EkonomiNasional

Dolar AS Tembus Rp18.000, Rupiah Tertekan! BI Turun Tangan, IHSG Anjlok

×

Dolar AS Tembus Rp18.000, Rupiah Tertekan! BI Turun Tangan, IHSG Anjlok

Sebarkan artikel ini
dolar tembus 18000
Poster ilustrasi kurs rupiah terhadap sejumlah mata uang asing, termasuk dolar AS, euro, dolar Singapura, yen Jepang, pound sterling, dolar Australia, dan ringgit Malaysia. Data kurs mengacu pada Bank Indonesia per 16 Oktober 2026. Grafis: Paragrafnews.co

JAKARTA — Nilai tukar rupiah kembali mendapat tekanan serius setelah menyentuh level Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Jumat (16/10/2026). Di tengah gejolak pasar keuangan, Bank Indonesia (BI) menegaskan akan terus melakukan intervensi untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

Tekanan terhadap mata uang Garuda terjadi bersamaan dengan gejolak pasar saham Indonesia. Situasi ini menambah perhatian pelaku pasar terhadap arus modal asing, kepercayaan investor, serta prospek perekonomian nasional.

Dilansir ANTARA, BI menyatakan akan terus hadir di pasar keuangan untuk menjaga nilai tukar rupiah agar bergerak sesuai fundamentalnya, di tengah meningkatnya sentimen risk-off global atau kecenderungan investor menghindari aset berisiko.

Rupiah Tembus Level Psikologis Rp18.000

Data kurs transaksi Bank Indonesia pada 16 Oktober 2026 mencatat kurs jual dolar AS sebesar Rp18.037,74 dan kurs beli Rp17.858,26. Angka tersebut menunjukkan tekanan nilai tukar rupiah yang semakin menjadi perhatian.

Sementara itu, laporan ANTARA menyebut rupiah menyentuh Rp18.000 per dolar AS pada perdagangan pagi. Pergerakan nilai tukar di pasar dapat berbeda dari kurs transaksi BI karena masing-masing menggunakan mekanisme dan waktu pencatatan yang berbeda.

baca juga: APBN 2027 Tembus Rp4.106 Triliun, Bontang Siapkan APBD Rp2 Triliun dengan 7 Program Unggulan

Pelemahan rupiah menjadi perhatian karena perubahan nilai tukar dapat memengaruhi biaya impor, pembayaran kewajiban dalam valuta asing, serta harga barang yang bergantung pada bahan baku dari luar negeri.

Meski demikian, dampaknya terhadap harga barang dan inflasi tidak terjadi secara otomatis. Besarnya pengaruh bergantung pada durasi pelemahan rupiah, kondisi permintaan, biaya produksi, dan kebijakan pemerintah.

BI Perkuat Intervensi untuk Menjaga Rupiah

Bank Indonesia menegaskan komitmennya menjaga stabilitas nilai tukar di tengah tekanan pasar global. Upaya stabilisasi dilakukan melalui berbagai instrumen moneter dan transaksi di pasar valuta asing.

Langkah intervensi tersebut ditujukan untuk menjaga agar pergerakan rupiah tetap sejalan dengan kondisi fundamental ekonomi dan mekanisme pasar berjalan dengan baik.

Di tengah tekanan tersebut, BI juga menyampaikan bahwa cadangan devisa Indonesia tercatat sebesar US$146,3 miliar pada akhir September 2026.

Kondisi cadangan devisa menjadi salah satu indikator penting dalam menilai kemampuan negara menghadapi tekanan eksternal. Namun, efektivitas stabilisasi tetap bergantung pada perkembangan pasar, arus modal, dan sentimen investor.

Gejolak Pasar Saham Menambah Tekanan

Tekanan terhadap rupiah berlangsung bersamaan dengan kejatuhan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Reuters melaporkan IHSG sempat merosot hingga 11,4 persen pada perdagangan Jumat, menjadi penurunan harian terdalam sejak Januari 1998.

Gejolak tersebut menyusul langkah penyedia indeks global MSCI yang mengusulkan penurunan klasifikasi pasar saham Indonesia dari kategori emerging market menjadi standalone market.

Usulan tersebut memicu kekhawatiran mengenai potensi arus keluar modal asing. Jika perubahan klasifikasi diterapkan, sejumlah dana investasi yang mengikuti indeks global dapat menyesuaikan atau mengurangi kepemilikan saham Indonesia.

Meski demikian, usulan perubahan klasifikasi itu tidak serta-merta berarti seluruh investor asing akan menarik dananya. Besarnya dampak akan bergantung pada keputusan akhir MSCI, respons otoritas Indonesia, serta keputusan masing-masing investor.

Apa Dampaknya bagi Masyarakat?

Pelemahan rupiah berpotensi meningkatkan biaya impor, terutama untuk barang, bahan baku industri, dan komoditas yang transaksinya menggunakan dolar AS.

Apabila tekanan berlangsung lama dan biaya tambahan diteruskan kepada konsumen, harga sejumlah produk berpotensi meningkat. Pelaku usaha yang memiliki kewajiban dalam dolar AS juga dapat menghadapi beban pembayaran lebih besar ketika pendapatannya didominasi rupiah.

Di sisi lain, eksportir yang menerima pendapatan dalam dolar AS berpotensi memperoleh nilai konversi rupiah lebih besar. Namun, keuntungan tersebut tetap bergantung pada biaya produksi, struktur kontrak, dan kebutuhan bahan baku impor.

Karena itu, pergerakan rupiah perlu dilihat bersama indikator ekonomi lainnya, termasuk inflasi, neraca perdagangan, arus modal, dan kebijakan moneter.

Pasar Menanti Langkah Lanjutan Otoritas

Pelemahan rupiah dan gejolak IHSG menjadi ujian bagi kepercayaan investor terhadap pasar keuangan Indonesia. Respons BI, kebijakan otoritas pasar modal, serta perkembangan keputusan MSCI akan menjadi sejumlah faktor yang diperhatikan pelaku pasar berikutnya.

Untuk saat ini, BI menegaskan tetap hadir di pasar guna menjaga stabilitas nilai tukar. Perkembangan rupiah selanjutnya akan sangat dipengaruhi oleh sentimen global, arus modal, dan kemampuan otoritas menjaga keyakinan investor terhadap perekonomian Indonesia.

Sumber: ANTARA News, Bank Indonesia, dan Reuters.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *