NewsRubrik

Uang Plastik Australia Viral, Ternyata Punya Jejak Sejarah dengan Rp100 Ribu Indonesia

×

Uang Plastik Australia Viral, Ternyata Punya Jejak Sejarah dengan Rp100 Ribu Indonesia

Sebarkan artikel ini

Uang pecahan A$20 Australia kembali menarik perhatian karena desainnya yang transparan dan menggunakan bahan polimer. Di balik teknologi tersebut terdapat sejarah panjang yang juga pernah bersinggungan dengan rupiah Indonesia pecahan Rp100.000.

uang plastik australia
Uang rupiah dan dan uang dolar Australia / ist

PARAGRAFNEWS.CO — Uang kertas Australia kembali menjadi perhatian publik dan komunitas kolektor setelah sejumlah uang polimer lama muncul dalam unggahan media sosial pada 2026.

Salah satu unggahan yang ramai dibicarakan muncul di komunitas Reddit r/AustralianCoins pada 14 Juli 2026. Pengunggah mengatakan anggota keluarganya yang bekerja di sebuah bank di wilayah pedesaan New South Wales menerima beberapa uang lama yang sempat tidak dikenali kasir karena bentuknya berbeda dari uang yang umum digunakan saat ini. Setelah diperiksa, uang tersebut dinyatakan asli. Unggahan itu memperoleh lebih dari 2.400 suara positif.

Namun, uang yang menjadi sorotan tersebut bukanlah A$20 terbaru.

baca juga: Waspada Modus Penipuan WhatsApp Terbaru 2026, Kenali Cirinya Sebelum Uang dan Data Dicuri

Uang itu adalah A$10 edisi 1988, salah satu tonggak penting dalam sejarah uang polimer Australia.

Dari sinilah cerita mengenai uang plastik Australia menjadi menarik karena teknologi tersebut kemudian berkembang hingga menghasilkan seri Next Generation Banknotes, termasuk pecahan A$20 yang saat ini beredar.

A$20 Australia, Uang Polimer dengan Jendela Transparan

A$20 seri Next Generation Banknotes resmi masuk ke peredaran pada 9 Oktober 2019.

Reserve Bank of Australia (RBA) menyebut uang tersebut sebagai bagian dari pembaruan teknologi keamanan uang kertas Australia. Pecahan A$20 merupakan denominasi keempat yang diperkenalkan dalam seri baru setelah A$5, A$10 dan A$50.

Secara fisik, uang ini terlihat berbeda dari uang kertas konvensional karena menggunakan substrat polimer dengan jendela transparan yang menjadi salah satu fitur keamanan utamanya.

Di dalam jendela tersebut terdapat sejumlah elemen keamanan yang dapat berubah tampilan ketika uang dimiringkan.

Salah satu yang paling menarik adalah gambar kookaburra atau burung Laughing Kookaburra. RBA menjelaskan bahwa sayap burung tersebut memberikan efek visual ketika uang digerakkan. Pecahan ini juga menggunakan unsur Box-leaf Wattle (Acacia buxifolia) sebagai salah satu elemen desain dan keamanan.

Siapa yang Ada di Uang A$20?

A$20 tersebut mempertahankan dua tokoh yang telah dikenal pada desain sebelumnya, yakni Mary Reibey dan Reverend John Flynn.

Mary Reibey merupakan perempuan yang datang ke Australia sebagai narapidana dan kemudian membangun usaha di bidang perdagangan serta pelayaran.

Sementara John Flynn dikenal sebagai tokoh yang memelopori layanan medis udara yang kemudian berkembang menjadi Royal Flying Doctor Service.

Kisah kedua tokoh tersebut diterjemahkan ke dalam berbagai elemen desain uang A$20.

RBA menyebut adanya gambar pesawat De Havilland milik layanan medis udara, transceiver bertenaga pedal, kapal layar yang berkaitan dengan aktivitas Mary Reibey serta elemen budaya masyarakat First Nations.

Selain desain, uang tersebut dilengkapi fitur tactile, berupa tiga tonjolan pada masing-masing sisi panjang uang. Fitur ini membantu masyarakat tunanetra atau yang memiliki gangguan penglihatan membedakan pecahan uang.

Australia dan Sejarah Uang Plastik

Penggunaan polimer di Australia sebenarnya jauh lebih tua daripada A$20 2019.

Australia memperkenalkan uang polimer pada 1988. Pengembangannya melibatkan kerja sama antara Reserve Bank of Australia, Note Printing Australia dan CSIRO, lembaga riset nasional Australia.

Pada 1988, Australia menerbitkan uang peringatan A$10 Bicentenary yang kemudian dikenal sebagai tonggak awal uang polimer modern.

Australia selanjutnya secara bertahap mengganti seluruh seri uang kertasnya dengan polimer. Menurut RBA, setelah penerbitan A$100 pada 1996, Australia menjadi negara pertama yang mengubah seluruh seri uangnya dari kertas tradisional ke polimer.

Teknologi tersebut kemudian tidak hanya digunakan untuk mata uang Australia.

Dari Australia ke Rupiah Indonesia

Bagian inilah yang mungkin tidak banyak diketahui masyarakat Indonesia.

Note Printing Australia (NPA) di Craigieburn, Victoria, tidak hanya mencetak uang Australia. Perusahaan tersebut juga memproduksi uang polimer untuk sejumlah negara lain.

Dalam laporan resmi Reserve Bank of Australia, NPA mencatat daftar pesanan uang polimer untuk berbagai negara.

Salah satunya adalah Indonesia.

Dalam daftar tersebut tercatat:

1999 — Indonesia — 100.000 Rupiah — Circulating.

Dengan kata lain, ada catatan resmi RBA bahwa uang Rp100.000 polimer Indonesia tahun 1999 termasuk uang yang diproduksi oleh Note Printing Australia untuk Indonesia.

Fakta tersebut membuat sejarah uang plastik Australia memiliki hubungan langsung dengan salah satu pecahan rupiah yang pernah beredar di Indonesia.

Rp100 Ribu Plastik yang Pernah Beredar di Indonesia

Bagi masyarakat Indonesia yang hidup pada akhir 1990-an dan awal 2000-an, pecahan Rp100.000 berbahan polimer merupakan salah satu bentuk rupiah yang cukup unik.

Berbeda dengan uang kertas biasa, permukaannya terasa licin dan memiliki karakteristik seperti plastik.

Penggunaan bahan polimer tersebut bukanlah kebetulan. Pada masa itu, teknologi polimer sedang berkembang sebagai alternatif terhadap uang berbahan kertas karena menawarkan sejumlah keunggulan, termasuk daya tahan dan fitur keamanan.

Laporan RBA pada periode tersebut menjelaskan bahwa uang polimer memiliki sejumlah karakteristik yang dianggap lebih unggul dibandingkan uang kertas, antara lain ketahanan terhadap pemalsuan, umur penggunaan yang lebih panjang, kebersihan serta kemampuan untuk didaur ulang.

Dan Indonesia menjadi salah satu negara yang menggunakan teknologi tersebut.

Bukan Berarti Rupiah “Dibuat Australia”

Meski demikian, ada hal penting yang perlu diluruskan.

Mengatakan “Rp100 ribu Indonesia dibuat oleh Australia” tanpa penjelasan dapat menimbulkan kesalahpahaman.

Yang lebih tepat adalah:

Bank Indonesia menerbitkan rupiah, sementara Note Printing Australia tercatat sebagai pihak yang memproduksi uang polimer Rp100.000 tersebut berdasarkan pesanan untuk Indonesia.

RBA sendiri mencatat NPA sebagai perusahaan yang pada masa itu memproduksi uang polimer Australia sekaligus memenuhi pesanan sejumlah bank sentral negara lain.

Jadi, hubungan tersebut merupakan hubungan produksi dan teknologi percetakan uang, bukan berarti mata uang rupiah berada di bawah kendali Australia.

Dari A$10 1988 ke A$20 2019

Perjalanan uang polimer Australia menunjukkan bagaimana sebuah teknologi berkembang selama puluhan tahun.

1988: Australia memperkenalkan A$10 polimer sebagai tonggak awal.

1990-an: Australia mulai menggunakan polimer untuk seluruh pecahan dan NPA memperluas produksi uang polimer untuk negara lain.

1999: RBA mencatat produksi Rp100.000 Indonesia oleh NPA.

2016–2020: Australia memperkenalkan seri Next Generation Banknotes, termasuk A$5, A$10, A$20, A$50 dan A$100. Seri tersebut menggunakan film polimer transparan berlapis sebagai fondasi uang.

9 Oktober 2019: A$20 generasi baru mulai beredar.

Dengan demikian, A$20 yang terlihat modern dan canggih saat ini merupakan hasil evolusi teknologi yang telah dikembangkan Australia selama lebih dari tiga dekade.

Kenapa Uang Polimer Menarik Perhatian?

Salah satu alasan uang polimer menarik perhatian adalah tampilannya.

Tidak seperti uang kertas biasa, polimer memungkinkan dibuatnya jendela transparan yang menjadi bagian integral dari desain sekaligus fitur keamanan.

Teknologi tersebut juga memungkinkan penggabungan berbagai fitur yang dapat diamati dengan mata, diraba atau diperiksa menggunakan perangkat tertentu.

Pada A$20 generasi baru, misalnya, RBA memasukkan elemen transparan, efek perubahan warna, fitur taktil dan gambar kookaburra sebagai bagian dari sistem keamanan uang.

Itulah sebabnya uang Australia sering menjadi perhatian ketika foto atau videonya beredar di media sosial.

Uang Lama Australia yang Kembali Viral

Fenomena tersebut terlihat dalam unggahan komunitas kolektor Australia pada Juli 2026.

Dua lembar uang A$10 tahun 1988 yang dibawa ke sebuah bank di New South Wales sempat tidak dikenali oleh sejumlah kasir karena desainnya sudah sangat berbeda dari uang yang biasa mereka lihat. Setelah diperiksa, uang tersebut dinyatakan asli.

Peristiwa tersebut sekaligus mengingatkan bahwa sebagian generasi muda mungkin belum pernah melihat langsung uang Australia generasi awal yang menggunakan polimer.

Bagi kolektor, uang tersebut memiliki nilai sejarah karena berada di awal perjalanan teknologi uang polimer Australia.

Ada Benang Merah dengan Rupiah

Jika melihat sejarahnya secara utuh, ada benang merah menarik antara A$20 Australia saat ini dan Rp100.000 polimer Indonesia.

A$20 bukan uang polimer pertama Australia. Teknologi tersebut sudah dimulai sejak 1988 dan kemudian terus dikembangkan.

Indonesia juga bukan sekadar negara yang meniru desain Australia. Namun, catatan resmi RBA menunjukkan bahwa industri percetakan uang Australia memang pernah memproduksi Rp100.000 polimer Indonesia pada 1999.

Karena itu, ketika masyarakat melihat uang A$20 dengan jendela transparan dan bahan seperti plastik, ada sejarah panjang di baliknya.

Dari eksperimen A$10 pada 1988, teknologi tersebut berkembang menjadi sistem uang polimer modern Australia dan pada masa lalu bahkan digunakan untuk memproduksi salah satu pecahan rupiah Indonesia.

Bagi Indonesia, Rp100.000 polimer kini menjadi bagian dari sejarah perjalanan rupiah.

Bagi Australia, teknologi tersebut telah berkembang menjadi salah satu identitas utama sistem uang kertasnya.

Dua mata uang berbeda negara itu akhirnya bertemu pada satu teknologi yang sama: uang berbahan polimer.

Sumber:

  • Reserve Bank of Australia (RBA)
  • RBA Banknotes
  • RBA Museum
  • Note Printing Australia
  • RBA Annual Report
  • Komunitas AustralianCoins/Reddit, unggahan 14 Juli 2026

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *