Cologne Central Mosque atau Masjid Agung Koln merupakan salah satu masjid terbesar di Eropa, masjid berluas 4500 m² ini diresmikan pada tahun 2017 dan mampu menampung sekitar 1200-2000 jemaah.
Baca juga: Azdan Berkumandang untuk Pertama Kalinya di Masjid Terbesar di Jerman
Masjid ini didirikan dengan mengusung gaya arsitektur ottoman yang kemudian dikombinasikan dengan arsitektur eropa modern, sehingga masjid agung kolb mampu menunjukan kemegahan masjid selagi menonjolkan pula aspek modernitas jerman pada bangunan tersebut.

Penggunaan material kaca pada masjid dan tangga yang dapat diakses melalui jalanan umum dibuat dengan tujuan untuk memunculkan kesan “terbuka” dan “cerah” pada bangunan. Bangunan masjid dibuat transparan dengan menggunakan dinding kaca yang mampu menyediakan pencahayaan alami dan dilengkapi dengan dua minaret setinggi 55 meter. Namun, bukan hanya bentuk fisik, masjid ini juga terbuka untuk warga dari berbagai agama. Tujuannya agar Masjid Agung Koln dapat menjembatani komunikasi antar agama di Jerman.
Sejarah
Melansir mosqpedia, orang Turki di Cologne Jerman bermimpi membangun masjid yang berkualitas. Rencana ini baru mulai direalisasikan pada 2009 namun sempat tersendat pada 2011 akibat munculnya penolakan warga anti imigran. Sebuah jajak pendapat oleh surat kabar lokal mengungkapkan bahwa 63% penduduk sebenarnya mendukung pembangunan masjid, tetapi 27% ingin mengurangi ukuran masjid.

Diperkirakan 4,7 juta Muslim, yang mayoritas adalah Turki, tinggal di Jerman. Di Cologne, sebuah kota berpenduduk sekitar 10 juta, ada 70 masjid yang tersedia untuk sekitar 120.000 Muslim. Biasanya masjid ini terletak di sudut terpencil. Namun berbeda dengan masjid-masjid lainnya, Masjid Cologne terletak di Ehrenfeld, sebuah sudut kota yang biasa dikenal sebagai salah satu pusat budaya di Cologne.
Masjid ini dibangun pada tahun 2009 dan merupakan masjid terbesar dan termegah di Jerman. Masjid Cologne kini dianggap sebagai simbol integrasi dan simbol kelahiran arsitektur masjid Jerman. Masjid Pusat Cologne (Zentralmoschee Köln) berukuran 4.500 m2 mampu menampung 1.200 jamaah. Inilah yang membuat Masjid Cologne dianggap sebagai masjid terbesar di Jerman. Masjid, yang dibangun oleh organisasi Muslim Turki DiTiB, memiliki perpustakaan, kursus, seminar.
Islami modern juga terlihat dari tulisan kaligrafi emas di dalam masjid. “Terbuka” dan “terang”, komentar yang menggambarkan masjid Paul Böhm. Bangunan masjid didesain transparan dengan menggunakan kaca yang memiliki pencahayaan alami. Namun, bukan hanya bentuk fisik, masjid ini juga terbuka untuk warga yang berbeda agama.

Tujuannya agar Masjid Cologne bisa menjembatani komunikasi antar umat beragama di Jerman. Desain masjid ini juga dinilai “sangat Jerman” karena mampu menciptakan terobosan dalam bidang arsitektur rumah ibadah yang mengawinkan arsitektur masjid Turki era Ottoman dengan arsitektur khas bergaya Eropa. Dua menara Masjid Cologne sempat menjadi topik perdebatan karena dianggap akan mengubah citra kota dan “membayangi” menara Katedral Cologne. Gereja gothic diakui oleh UNESCO sebagai warisan budaya dunia sehingga tata kota di sekitar katedral harus dipertahankan keasliannya. Menara masjid Cologne dibangun setinggi 55 meter – atau 1/3 dari puncak 157 meter Katedral Cologne.
Kursus bahasa Jerman untuk peziarah adalah salah satu dari delapan persyaratan berdasarkan integrasi yang diperlukan untuk Masjid Cologne yang akan dibangun. Pendeta juga harus mahir berbahasa Jerman, karena mereka harus berkhotbah dalam bahasa yang dimengerti semua pengunjung. Selain itu, kesetaraan perlakuan bagi perempuan dan laki-laki juga menjadi poin prasyarat yang penting.
Baca berita berikutnya di Google News klik di sini >>
kaje/red





