Internasional

Trump Sebut AS Masuk Fase Menentukan Sikap terhadap Iran, Qatar Dorong Perundingan

×

Trump Sebut AS Masuk Fase Menentukan Sikap terhadap Iran, Qatar Dorong Perundingan

Sebarkan artikel ini
Trump Iran September
Presiden AS Donald Trump / sc

NEW YORK — Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat menjelang pertemuan para pemimpin dunia di New York. Presiden AS Donald Trump mengatakan Washington sedang berada dalam fase menentukan langkah berikutnya terhadap Teheran, sementara Qatar berupaya membuka kembali jalur perundingan kedua pihak.

Trump menyampaikan pernyataan tersebut pada Minggu, 20 September 2026, ketika perang antara AS dan Iran masih menjadi salah satu isu utama yang membayangi Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Pada saat yang sama, Qatar mengaku terus berkomunikasi dengan kedua negara untuk mencari jalan menuju perundingan baru.

baca juga: Trump dan Xi Bertemu 24 September, Perdagangan dan AI Jadi Sorotan

Trump Mengatakan AS Sedang Menentukan Langkah

Dalam wawancara dengan Fox News, Trump mengatakan dirinya berada dalam tahap menentukan pilihan mengenai kebijakan Washington terhadap Iran.

Presiden AS tersebut menyebut terdapat sejumlah opsi, termasuk tekanan ekonomi, tindakan militer dan kemungkinan penyelesaian melalui perundingan. Ia juga mengatakan perkembangan besar dapat terjadi dalam waktu dekat.

Pernyataan itu muncul ketika ketegangan militer belum sepenuhnya mereda dan Iran menilai terdapat kemungkinan serangan AS kembali dilanjutkan.

Trump juga menyatakan terbuka untuk bertemu Presiden Iran Masoud Pezeshkian di sela-sela Sidang Umum PBB di New York.

Iran Bersiap Menghadapi Kemungkinan Serangan Baru

Dari Teheran, Khatam al-Anbiya Central Headquarters, komando pusat militer Iran, mengatakan pihaknya memperoleh informasi bahwa Amerika Serikat sedang mempersiapkan kemungkinan melanjutkan serangan.

Militer Iran menyatakan serangan baru akan dibalas dan memperingatkan negara-negara kawasan agar tidak memberikan dukungan kepada operasi AS. Pernyataan tersebut merupakan posisi resmi pihak Iran dan belum menjadi bukti independen mengenai rencana operasi militer Washington.

Situasi ini membuat kawasan Timur Tengah kembali berada dalam kondisi penuh ketidakpastian.

Di tengah pernyataan keras dari kedua pihak, jalur diplomasi masih tetap terbuka.

Qatar Berusaha Membuka Jalan Perundingan

Qatar menjadi salah satu pihak yang aktif menjembatani komunikasi antara Washington dan Teheran.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Qatar Majed al-Ansari mengatakan Doha masih melakukan komunikasi dengan kedua pihak dan berupaya mendorong dimulainya kembali negosiasi.

Menurut Qatar, sejumlah pejabat AS telah menyampaikan keinginan Washington untuk mencapai kesepakatan dan mengakhiri konflik. Namun, belum ada jadwal resmi mengenai kapan perundingan baru dapat dimulai.

Qatar juga menyatakan penyelesaian konflik perlu mempertimbangkan stabilitas kawasan dan keamanan jalur pelayaran strategis.

Iran Ajukan Syarat untuk Kembali Berunding

Iran sebelumnya telah menyampaikan sejumlah persyaratan melalui mediator Qatar.

Menurut laporan Al Jazeera, Teheran meminta penghentian perang dan serangan AS, pembebasan dana Iran yang dibekukan serta penghentian blokade laut sebagai bagian dari syarat untuk kembali ke meja perundingan.

Iran juga menempatkan persoalan Selat Hormuz sebagai bagian penting dari perkembangan konflik.

Selat tersebut merupakan salah satu jalur utama perdagangan energi dunia yang menghubungkan kawasan Teluk dengan Laut Arab.

Selat Hormuz Jadi Perhatian Pasar Energi

Konflik AS-Iran memiliki dampak yang melampaui kawasan Timur Tengah karena berhubungan langsung dengan jalur pengiriman minyak dan gas.

Laporan terbaru menunjukkan aktivitas pelayaran melalui Selat Hormuz mengalami penurunan. Data pelayaran yang dikutip Al Jazeera mencatat 12 kapal komoditas melintasi selat tersebut selama akhir pekan, dibandingkan 35 kapal pada akhir pekan sebelumnya.

Kondisi tersebut menjadi perhatian pasar energi global.

Pada perdagangan Senin, harga minyak Brent kembali turun setelah sebelumnya melonjak akibat ketegangan Timur Tengah. Associated Press melaporkan Brent berada sekitar US$100,62 per barel, turun 3,1 persen, meskipun masih jauh di atas level sebelum eskalasi terbaru.

Pertemuan di PBB Bisa Menjadi Ruang Diplomasi

Perkembangan Iran-AS berlangsung bersamaan dengan kedatangan para pemimpin dunia ke New York untuk Sidang Umum PBB.

Presiden Iran Masoud Pezeshkian dijadwalkan berbicara dalam rangkaian pertemuan tingkat tinggi PBB pada Rabu. Trump juga berada di New York untuk agenda PBB sebelum pertemuan dengan Xi Jinping di Washington.

Kehadiran para pemimpin tersebut membuka ruang bagi pertemuan bilateral maupun komunikasi tidak langsung mengenai konflik Iran.

Namun, belum ada kepastian bahwa pertemuan Trump dan Pezeshkian akan benar-benar terjadi.

Diplomasi dan Ancaman Eskalasi Berjalan Bersamaan

Situasi terbaru memperlihatkan dua jalur yang berjalan secara bersamaan.

Di satu sisi, Trump menyatakan sedang menentukan langkah Washington dan Iran memperingatkan akan memberikan respons jika serangan kembali dilakukan.

Di sisi lain, Qatar masih berusaha mempertahankan komunikasi antara kedua pihak dan mendorong kembalinya perundingan.

Perkembangan tersebut membuat pekan Sidang Umum PBB menjadi salah satu momen penting bagi diplomasi Timur Tengah.

Belum diketahui apakah komunikasi melalui Qatar akan menghasilkan perundingan baru atau justru konflik kembali memasuki fase militer yang lebih intensif.

Untuk sementara, perhatian internasional tertuju pada New York, Washington, Teheran dan Doha karena keputusan dari keempat pusat diplomasi tersebut dapat memengaruhi arah konflik serta kondisi pasar energi dunia.

Sumber: Reuters, Associated Press, Al Jazeera.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *