Kabar mengejutkan datang dari proyek kendaraan udara tak berawak (UAV) medium-altitude long-endurance (MALE) atau drone Elang Hitam Indonesia.
Badan Riset dan Inovasi Nasional atau BRIN kabarnya telah menghentikan program drone Elang Hitam, yang sempat digadang-gadang akan menjadi senjata andalan militer Indonesia di masa depan.
Drone jenis medium-altitude long-endurance (Male) unmanned aerial vehicle (UAV) itu tadinya akan dimanfaatkan oleh TNI untuk melakukan pengintaian jarak jauh serta misi tempur, karena bisa membawa senjata buatan Pindad.
Tetapi seperti diwartakan Janes.com, Kamis (15/9/2022), Kepala BRIN Laksana Tri Handoko sudah memastikan proyek tersebut dihentikan. Sumber daya untuk mengembangkan program itu dialihkan ke proyek lain.
Setelah mendapatkan konfirmasi ini, Janes menyebutkan perubahan ini memang sudah diprediksi jauh sebelumnya.

“Sebelumnya sumber dari industri telah mengatakan bahwa Elang Hitam berisiko jika dilanjutkan sebagai proyek militer. Sumber itu mengatakannya sejak pertengahan 2022,” kata Janes.com dalam laporannya.
Pernyataan Laksana Tri Handoko sontak dan secara pasti telah menangguhkan ambisi nasional Indonesia untuk mengembangkan UAV MALE buatan dalam negeri dengan tujuan militer.
Padahal, proyek UAV Elang Hitam ini menjadi salah satu “proyek strategis” dalam periode kepemimpinan Presiden Joko Widodo.
Program UAV Drone Elang Hitam TNI
Sebagaimana diketahui, ambisi Indonesia untuk membuat senjata UAV militer layaknya Bayraktar TB2, Anka, Predator, sudah ada sejak dulu.
Pembuatan itu tentu saja bukan ajang pamer atau bergaya, namun UAV atau drone memang sangat dibutuhkan kehadirannya di Indonesia.
Indonesia memiliki wilayah yang sangat luas. Wilayah yang luas hingga ke pelosok daerah sangat sulit diawasi jika menggunakan jalur darat ataupun laut.
Maka pilihan yang paling rasional adalah dengan membuat UAV atau pesawat tak berawak yang bisa memantau dari udara.
Pilihan ini kemudian diamini oleh Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) yang mengatakan drone dalam berbagai versi ideal memang dibutuhkan untuk memperkuat sistem pertahanan dan keamanan Indonesia.
BPPT bahkan tak segan-segan untuk menyebutkan berapa jumlah pasti yang dibutuhkan TNI AU.
Berdasarkan kajian yang sudah dilakukan, BPPT menyebutkan bahwa TNI AU membutuhkan 33 drone untuk menjaga pertahanan negara.
Diperkirakan satu pangkalan drone membutuhkan tiga unit drone yang terdiri atas satu unit operasional, satu unit standby, dan satu unit perawatan.
“Drone yang akan dikembangkan bukanlah drone yang biasa. Ini adalah pesawat tanpa awak versi terbaru, dibangun khusus untuk kepentingan pertahanan dan keamanan,” kata Kepala BPPT, Hammam Riza, seperti dikutip dari laporan yang ditulis Antara pada 21 April 202 lalu.
“BPPT akan melakukan perekayasaan drone jenis taktikal guna memenuhi kebutuhan nasional khususnya untuk di lingkungan TNI AU,” lanjut Hammam.
Dari rencana itulah akhirnya BPPT menargetkan Indonesia memiliki pesawat tak berawak atau drone mata-mata spesifikasi kombatan (MALE) yang akan dibuat di dalam negeri mulai 2022.
“Drone MALE ini akan memiliki jangkauan jelajah opreasi 23.000 kilometer non-stop dengan ketahanan terbang tinggi selama 30 jam, siang dan malam. Dengan kemampuan tersebut, Drone MALE akan digunakan untuk membantu Kementerian Pertahanan dalam menjaga pertahanan dan keamanan negara,” tutur Hammam lagi.
“Drone tipe MALE Ini kemudian dinamai dengan Elang Hitam. Drone yang mampu beroperasi dalam radius 250 kilometer dengan waktu terbang hingga 30 jam. Secara fisik, drone ini memiliki panjang 8,30 meter dan bentang sayap sepanjang 16 meter,” imbuh Hammam.
Satu tahun usai paparan dari Ketua BPPT, kenyataan yang terjadi tak seindah rencana.
Semenjak dikenalkan pada 2019 ke publik, Elang Hitam menjadi salah satu dari delapan fokus pengembangan teknologi BPPT untuk mendukung Indonesia Maju.
Sayangnya di tengah jalan, pengembangan Elang Hitam menemui rintangan. Rintangan itu berasal dari teknologi.
“Kami pesimis dengan kemampuan kami menjadikan Elang Hitam memiliki kemampuan sebagaimana dikehendaki oleh TNI AU,” kata Agus Aribowo mewakili BRIN dilansir dari Defence Security Asia.
“Oleh karena itu, drone MALE Elang Hitam itu hanya akan dibuat untuk kepentingan sipil,” sambungnya.
Pernyataan Agus Aribowo ini sekaligus menunjukkan bahwa “tidak semudah itu membuat suatu sistem persenjataan” termasuk dalam pembuatan drone.
Setelah proyek ini resmi dihentikan, Elang Hitam untuk sipil pun diprediksi akan memiliki masa depan yang suram.
“Dengan menjadi drone untuk sipil, Tentara Nasional Indonesia dan Kementerian Pertahanan Indonesia kemungkinan besar akan menarik diri dari proyek Elang Hitam. Dan itu akan menjadikan masa depan Elang Hitam semakin redup,” tulis Defence Security Asia.
Prediksi Defence Security Asia pun diperkuat dengan pernyataan dari orang dalam BRIN yang tidak disebutkan namanya.
“Meskipun dialihkan untuk proyek sipil, Elang Hitam tetap akan mendapatkan kesulitan ke depannya yakni pemasarannya. Bagaimana cara menembus pasaran UAV yang saat ini begitu hebat persaingannya?”
Sampai dengan saat ini, belum ada konfirmasi dari Kementerian Pertahanan Indonesia.
Apakah mereka menarik diri atau tetap melanjutkan proyek drone Elang Hitam yang kini sudah redup bahkan sebelum terbang.
kaje/red
Sumber: ANTARA janes.com Defence Security Asia