Internasional

F-35 Arab Saudi vs Israel: Apa Bedanya dan Mengapa Jet Tempur Ini Jadi Isu Sensitif di Timur Tengah?

×

F-35 Arab Saudi vs Israel: Apa Bedanya dan Mengapa Jet Tempur Ini Jadi Isu Sensitif di Timur Tengah?

Sebarkan artikel ini

PARAGRAFNEWS.CO — Persetujuan Amerika Serikat untuk membuka jalan bagi potensi penjualan hingga 48 jet tempur F-35A kepada Arab Saudi senilai sekitar US$24,3 miliar membawa satu pertanyaan besar: jika Riyadh benar-benar mengoperasikan F-35, apakah pesawat tersebut akan memiliki kemampuan yang sama dengan F-35I Adir milik Israel?

Pertanyaan tersebut menjadi penting karena Israel selama ini merupakan satu-satunya negara di Timur Tengah yang mengoperasikan F-35. Sementara itu, Saudi Arabia berpotensi menjadi negara Arab pertama yang memperoleh pesawat tempur siluman generasi kelima tersebut jika transaksi akhirnya terealisasi.

artikel terkait: AS Setujui Potensi Penjualan 48 F-35 ke Arab Saudi Senilai US$24,3 Miliar, Timur Tengah Bersiap Masuki Babak Baru

Namun, ada perbedaan mendasar antara F-35A standar yang berpotensi masuk ke Arab Saudi dan F-35I Adir yang digunakan Angkatan Udara Israel.

F-35A Saudi dan F-35I Israel Bukan Sekadar Beda Nama

F-35A merupakan varian F-35 dengan konfigurasi lepas landas dan mendarat konvensional. Varian ini digunakan Amerika Serikat dan sejumlah negara mitra.

Sementara Israel mengoperasikan F-35I Adir, yaitu versi yang mendapat sejumlah modifikasi dan integrasi sistem khusus Israel.

Dokumen Congressional Research Service AS menjelaskan bahwa Israel memperoleh kemampuan untuk mengintegrasikan sejumlah sistem dan perangkat lunak nasional ke dalam F-35I. Hal tersebut membuat F-35I memiliki karakteristik yang berbeda dibanding F-35A standar yang digunakan banyak negara lain.

Artinya, meskipun sama-sama menggunakan keluarga F-35, F-35A Saudi tidak otomatis identik dengan F-35I Israel.

Apa Keunggulan F-35I Adir Israel?

Salah satu aspek yang membuat F-35I berbeda adalah tingkat integrasi sistem nasional Israel.

Israel mengembangkan kemampuan tertentu untuk mengintegrasikan perangkat lunak, sistem peperangan elektronik dan persenjataan nasional dengan platform F-35.

Menurut Congressional Research Service, Israel bahkan memperoleh pengaturan khusus terkait pengoperasian dan pemeliharaan sistem F-35 serta kemampuan untuk menambahkan perangkat lunak spesifik Israel.

Karena itu, membandingkan kemampuan F-35 hanya berdasarkan nama varian tidak cukup.

Kemampuan sebenarnya sebuah F-35 juga dipengaruhi oleh:

  • perangkat lunak;
  • sistem peperangan elektronik;
  • sensor;
  • integrasi senjata;
  • jaringan komunikasi;
  • data intelijen;
  • sistem komando dan kendali;
  • kemampuan pemeliharaan;
  • pelatihan pilot;
  • serta pengalaman operasional.

Dengan kata lain, dua negara yang sama-sama memiliki F-35 belum tentu mempunyai kemampuan operasional yang benar-benar identik.

Lalu F-35 Saudi Akan Seperti Apa?

Di sinilah persoalan menjadi menarik.

Pemberitahuan terbaru pemerintah AS menyebut potensi penjualan 48 F-35 kepada Arab Saudi. Paket tersebut juga mencakup 49 mesin Pratt & Whitney F135, peralatan komunikasi, suku cadang, pelatihan serta dukungan logistik.

Namun, pemberitahuan tersebut tidak menyebutkan bahwa Arab Saudi akan mendapatkan F-35I seperti Israel.

Janes melaporkan bahwa pesawat yang kemungkinan ditawarkan kepada Saudi adalah F-35A dengan konfigurasi conventional take-off and landing, sebagaimana digunakan oleh Amerika Serikat dan sebagian besar operator internasional.

Sementara itu, rincian konfigurasi akhir, perangkat lunak, persenjataan dan integrasi sistem Saudi masih menjadi bagian dari proses pengadaan.

Yang juga penting: persenjataan tidak termasuk dalam persetujuan penjualan yang diumumkan pada 17 September 2026.

Mengapa Israel Sangat Sensitif?

Masuknya F-35 ke Arab Saudi berkaitan langsung dengan konsep Qualitative Military Edge (QME) Israel.

Secara sederhana, kebijakan AS mengharuskan Washington mempertimbangkan kemampuan Israel untuk mempertahankan keunggulan militer kualitatif dibanding negara-negara lain di kawasan Timur Tengah.

Reuters melaporkan bahwa Washington harus mempertimbangkan kebijakan tersebut dalam setiap penjualan sistem senjata canggih kepada negara-negara Timur Tengah.

Departemen Luar Negeri AS sendiri menyatakan bahwa usulan penjualan F-35 kepada Saudi tidak akan mengubah keseimbangan militer di kawasan. Namun, pemberitahuan publik tersebut tidak menjelaskan secara rinci bagaimana penilaian tersebut dibuat.

Inilah yang membuat konfigurasi akhir F-35 Saudi menjadi perhatian.

Apakah Saudi Akan Mendapat F-35 yang “Dipangkas”?

Belum ada informasi publik yang cukup untuk menyimpulkan bahwa Saudi akan menerima F-35 yang secara khusus “dipangkas” atau dibuat jauh lebih lemah.

Bahkan, pemberitaan terbaru menyebut belum ada indikasi dalam pemberitahuan penjualan bahwa Saudi akan mendapatkan F-35A dengan kemampuan yang secara sengaja diturunkan.

Yang sudah dapat dipastikan adalah bahwa F-35I Israel memiliki modifikasi nasional yang membedakannya dari F-35A standar.

Karena itu, lebih tepat mengatakan bahwa:

F-35 Saudi dan F-35 Israel akan sama-sama berasal dari keluarga F-35, tetapi konfigurasi dan integrasi sistemnya dapat berbeda.

48 F-35 Belum Berarti Saudi Sudah Resmi Memilihnya

Ada satu fakta penting yang berpotensi terlewat dalam pemberitaan.

Persetujuan Departemen Luar Negeri AS atas potensi penjualan tidak otomatis berarti Arab Saudi telah menyelesaikan seluruh proses pemilihan pesawat tempur.

Janes melaporkan bahwa Angkatan Udara Kerajaan Saudi masih berada dalam proses pengadaan sekitar 50 pesawat tempur baru. Beberapa kandidat yang disebut antara lain Dassault Rafale, Boeing F-15EX Eagle II dan Eurofighter Typhoon.

Jadi, berita tentang persetujuan F-35 perlu dibedakan menjadi dua hal:

Pertama, Washington telah menyetujui kemungkinan penjualan hingga 48 F-35.

Kedua, proses pengadaan final dan kontrak Saudi masih memiliki tahapan yang harus dilalui.

Bahkan persetujuan tersebut masih harus melewati peninjauan Kongres AS selama 30 hari.

Mengapa F-35 Begitu Berbeda dari F-15 Saudi?

Arab Saudi sebenarnya sudah memiliki kekuatan udara yang besar.

Janes mencatat armada Saudi mencakup berbagai varian F-15, Eurofighter Typhoon serta pesawat Tornado yang lebih tua.

F-35 memberikan kemampuan yang berbeda karena sejak awal dirancang sebagai pesawat tempur generasi kelima yang menggabungkan:

Stealth + sensor + sensor fusion + peperangan elektronik + jaringan data.

Artinya, F-35 bukan hanya mengenai kemampuan membawa senjata atau bertarung satu lawan satu di udara.

Pesawat ini dirancang untuk membantu pilot mendapatkan gambaran medan pertempuran dari berbagai sensor dan membagikan informasi tersebut melalui jaringan.

Karena itu, pembangunan kemampuan F-35 juga membutuhkan infrastruktur, pelatihan, pemeliharaan, keamanan informasi dan sistem jaringan yang kompleks.

Bukan Hanya Pesawat, Tapi Ekosistem

Nilai paket Saudi mencapai US$24,3 miliar, jauh lebih besar dibanding sekadar harga badan pesawat.

Paket tersebut mencakup puluhan mesin, komunikasi, pelatihan, suku cadang dan dukungan logistik.

Hal ini menunjukkan bahwa pengadaan F-35 merupakan pembangunan sebuah ekosistem kemampuan tempur, bukan sekadar membeli puluhan jet.

Bagi Saudi, konsekuensinya bukan hanya memiliki pesawat baru.

Riyadh juga harus membangun kemampuan untuk mengoperasikan, merawat dan mengintegrasikan pesawat tersebut dengan sistem pertahanan udara serta jaringan militernya.

China Juga Menjadi Perhatian Washington

Ada persoalan lain di luar Israel: China.

Reuters dan Axios melaporkan bahwa hubungan pertahanan Saudi dengan China menjadi salah satu perhatian dalam pembahasan mengenai kemungkinan transfer teknologi F-35.

F-35 membawa teknologi yang sangat sensitif.

Karena itu, keamanan fasilitas, jaringan komunikasi, pemeliharaan, perangkat lunak dan akses terhadap sistem pendukung menjadi bagian penting dari pertimbangan Washington.

Seorang pejabat Departemen Luar Negeri AS, sebagaimana dikutip Axios, mengatakan proses penjualan pertahanan mempertimbangkan berbagai aspek, termasuk perlindungan keunggulan teknologi militer Amerika Serikat.

Jadi, Apakah F-35 Saudi Akan Sama dengan F-35 Israel?

Jawabannya: belum dapat dikatakan sama.

Yang sudah diketahui:

Saudi: berpotensi memperoleh F-35A.

Israel: mengoperasikan F-35I Adir.

Perbedaan: F-35I Israel memiliki sejumlah integrasi dan modifikasi nasional.

Status Saudi: transaksi masih berada dalam proses dan belum menghasilkan pesawat operasional Saudi.

Persenjataan: tidak termasuk dalam persetujuan penjualan yang diumumkan 17 September 2026.

Jumlah: hingga 48 pesawat.

Nilai: sekitar US$24,3 miliar.

Tahap berikutnya: peninjauan Kongres AS dan proses kontrak.

Dengan demikian, pertanyaan terbesar bukan hanya apakah Arab Saudi akan mendapatkan F-35.

Pertanyaan yang lebih penting adalah konfigurasi seperti apa yang akhirnya disepakati Washington dan Riyadh, sistem apa yang akan diintegrasikan, serta bagaimana AS memastikan kebijakan keunggulan militer kualitatif Israel tetap terpenuhi.

Untuk saat ini, jawabannya masih menunggu tahapan berikutnya dalam proses penjualan.


Sumber

Reuters — 17 September 2026.
Janes — 17 September 2026.
Axios — 17 September 2026.
Congressional Research Service — kajian mengenai QME Israel dan F-35.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *