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir.
Kondisi tersebut tidak hanya mengganggu aktivitas petani, tetapi juga berdampak terhadap produksi pangan lokal. Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan (DKP3) Kota Balikpapan memperkirakan produktivitas pertanian mengalami penurunan hingga sekitar 60 persen dibandingkan kondisi normal.
Kepala DKP3 Kota Balikpapan, Sri Wahjuningsih, mengatakan lahan yang terdampak kekeringan tersebar di lima kecamatan. Menurutnya, berkurangnya produksi pertanian turut menyebabkan stok pangan lokal menjadi terbatas dan berpotensi mendorong kenaikan harga di sejumlah pasar tradisional.
“Kurang lebih 695 hektare kawasan pertanian terdampak kekeringan. Ini menyebar di lima kecamatan,” kata Sri Wahjuningsih, Senin (5/10/2026), seperti dikutip detikKalimantan.
Petani Kesulitan Mendapatkan Air
Kekeringan menjadi persoalan serius bagi petani Balikpapan karena wilayah tersebut relatif minim sumber air permukaan. Sebagian petani selama ini mengandalkan air hujan yang ditampung melalui embung maupun tandon untuk memenuhi kebutuhan pertanian.
Baca juga: Ancaman Super El Niño 2026: WMO Peringatkan Risiko Gelombang Panas dan Krisis Pangan Global
Ketika sumber air mengering, sebagian petani terpaksa membeli air menggunakan mobil tangki untuk menyiram tanaman. Namun, pilihan tersebut membuat biaya operasional meningkat dan semakin menekan pendapatan petani.
Kondisi di kawasan Gunung Binjai, Balikpapan Timur, menjadi salah satu gambaran dampak kemarau. Petani di wilayah tersebut bahkan dilaporkan kehilangan satu masa tanam karena lahan belum dapat diolah akibat minimnya pasokan air.
Produksi Pertanian Turun, Pasokan dari Luar Daerah Diandalkan
Penurunan produksi membuat kebutuhan pangan masyarakat Balikpapan semakin bergantung pada pasokan dari luar daerah. DKP3 menyebut sekitar 85 persen kebutuhan pangan Balikpapan masih didatangkan dari luar kota.
Karena itu, pemerintah daerah mengoptimalkan peran distributor dan pelaku usaha pangan untuk menjaga kelancaran pasokan selama produksi pertanian lokal mengalami penurunan.
Langkah tersebut menjadi penting untuk menjaga ketersediaan bahan pangan sekaligus mengantisipasi tekanan harga akibat berkurangnya produksi lokal.
Pemkot Siapkan 11 Sumur Bor
Untuk mengatasi persoalan air, Pemkot Balikpapan menyiapkan 11 titik sumur bor di kawasan pertanian yang terdampak kekeringan. Air dari sumur tersebut nantinya dimanfaatkan bersama oleh kelompok tani untuk membantu memenuhi kebutuhan penyiraman lahan.
Selain itu, pemerintah juga menyiapkan pendistribusian air kepada kelompok tani yang memiliki embung atau tempat penampungan air. Salah satu sumur bor juga disiapkan untuk mendukung kelompok pembudidaya ikan.
DKP3 menegaskan air dari sumur bor tersebut diperuntukkan bagi kepentingan bersama dan tidak boleh diperjualbelikan.
Upaya penyediaan sumber air ini diharapkan dapat membantu petani bertahan menghadapi kemarau panjang sekaligus menjaga produksi pangan lokal Balikpapan agar tidak semakin menurun.
Sumber: detikKalimantan, DKP3 Kota Balikpapan, Media Kaltim.