JAKARTA, PARAGRAFNEWS.CO — Uang pecahan Rp100.000 yang memuat tanda tangan Purbaya Yudhi Sadewa sebagai Menteri Keuangan menjadi bahan perbincangan warganet di Threads. Sejumlah pengguna mengajak orang lain mengecek dompet hingga uang yang baru diambil dari mesin ATM.
Percakapan tersebut muncul di tengah perhatian publik terhadap pecahan Rp100.000 Tahun Emisi 2022 dengan Tahun Cetak 2026 yang memuat tanda tangan Purbaya dan Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo.
baca juga: Uang Rp100 Ribu Bertanda Tangan Purbaya Viral, Benarkah Langka dan Bernilai Tinggi?
Salah satu unggahan dari akun Threads @christopherkeju mengajak pengguna lain mengecek dompet masing-masing. Ia menyebut uang dengan tanda tangan Purbaya berpotensi menjadi barang kolektor karena tahun tersebut terjadi pergantian tanda tangan.
“Cek dompet kalian, barangkali lagi megang uang rupiah tandatangannya Purbaya,” tulisnya.
Unggahan itu juga memunculkan spekulasi bahwa pecahan tersebut dapat menjadi barang koleksi setelah terjadi pergantian pejabat.
Warganet Mulai Bertanya: Benarkah Langka?
Bukan hanya ajakan mengecek dompet, sejumlah pengguna Threads justru mempertanyakan kebenaran informasi mengenai kelangkaan uang tersebut.
Akun @sanss.qrrhmn bertanya apakah uang yang memuat tanda tangan Purbaya memang langka.
“Kata nya uang yang tanda tangannya pak Purbaya langka emang iya yah,” tulis akun tersebut.
Pertanyaan serupa disampaikan akun @ni.naazizah. Ia mempertanyakan apakah uang Rp100.000 dengan tanda tangan Purbaya benar-benar menjadi incaran kolektor.
“Apa bener uang 100rb yg ada ttd pak Purbaya jdi incaran kolektor?” tulisnya.
Akun @adittkurr juga mengangkat pertanyaan yang sama kepada pengguna Threads lainnya.
“Guys, bener ga ya kalo uang yang ttd pak purbaya lagi dicari sama kolektor uang?” tulisnya.
Rangkaian unggahan tersebut menunjukkan bahwa perhatian warganet tidak hanya tertuju pada uangnya, tetapi juga pada pertanyaan mengenai kelangkaan dan potensi nilai koleksi.
Ada Warganet yang Mengaku Mendapatkannya dari ATM
Percakapan menjadi semakin menarik setelah akun @indiepurdianto mengaku memperoleh dua lembar pecahan Rp100.000 bertanda tangan Purbaya setelah mengambil uang melalui ATM.
“Barusan ambil uang di ATM, trs dapet 2 lembar pecahan 100rb yang ttd Pak Purbaya,” tulisnya.
Ia kemudian mengatakan uang tersebut menjadi sayang untuk digunakan karena muncul anggapan di kalangan warganet bahwa pecahan itu kelak dapat menjadi uang langka.
Unggahan tersebut memperlihatkan bagaimana informasi yang beredar di media sosial mulai memengaruhi cara sebagian masyarakat memandang uang yang mereka terima dalam transaksi sehari-hari.
Sementara itu, akun @h0anggday kembali mempertanyakan apakah uang Rp100.000 dengan tanda tangan Purbaya benar-benar akan menjadi incaran kolektor.
“Guys, emang iya uang 100.000 tanda tangan Pak Purbaya bakal jadi uang yang dicari collector?” tulisnya.
Viral di Threads Belum Berarti Uangnya Langka
Ramainya percakapan di Threads perlu dibedakan dari fakta mengenai status dan kelangkaan uang tersebut.
Bank Indonesia sebelumnya menjelaskan bahwa uang Rupiah yang telah dicetak dan beredar tetap berlaku meskipun terjadi pergantian pejabat. Pecahan Rp100.000 Tahun Emisi 2022 dengan Tahun Cetak 2026 yang memuat tanda tangan Purbaya dan Perry Warjiyo tetap merupakan alat pembayaran yang sah.
Dengan demikian, masyarakat tidak perlu menganggap uang tersebut tidak dapat digunakan hanya karena tanda tangan pejabat yang tercetak di dalamnya berbeda dengan pejabat yang sedang menjabat.
Persoalan mengenai apakah pecahan tersebut kelak menjadi barang koleksi merupakan hal yang berbeda.
Tanda Tangan Pejabat Bukan Otomatis Membuat Uang Mahal
Dalam dunia numismatik, sebuah uang dapat memiliki daya tarik koleksi karena berbagai faktor. Kondisi fisik, nomor seri, variasi cetakan, kesalahan produksi, jumlah yang beredar, hingga permintaan kolektor dapat memengaruhi nilai sebuah pecahan.
Karena itu, munculnya tanda tangan Purbaya pada uang Rp100.000 tidak otomatis berarti setiap lembar uang tersebut akan mempunyai harga jauh di atas nilai nominalnya.
Begitu pula, percakapan warganet di Threads mengenai uang tersebut belum dapat dijadikan bukti bahwa pecahan itu sudah memiliki harga kolektor tertentu.
Masyarakat yang menemukan uang tersebut tetap dapat menggunakannya sebagai alat pembayaran. Bagi yang tertarik pada numismatik, uang tersebut juga dapat disimpan dalam kondisi baik sambil menunggu perkembangan pasar koleksi.
Fenomena “Cek Dompet” Ikut Meramaikan Media Sosial
Satu hal yang terlihat dari percakapan di Threads adalah munculnya fenomena sederhana: warganet mulai memeriksa uang yang mereka miliki.
Ajakan seperti “cek dompet” dan cerita mendapatkan pecahan tersebut dari ATM membuat topik ini mudah menyebar karena berkaitan langsung dengan aktivitas sehari-hari.
Namun, masyarakat tetap perlu membedakan antara uang yang sedang viral dengan uang yang secara resmi dinyatakan langka.
Sampai ada data yang menunjukkan tingkat kelangkaan atau pasar koleksi yang jelas, klaim bahwa pecahan tersebut pasti bernilai tinggi sebaiknya tidak dianggap sebagai fakta.
Kesimpulan
Uang Rp100.000 bertanda tangan Purbaya Yudhi Sadewa kini menjadi bahan perbincangan warganet di Threads. Sejumlah pengguna mengajak orang lain mengecek dompet, sementara sebagian lainnya mempertanyakan apakah uang tersebut benar-benar langka dan menjadi incaran kolektor.
Ada pula pengguna yang mengaku mendapatkan dua lembar pecahan tersebut dari ATM dan memilih menyimpannya karena khawatir kelak menjadi barang koleksi.
Namun, viral di media sosial tidak otomatis berarti langka. Status uang sebagai alat pembayaran dan nilai koleksinya merupakan dua hal berbeda.
Bagi masyarakat yang menemukan pecahan tersebut, uang Rp100.000 tetap dapat digunakan sesuai nilai nominalnya. Sementara bagi kolektor, perkembangan nilai numismatiknya masih menjadi sesuatu yang perlu dilihat berdasarkan kondisi, kelangkaan, karakteristik uang, dan permintaan pasar.





