PARAGRAFNEWS.CO — Upaya diplomatik untuk meredakan perang Rusia-Ukraina kembali mengemuka di tengah berlanjutnya serangan udara kedua pihak. Presiden Prancis Emmanuel Macron mengatakan dirinya telah membahas gagasan moratorium serangan terhadap infrastruktur energi Rusia dan Ukraina dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Pembicaraan tersebut berlangsung pada Senin, 21 September 2026, ketika para pemimpin dunia berkumpul di New York untuk rangkaian Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Menurut Reuters, Macron menyebut pembicaraan dengan Trump berlangsung konstruktif dan mencakup upaya memperkuat kemampuan pertahanan Ukraina.
baca juga: Rusia Serang Zaporizhzhia Usai Ukraina Luncurkan Lebih dari 1.000 Drone
Macron Dorong Penghentian Serangan terhadap Infrastruktur Energi
Macron mengatakan salah satu gagasan yang dibahas adalah moratorium terhadap serangan yang menyasar sektor energi kedua negara.
Infrastruktur energi menjadi salah satu sasaran penting dalam perang Rusia-Ukraina. Serangan terhadap fasilitas energi dapat berdampak langsung terhadap pasokan listrik, bahan bakar, aktivitas industri hingga kehidupan masyarakat sipil.
Menurut Reuters, Macron berharap pembahasan mengenai penghentian serangan terhadap infrastruktur energi dapat mengalami perkembangan lebih lanjut selama agenda diplomatik di New York. Ia juga mengatakan akan membawa persoalan tersebut dalam pertemuannya dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy.
Pertahanan Udara Ukraina Ikut Dibahas
Selain moratorium serangan terhadap sektor energi, Macron menyoroti kebutuhan Ukraina terhadap sistem pertahanan udara dan pencegat.
Macron menyebut peningkatan kemampuan Ukraina dalam menghadapi serangan udara sebagai salah satu kebutuhan penting. Pernyataan tersebut muncul ketika serangan drone dan rudal masih menjadi bagian utama dari operasi militer kedua pihak.
Dalam beberapa hari terakhir, serangan jarak jauh kembali meningkat. Associated Press melaporkan Rusia menyerang Kota Zaporizhzhia pada 21 September setelah Ukraina melancarkan serangkaian serangan drone dalam skala besar ke wilayah Rusia. Serangan Rusia di Zaporizhzhia dilaporkan melukai lima orang dan merusak sejumlah fasilitas sipil.
Serangan Energi Masih Menjadi Persoalan
Serangan terhadap infrastruktur ekonomi dan energi juga terjadi di wilayah Rusia.
Reuters melaporkan serangan drone Ukraina pada 20 September menyebabkan korban jiwa di wilayah Moskow dan mengenai sebuah kilang minyak. Otoritas Rusia mengatakan lebih dari 1.600 drone berhasil dicegat, termasuk sekitar 450 yang disebut mengarah ke Moskow. Angka tersebut merupakan keterangan dari pihak Rusia dan tidak seluruhnya dapat diverifikasi secara independen.
Di sisi lain, Ukraina berulang kali menjadi sasaran serangan rudal dan drone Rusia yang berdampak pada infrastruktur dan wilayah perkotaan.
Situasi tersebut membuat perlindungan fasilitas energi menjadi salah satu isu penting dalam pembicaraan mengenai kemungkinan penghentian sementara serangan.
Zelenskyy Siap Bahas Penghentian Serangan
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy sebelumnya menyatakan Ukraina bersedia menghentikan serangan terhadap wilayah Rusia apabila terdapat komitmen yang kredibel bahwa Rusia juga tidak menyerang infrastruktur penting Ukraina.
Associated Press melaporkan pernyataan tersebut muncul setelah Presiden AS Donald Trump menyampaikan klaim mengenai kesepakatan untuk tidak menyerang infrastruktur energi masing-masing. Rusia belum memberikan konfirmasi yang sejalan atas klaim tersebut.
Karena itu, gagasan moratorium yang dibahas Macron dan Trump masih berada dalam ranah diplomasi dan belum dapat disebut sebagai kesepakatan gencatan senjata antara Rusia dan Ukraina.
Perang Masih Berlangsung di Tengah Diplomasi
Pembicaraan mengenai moratorium energi berlangsung ketika serangan kedua pihak masih terjadi.
Perkembangan tersebut memperlihatkan adanya dua jalur yang berjalan bersamaan: aktivitas militer terus berlangsung, sementara negara-negara Barat dan pihak terkait berusaha mencari ruang untuk mengurangi eskalasi.
Macron mengatakan isu tersebut akan terus dibahas dalam rangkaian pertemuan diplomatik di New York. Perkembangan selanjutnya akan bergantung pada respons Rusia dan Ukraina serta kemungkinan keterlibatan Amerika Serikat dan negara-negara Eropa.
kaje/red





