PARAGRAFNEWS.CO — WhatsApp masih menjadi salah satu aplikasi komunikasi yang paling banyak digunakan masyarakat Indonesia. Di sisi lain, popularitas tersebut juga membuat aplikasi percakapan ini terus dimanfaatkan pelaku penipuan untuk mendekati calon korban.
Modusnya tidak lagi selalu berupa pesan sederhana yang menawarkan hadiah atau meminta transfer uang. Pelaku dapat menyamar sebagai teman, keluarga, petugas layanan, perusahaan, lembaga pemerintah hingga pihak yang mengaku dapat membantu menyelesaikan masalah keuangan.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada 2026 mengingatkan bahwa modus online scam semakin beragam dan kompleks. Salah satunya memanfaatkan manipulasi korban melalui pesan, aplikasi percakapan, data pribadi serta teknologi digital.
baca juga: Panduan Lengkap Mengenali Penipuan Online di 2026: Modus, Ciri-Ciri, dan Cara Melindungi Diri
Karena itu, masyarakat perlu mengetahui pola penipuan WhatsApp yang harus diwaspadai.
1. Penipu Mengaku sebagai Teman atau Keluarga
Salah satu modus yang patut dicurigai adalah pesan dari nomor baru yang mengaku sebagai orang yang dikenal.
Pelaku dapat menggunakan foto profil yang mirip atau bahkan mengambil foto dari akun media sosial korban yang sebenarnya.
Percakapan biasanya dibuat senatural mungkin.
Setelah korban percaya, muncul permintaan:
“Bisa pinjam uang dulu?”
Atau:
“Tolong transfer sekarang, nanti saya kembalikan.”
Masalahnya, nomor tersebut belum tentu milik orang yang dimaksud.
Jangan langsung percaya hanya karena nama dan foto profil terlihat familiar.
Jika menerima pesan seperti ini, hubungi orang tersebut melalui nomor lama atau jalur komunikasi lain yang sudah dikenal.
WhatsApp sendiri menyarankan pengguna berhenti berkomunikasi jika identitas kontak tidak dapat diverifikasi.
2. Mengaku sebagai Customer Service
Pelaku juga dapat menyamar sebagai customer service.
Targetnya bisa berupa pengguna:
- bank;
- marketplace;
- dompet digital;
- layanan internet;
- operator seluler;
- atau platform digital lainnya.
Pelaku kemudian mengklaim ada masalah pada akun korban.
Misalnya:
“Ada transaksi mencurigakan.”
“Akun Anda akan diblokir.”
“Silakan lakukan verifikasi.”
Korban kemudian diarahkan membuka tautan atau memberikan informasi tertentu.
Padahal, pihak yang menghubungi belum tentu berasal dari perusahaan tersebut.
OJK sendiri pernah mengingatkan masyarakat mengenai penipuan melalui WhatsApp yang mengatasnamakan lembaga resmi dan meminta sejumlah uang.
Jika mendapat pesan seperti ini, jangan menggunakan nomor atau tautan yang diberikan pelaku untuk melakukan verifikasi.
Cari sendiri kanal resmi perusahaan tersebut.
3. Link Palsu yang Mengarah ke Situs Berbahaya
Tautan merupakan salah satu bagian yang harus paling dicurigai.
Pelaku dapat mengirim pesan yang terlihat sederhana:
“Cek paket Anda di sini.”
“Klik untuk mendapatkan hadiah.”
“Konfirmasi data rekening.”
“Akun Anda perlu diverifikasi.”
WhatsApp mengingatkan pengguna agar berhati-hati terhadap pesan yang meminta korban mengetuk tautan, mengunduh aplikasi atau memberikan informasi pribadi.
Jangan hanya melihat nama yang muncul pada pesan.
Periksa alamat situs dengan teliti.
Jika ragu, jangan dibuka.
4. Modus Berkas APK atau Aplikasi Palsu
Masyarakat juga perlu berhati-hati ketika menerima file atau ajakan mengunduh aplikasi dari WhatsApp.
Pesan dapat dibuat seolah-olah berasal dari:
- kurir;
- bank;
- kantor;
- pemerintah;
- perusahaan;
- atau seseorang yang dikenal.
OJK pada 2026 mencatat adanya perkembangan modus social engineering yang dapat mengarahkan korban untuk memberikan akses terhadap perangkat, termasuk melalui pemasangan aplikasi atau penggunaan akses jarak jauh.
Karena itu:
Jangan memasang aplikasi hanya karena seseorang mengirimkannya melalui WhatsApp.
Jika memang membutuhkan sebuah aplikasi, cari melalui sumber resmi.
5. Modus Share Screen dan Remote Access
Ini merupakan modus yang perlu mendapat perhatian khusus.
Pelaku dapat mengaku sebagai petugas layanan dan meminta korban melakukan:
“Share screen.”
atau memasang aplikasi tertentu untuk membantu menyelesaikan masalah.
Padahal, jika korban memberikan akses layar atau perangkat kepada pihak yang tidak terpercaya, informasi sensitif yang muncul di layar dapat ikut terlihat.
OJK mencatat social engineering dengan remote access, termasuk permintaan share screen atau pemasangan aplikasi akses jarak jauh, sebagai salah satu modus yang berkembang dan perlu diwaspadai.
Jika seseorang yang tidak dapat diverifikasi meminta akses terhadap layar atau perangkat:
berhenti.
Jangan lanjutkan instruksi tersebut.
6. Penipuan Mengatasnamakan OJK atau Lembaga Resmi
Menggunakan nama lembaga resmi dapat membuat pesan palsu terlihat lebih meyakinkan.
OJK beberapa kali mengeluarkan peringatan mengenai penipuan yang mengatasnamakan OJK, termasuk melalui WhatsApp.
Pada Januari 2026, OJK juga mengingatkan bahwa OJK tidak pernah mengeluarkan daftar aplikasi penghasil uang sebagaimana informasi palsu yang beredar.
Sementara itu, OJK kembali mengingatkan masyarakat mengenai penipuan yang mengatasnamakan lembaga dan pejabat OJK.
Jadi, ketika menerima pesan yang mengatasnamakan lembaga resmi, jangan langsung percaya.
Verifikasi melalui kontak resmi lembaga tersebut.
7. Modus Hadiah dan Undian
Pesan:
“Selamat! Nomor Anda memenangkan hadiah.”
masih menjadi pola yang mudah digunakan untuk menarik perhatian.
Pelaku kemudian meminta korban:
- membayar biaya administrasi;
- mengirim data pribadi;
- mengklik tautan;
- menghubungi nomor tertentu;
- atau mentransfer sejumlah uang.
OJK juga telah mengeluarkan peringatan terkait penipuan pemberian dan penyaluran hadiah yang mengatasnamakan OJK.
Jika seseorang meminta uang agar hadiah dapat dicairkan, jangan langsung melakukan pembayaran.
8. Modus Lowongan Kerja Lewat WhatsApp
Tawaran pekerjaan melalui WhatsApp juga perlu diperiksa dengan hati-hati.
Pelaku dapat menawarkan pekerjaan dengan:
- penghasilan tinggi;
- pekerjaan mudah;
- tanpa pengalaman;
- komisi besar;
- atau sistem kerja dari rumah.
Setelah korban tertarik, pelaku dapat meminta:
- biaya pendaftaran;
- deposit;
- transfer;
- pembelian paket;
- atau pemasangan aplikasi tertentu.
OJK memasukkan job scam sebagai salah satu bentuk penipuan digital yang perlu diwaspadai.
Jika sebuah pekerjaan justru meminta calon pekerja menyetor uang terlebih dahulu, jangan buru-buru mengikuti instruksi.
Cari informasi perusahaan secara mandiri.
9. Modus “Nomor Saya Ganti”
Modus sederhana ini dapat menjadi berbahaya ketika pelaku berhasil membuat korban percaya.
Pesan biasanya berbentuk:
“Ini nomor baru saya.”
Kemudian beberapa waktu setelah percakapan berlangsung, muncul permintaan uang.
Jangan langsung menganggap nomor baru benar-benar milik teman atau keluarga.
Telepon nomor lama.
Jika tidak tersambung, gunakan saluran lain untuk melakukan konfirmasi.

10. Ciri-Ciri Pesan WhatsApp yang Patut Dicurigai
Tidak semua pesan dari nomor tidak dikenal adalah penipuan.
Namun, kewaspadaan perlu ditingkatkan jika pesan memiliki beberapa tanda berikut:
🚨 Nomor tidak dikenal
Terutama jika tiba-tiba meminta uang atau data.
🚨 Mendesak
Korban diminta mengambil keputusan secepat mungkin.
🚨 Mengancam
Misalnya akun akan diblokir atau ada konsekuensi tertentu jika tidak segera mengikuti instruksi.
🚨 Meminta informasi pribadi
Termasuk data rekening, password, PIN atau kode keamanan.
🚨 Mengirim tautan
Terutama jika korban diminta login atau mengisi data.
🚨 Menawarkan keuntungan tidak masuk akal
Hadiah besar atau keuntungan tinggi tanpa proses yang jelas.
🚨 Meminta instalasi aplikasi
Terutama aplikasi yang tidak dikenal atau berasal dari sumber tidak resmi.
WhatsApp sendiri menyebut pesan dari nomor yang tidak dikenal, permintaan uang atau informasi pribadi, serta tekanan agar pengguna segera bertindak sebagai tanda yang perlu diperhatikan.
Jangan Pernah Memberikan OTP dan PIN
Ini aturan yang sebaiknya tidak dilanggar.
OTP, PIN, password dan kode keamanan adalah informasi rahasia.
Jika seseorang mengaku petugas dan meminta informasi tersebut, jangan langsung memberikannya.
Putuskan komunikasi.
Kemudian hubungi perusahaan atau bank melalui kanal resmi.
Jangan gunakan nomor telepon atau tautan yang diberikan orang tersebut.
Apa yang Harus Dilakukan Jika Mendapat Pesan Mencurigakan?
WhatsApp memberikan pendekatan sederhana:
1. Berhenti dan pikirkan
Jangan langsung merespons.
2. Jangan klik
Hindari tautan atau file yang tidak dapat diverifikasi.
3. Jangan memberikan data
Jangan kirim password, PIN, OTP atau informasi keuangan.
4. Verifikasi
Hubungi pihak yang sebenarnya melalui saluran yang sudah dikenal.
5. Blokir
Jika terbukti mencurigakan, blokir nomor tersebut.
6. Laporkan
Gunakan fitur pelaporan WhatsApp.
WhatsApp secara resmi merekomendasikan pengguna untuk pause and think, menghentikan percakapan, memblokir dan melaporkan kontak mencurigakan, serta mengaktifkan verifikasi dua langkah.
Cara Mengamankan Akun WhatsApp
WhatsApp menyediakan fitur verifikasi dua langkah yang menambahkan PIN keamanan ketika akun diakses.
Pengguna juga dapat menyesuaikan pengaturan privasi dan menggunakan fitur untuk mengurangi gangguan dari panggilan atau pesan tidak dikenal.
Langkah sederhana yang dapat dilakukan:
- aktifkan verifikasi dua langkah;
- gunakan kunci layar perangkat;
- jangan membagikan kode keamanan;
- periksa perangkat tertaut;
- batasi informasi pribadi yang ditampilkan;
- blokir akun mencurigakan;
- laporkan pesan penipuan.
Jika Sudah Terlanjur Transfer Uang
Jangan menunggu.
Segera:
1. Hubungi bank atau penyedia layanan keuangan.
2. Simpan seluruh bukti transaksi.
3. Screenshot percakapan.
4. Simpan nomor telepon dan rekening tujuan.
5. Laporkan melalui Indonesia Anti-Scam Centre (IASC).
Data terbaru OJK menunjukkan bahwa IASC terus menerima laporan penipuan dalam jumlah besar. Hingga 31 Juli 2026, IASC telah menerima 637.055 laporan, dengan sekitar Rp724,1 miliar dana terkait penipuan berhasil diblokir dan sekitar Rp204,3 miliar dikembalikan kepada korban.
Angka tersebut menunjukkan satu hal penting:
kecepatan pelaporan sangat penting.
Semakin cepat korban bertindak, semakin besar peluang aliran dana dapat ditelusuri atau diblokir, meski tidak ada jaminan dana pasti kembali.
Jangan Tunggu Sampai Menjadi Korban
Penipuan WhatsApp tidak selalu terlihat seperti penipuan.
Pesannya bisa sopan.
Foto profilnya bisa meyakinkan.
Nama yang muncul bisa terlihat familiar.
Bahkan pelaku bisa mengetahui sebagian informasi tentang calon korban.
Karena itu, jangan menjadikan tampilan pesan sebagai satu-satunya dasar untuk percaya.
Gunakan prinsip sederhana:
BERHENTI — CEK — VERIFIKASI
Jika ada permintaan uang, data pribadi, kode keamanan, tautan atau instalasi aplikasi yang datang secara tiba-tiba, jangan terburu-buru mengikuti instruksi.
Lebih baik kehilangan beberapa menit untuk melakukan verifikasi daripada kehilangan uang atau akses ke akun.
Kesimpulan
Modus penipuan WhatsApp pada 2026 semakin beragam. Pelaku dapat menyamar sebagai teman, keluarga, customer service, lembaga resmi atau perusahaan, lalu menggunakan tautan, aplikasi, manipulasi psikologis maupun permintaan data untuk menjebak korban.
Masyarakat perlu membangun kebiasaan untuk tidak langsung percaya pada pesan yang mendesak, tidak memberikan OTP atau PIN, tidak sembarangan membuka tautan maupun memasang aplikasi, serta selalu melakukan verifikasi melalui saluran resmi.
Jika sudah menjadi korban, segera hubungi penyedia layanan keuangan dan laporkan melalui kanal resmi seperti IASC.
Ingat: nomor WhatsApp bisa berganti, foto profil bisa dicuri, dan identitas bisa dipalsukan. Tetapi kebiasaan melakukan verifikasi tetap menjadi pertahanan pertama.
Sumber: Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Indonesia Anti-Scam Centre (IASC), dan WhatsApp Help Center.
kaje/red








