TOLEDO – Tragedi transportasi kembali mengguncang Eropa. Dua kereta cepat bertabrakan di wilayah Urda, Provinsi Toledo, Spanyol, pada Rabu (28/10/2026). Sedikitnya 69 orang dilaporkan meninggal dunia dalam kecelakaan maut yang menjadi salah satu bencana kereta api paling mematikan di negara tersebut dalam lebih dari satu dekade.
Benturan keras menyebabkan sejumlah gerbong keluar dari rel. Beberapa bagian kereta bahkan terlempar ke lereng di sekitar jalur, sementara badan gerbong mengalami kerusakan parah.
Mengutip laporan Reuters, kecelakaan melibatkan kereta milik operator negara Renfe dan kereta yang dioperasikan perusahaan Iryo.
Tim penyelamat mengerahkan alat berat, anjing pelacak, ambulans, serta personel darurat untuk mengevakuasi korban dan memeriksa bangkai kereta.
Pemerintah Spanyol menetapkan tiga hari berkabung nasional sebagai bentuk penghormatan kepada para korban.
Dua Kereta Cepat Bertabrakan di Jalur Madrid-Seville
Kecelakaan terjadi di jalur kereta cepat Madrid-Seville, tepatnya di sekitar wilayah Urda, Provinsi Toledo.
Berdasarkan keterangan awal otoritas Spanyol, sebuah kereta Renfe melanjutkan perjalanan ketika terdapat kereta Iryo yang berhenti di depannya.
Benturan menyebabkan beberapa gerbong mengalami kerusakan berat dan sebagian keluar dari jalur.
Peristiwa tersebut langsung memicu operasi penyelamatan besar-besaran. Petugas harus bekerja di tengah reruntuhan gerbong untuk mencari korban yang masih terjebak.
Reuters melaporkan jumlah korban meninggal mencapai sedikitnya 69 orang. Puluhan lainnya mengalami luka-luka dan sebagian masih menjalani perawatan di rumah sakit.
Investigasi Soroti Kegagalan Sistem Persinyalan
Penyelidikan awal mulai mengarah pada dugaan kegagalan sistem keselamatan perjalanan kereta.
Menteri Transportasi Spanyol Óscar Puente menjelaskan bahwa sejumlah kereta sebelumnya berhenti secara otomatis setelah terjadi gangguan pada sistem persinyalan.
Setelah pusat kendali di Madrid mengambil alih pengaturan perjalanan, kereta Renfe mendapatkan izin untuk melanjutkan perjalanan meskipun terdapat kereta Iryo yang berhenti di depannya.
Mengutip Reuters, rekaman komunikasi antara pusat kendali dan masinis yang diperoleh surat kabar El País menunjukkan adanya instruksi agar kereta Renfe melanjutkan perjalanan dengan kecepatan normal.
Padahal, menurut Puente, dalam kondisi tersebut terdapat protokol yang mengharuskan kereta melaju dengan kecepatan maksimal 40 kilometer per jam.
Laporan awal juga menyebut kereta yang menabrak tersebut melaju setidaknya 160 kilometer per jam saat benturan terjadi.
Namun, penyebab pasti kecelakaan masih dalam penyelidikan. Otoritas belum menetapkan kesimpulan akhir mengenai tanggung jawab pihak-pihak yang terlibat.
Menteri Transportasi Spanyol Didesak Mundur
Tragedi tersebut memicu tekanan politik terhadap Menteri Transportasi Óscar Puente.
Sejumlah anggota parlemen dari berbagai spektrum politik mempertanyakan tanggung jawab pemerintah atas kecelakaan yang menewaskan puluhan orang tersebut.
Serikat pekerja kereta api juga mendesak agar menteri terkait segera mengundurkan diri.
Namun, Puente menolak tuntutan tersebut.
Dalam konferensi pers pada Jumat (30/10/2026), ia menegaskan bahwa prioritasnya saat ini adalah menyelesaikan persoalan, memastikan penyebab kecelakaan, serta memberikan penjelasan yang transparan kepada masyarakat.
Persoalan semakin rumit karena sistem keselamatan LZB yang mengalami gangguan disebut masih menunggu peningkatan teknologi.
Reuters melaporkan sistem European Rail Traffic Management System (ERTMS) yang direncanakan untuk jalur Madrid-Seville mengalami keterlambatan implementasi. Pemerintah memperkirakan sistem tersebut baru dapat mulai beroperasi pada awal 2027.
Dua Kecelakaan Maut dalam Sembilan Bulan
Kecelakaan di Toledo bukan satu-satunya tragedi kereta cepat yang mengguncang Spanyol sepanjang 2026.
Pada Januari lalu, kecelakaan kereta di wilayah Adamuz, Provinsi Córdoba, juga menewaskan 46 orang.
Dua kecelakaan besar dalam kurun waktu sembilan bulan tersebut memunculkan pertanyaan serius mengenai pemeliharaan infrastruktur dan sistem keselamatan transportasi kereta cepat Spanyol.
Associated Press melaporkan tragedi terbaru telah mengguncang kepercayaan masyarakat terhadap jaringan kereta cepat yang selama ini dikenal sebagai salah satu kebanggaan infrastruktur negara tersebut.
Sejumlah pekerja kereta api bahkan melakukan aksi mogok untuk menuntut peningkatan keselamatan dan investasi pemeliharaan jaringan.
Serikat pekerja menilai keselamatan perjalanan tidak cukup hanya mengandalkan teknologi, tetapi juga membutuhkan sistem pengawasan, perawatan infrastruktur, dan prosedur operasional yang benar-benar berjalan.
Pemerintah Berjanji Mengusut Tuntas
Perdana Menteri Spanyol Pedro Sánchez menyampaikan bahwa pemerintah akan mengusut seluruh penyebab kecelakaan dan memastikan tragedi serupa tidak kembali terjadi.
Pemerintah juga menghadapi tuntutan publik untuk memberikan penjelasan mengenai kemungkinan kegagalan sistem keselamatan.
Sementara itu, proses identifikasi korban berlangsung sulit akibat parahnya kerusakan gerbong. Otoritas sebelumnya melaporkan masih terdapat puluhan orang yang belum diketahui keberadaannya ketika proses pencarian dan identifikasi berlangsung.
Tragedi ini menjadi peringatan serius bagi negara-negara yang mengandalkan transportasi kereta berkecepatan tinggi.
Kecepatan dan efisiensi perjalanan tidak boleh mengalahkan standar keselamatan. Sebab, ketika sistem pengawasan dan prosedur operasional gagal bekerja, dampaknya dapat berubah menjadi bencana yang merenggut puluhan nyawa.