PM2.5 menjadi salah satu parameter penting ketika kabut asap menyelimuti permukiman. Partikel berukuran sangat kecil ini dapat masuk jauh ke saluran pernapasan, sementara paparan asap kebakaran dapat memicu berbagai keluhan kesehatan, terutama pada kelompok rentan.
PARAGRAFNEWS.CO — Kabut asap tidak hanya membuat jarak pandang terganggu. Di balik udara yang terlihat berkabut, terdapat campuran gas dan partikel halus yang dapat terhirup manusia.
Salah satu yang perlu diperhatikan adalah PM2.5, yaitu partikulat berukuran sangat kecil yang menjadi perhatian dalam pemantauan kualitas udara. Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO) menjelaskan bahwa paparan polusi udara, termasuk partikulat, berkaitan dengan berbagai dampak terhadap kesehatan manusia.
Ketika kabut asap muncul akibat kebakaran hutan dan lahan, masyarakat perlu memahami arti PM2.5 dan mengetahui langkah yang dapat dilakukan untuk mengurangi paparan.
Apa Itu PM2.5?
PM2.5 merupakan singkatan dari particulate matter 2.5, yaitu partikel udara dengan diameter aerodinamis sekitar 2,5 mikrometer atau lebih kecil.
Ukurannya yang sangat kecil membuat partikel tersebut berbeda dengan debu berukuran besar yang relatif mudah terlihat.
baca juga: Kabut Asap Kaltim Makin Mengkhawatirkan, Samarinda Sangat Tidak Sehat, Bontang Tembus ISPU 115
Udara Sangatta Mulai Membaik, Bupati Ardiansyah: “Hari Ini Muka Semua Kelihatan Jelas”
Menurut WHO, bukti ilmiah mengenai dampak polusi udara terhadap kesehatan semakin kuat. Dalam WHO Global Air Quality Guidelines, partikulat seperti PM2.5 dikaitkan dengan sejumlah penyakit, termasuk penyakit jantung iskemik, stroke, penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), asma, dan kanker.
Karena itu, kualitas udara tidak sebaiknya dinilai hanya berdasarkan apakah asap terlihat tebal atau tipis.
Mengapa PM2.5 Penting Saat Kabut Asap?
Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), asap kebakaran merupakan campuran gas dan partikel halus dari material yang terbakar. Asap tersebut juga dapat menjangkau wilayah yang jauh dari lokasi kebakaran.
CDC mencatat bahwa menghirup asap kebakaran dapat menyebabkan sejumlah keluhan, antara lain:
- batuk;
- kesulitan bernapas;
- mengi atau napas berbunyi;
- serangan asma;
- mata terasa perih;
- tenggorokan terasa mengganjal;
- hidung berair;
- sakit kepala;
- kelelahan;
- nyeri dada; dan
- jantung berdebar lebih cepat.
CDC menegaskan bahwa asap kebakaran dapat membuat siapa saja sakit, tetapi risiko gangguan kesehatan lebih tinggi pada kelompok tertentu.
Siapa yang Perlu Lebih Waspada?
Tidak semua orang memiliki tingkat risiko yang sama ketika terpapar asap.
1. Anak-anak
CDC menyarankan agar anak-anak mendapatkan perhatian khusus ketika kualitas udara buruk. Anak dengan asma atau kondisi kesehatan kronis dapat mengalami gejala yang lebih berat, termasuk kesulitan bernapas.
Ketika kualitas udara buruk, CDC menyarankan anak lebih banyak berada di dalam ruangan serta memperhatikan laporan kualitas udara dan arahan terkait aktivitas luar ruangan.
2. Orang dengan penyakit kronis
Menurut CDC, orang dengan kondisi kronis seperti asma, PPOK, diabetes, penyakit ginjal kronis, atau penyakit jantung termasuk kelompok yang perlu lebih berhati-hati terhadap asap kebakaran.
3. Ibu hamil
CDC juga memasukkan ibu hamil sebagai kelompok yang memiliki risiko lebih tinggi terhadap dampak kesehatan akibat asap kebakaran.
4. Pekerja yang harus beraktivitas di luar ruangan
Pekerja luar ruangan dapat menghadapi paparan lebih lama. NIOSH, bagian dari CDC, menyarankan pengurangan paparan melalui pemantauan kualitas udara, penjadwalan ulang pekerjaan jika memungkinkan, serta penggunaan respirator yang sesuai dalam kondisi tertentu.
Jangan Menilai Kualitas Udara Hanya dari Kondisi Langit
Ketika kabut asap mulai menipis, langit mungkin terlihat lebih cerah dan matahari kembali terlihat.
Namun, kondisi visual bukan pengganti hasil pengukuran kualitas udara.
WHO menekankan pentingnya data kualitas udara untuk memahami tingkat paparan polusi. Dalam pembaruan data 2026, WHO juga kembali menekankan bahwa pemantauan yang andal merupakan dasar penting untuk memahami risiko polusi udara dan mengambil tindakan.
Karena itu, ketika terjadi kabut asap, masyarakat sebaiknya melihat informasi kualitas udara dari sumber resmi, bukan hanya mengandalkan penglihatan atau bau asap.
Apa yang Bisa Dilakukan Saat Udara Memburuk?
Langkah utama adalah mengurangi paparan.
Kurangi aktivitas di luar ruangan
Jika kualitas udara memburuk, kurangi waktu berada di luar rumah. Aktivitas fisik berat di luar ruangan juga sebaiknya dikurangi karena dapat meningkatkan jumlah udara yang masuk ke paru-paru.
Tutup pintu dan jendela
Ketika asap berada di luar rumah, pintu dan jendela yang tertutup dapat membantu mengurangi masuknya asap ke dalam ruangan.
CDC menyarankan masyarakat untuk tetap berada di dalam ruangan sebanyak mungkin ketika terjadi paparan asap dan mengikuti informasi kualitas udara.
Hindari menambah polusi di dalam rumah
Kualitas udara dalam ruangan juga perlu diperhatikan.
Aktivitas yang menghasilkan banyak asap, seperti membakar sesuatu, merokok, atau memasak dengan cara yang menghasilkan banyak asap, dapat memperburuk kondisi udara di dalam rumah.
Gunakan respirator yang sesuai bila harus keluar
NIOSH menjelaskan bahwa respirator N95 atau P100 yang disetujui NIOSH dapat membantu menyaring partikel kecil, termasuk PM2.5, ketika digunakan dengan benar dan memiliki kecocokan yang baik dengan wajah.
Namun, penggunaan respirator bukan berarti seseorang dapat mengabaikan kondisi udara. Mengurangi paparan tetap menjadi langkah utama.
Untuk anak-anak, CDC memberikan perhatian khusus terhadap ukuran dan kecocokan respirator. Masker yang tidak pas dapat mengurangi manfaat perlindungannya. CDC juga mencatat bahwa masker debu, masker bedah, bandana, dan kain basah bukan perlindungan yang setara terhadap asap.
Kapan Harus Mencari Pertolongan Medis?
Tidak semua keluhan akibat asap berarti keadaan darurat. Namun, beberapa gejala perlu mendapatkan perhatian medis.
CDC menyarankan mencari pertolongan medis apabila seseorang mengalami kesulitan bernapas, sesak napas, batuk yang tidak berhenti, atau gejala lain yang tidak membaik. Untuk kondisi darurat seperti gangguan pernapasan berat atau nyeri dada, pertolongan medis segera diperlukan.
Bagi penderita asma atau penyakit kronis lainnya, tindakan sebaiknya mengikuti rencana kesehatan dan anjuran tenaga medis yang menangani.
Bagaimana Kaitannya dengan Kabut Asap di Kalimantan Timur?
Isu PM2.5 menjadi relevan ketika sejumlah wilayah di Kalimantan Timur mengalami kabut asap yang dikaitkan dengan kebakaran hutan dan lahan.
Di Sangatta, Kutai Timur, kondisi udara sebelumnya menjadi perhatian pemerintah daerah. Pemkab Kutai Timur bahkan mengambil langkah penanganan dan pemantauan terhadap dampak pencemaran udara.
Ketika kondisi visual mulai membaik, pemantauan kualitas udara tetap diperlukan.
Udara yang terlihat lebih cerah tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa seluruh parameter kualitas udara telah kembali normal.
Karena itu, masyarakat di wilayah terdampak sebaiknya tetap mengikuti pembaruan kualitas udara dan imbauan dari pemerintah maupun instansi terkait.
PM2.5 Bukan Alasan untuk Panik, tetapi Perlu Dipahami
Memahami PM2.5 bukan berarti masyarakat harus panik setiap kali melihat kabut asap.
Sebaliknya, informasi mengenai PM2.5 dapat membantu masyarakat mengambil langkah yang lebih terukur: mengurangi aktivitas luar ruangan ketika kualitas udara memburuk, menjaga udara dalam ruangan, memberikan perhatian lebih kepada kelompok rentan, dan mencari bantuan medis ketika muncul gejala serius.
WHO menekankan bahwa polusi udara merupakan faktor risiko kesehatan yang penting, sedangkan CDC memberikan panduan praktis untuk mengurangi paparan asap kebakaran.
Dengan demikian, data kualitas udara dan informasi dari sumber resmi lebih penting daripada sekadar melihat apakah langit tampak cerah atau berkabut.
Catatan Redaksi
Artikel ini disusun sebagai informasi kesehatan umum berdasarkan sumber resmi World Health Organization (WHO), Centers for Disease Control and Prevention (CDC), dan National Institute for Occupational Safety and Health (NIOSH).
Artikel ini tidak dimaksudkan untuk menggantikan diagnosis atau konsultasi medis. Kondisi kualitas udara dapat berubah sewaktu-waktu sehingga pembaca disarankan mengikuti informasi terbaru dari otoritas resmi di wilayah masing-masing.
Sumber Resmi
- World Health Organization (WHO) — WHO Global Air Quality Guidelines: Particulate Matter (PM2.5 and PM10), Ozone, Nitrogen Dioxide, Sulfur Dioxide and Carbon Monoxide.
- World Health Organization (WHO) — pembaruan data kualitas udara dan kesehatan, 29 Juni 2026.
- Centers for Disease Control and Prevention (CDC) — How Wildfire Smoke Affects Your Body, diperbarui 24 Agustus 2026.
- Centers for Disease Control and Prevention (CDC) — Wildfire Smoke and Children, diperbarui 24 Agustus 2026.
- Centers for Disease Control and Prevention (CDC) — Wildfire Smoke and People with Chronic Conditions, diperbarui 24 Agustus 2026.
- NIOSH/CDC — How to Protect Workers and the Public from Wildfire Smoke.





