GENEWA, 23 September 2026 — Organisasi Meteorologi Dunia (World Meteorological Organization/WMO) menerbitkan peringatan dini terkait lonjakan suhu global yang dipicu oleh fenomena “Super El Niño”. Peningkatan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian timur ini diperkirakan mencapai puncaknya hingga akhir tahun ini dan berdampak langsung pada disrupsi cuaca ekstrem secara global.
Dalam laporan iklim terbarunya, WMO menegaskan bahwa kombinasi antara perubahan iklim antropogenik dan fase El Niño yang sangat kuat berisiko memicu kekeringan panjang, gelombang panas (heatwave), serta penurunan produktivitas sektor pertanian di berbagai belahan dunia.
Ancaman Nyata Bagi Ketahanan Pangan di Asia Tenggara
Kawasan Asia Tenggara (ASEAN), termasuk Indonesia, menjadi salah satu wilayah yang berada dalam radius dampak paling rentan. Gangguan pola curah hujan diproyeksikan akan mengganggu siklus tanam komoditas pangan utama seperti beras, jagung, dan kelapa sawit.
Pakar iklim senior dari Climate Impact Lab, Dr. Aris Thorne, menjelaskan bahwa lonjakan suhu ekstrem yang berkepanjangan dapat memicu kegagalan panen serentak (simultaneous crop failure) di negara-negara produsen pangan utama.
Pernyataan Resmi:
“Kita tidak hanya menghadapi lonjakan suhu udara harian, tetapi ancaman terhadap pasokan rantai makanan global. Tekanan terhadap sektor pertanian akan mendorong kenaikan harga pangan internasional (food inflation) jika langkah mitigasi tidak segera diambil,” ungkap Dr. Aris Thorne dalam konferensi pers yang digelar di Genewa.
Tiga Poin Utama Dampak Super El Niño 2026
Berdasarkan data analisis iklim global WMO, terdapat tiga dampak utama yang menjadi perhatian serius pemerintah di berbagai negara:
- Penurunan Produksi Beras & Komoditas Utama: Kekeringan ekstrem menurunkan debit air irigasi di wilayah sentra pertanian ASEAN dan Asia Selatan.
- Lonjakan Harga Pangan Global: Risiko kenaikan inflasi akibat berkurangnya pasokan dan berlakunya pembatasan ekspor komoditas oleh beberapa negara produsen.
- Krisis Air Bersih & Risiko Kebakaran Hutan: Penurunan intensitas curah hujan secara drastis meningkatkan potensi kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) secara signifikan.
Langkah Mitigasi Bagi Negara Asia Tenggara
Mengantisipasi skenario terburuk tersebut, negara-negara ASEAN didesak untuk memperkuat stok cadangan beras nasional, mempercepat digitalisasi sistem irigasi, serta menerapkan teknologi pertanian tahan iklim (climate-resilient agriculture).
“Setiap negara harus menggeser fokus kebijakan dari sekadar tanggap darurat bencana menjadi manajemen risiko jangka panjang. Efisiensi penggunaan air dan diversifikasi pangan adalah kunci bertahan,” tambah Dr. Thorne.
kaje/red



