NasionalPeristiwa

Karhutla Belum Reda, BNPB Kerahkan Water Bombing dan OMC di Sumatra-Kalimantan

×

Karhutla Belum Reda, BNPB Kerahkan Water Bombing dan OMC di Sumatra-Kalimantan

Sebarkan artikel ini

PARAGRAFNEWS.CO — Asap dan kobaran kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih menjadi pekerjaan besar di sejumlah wilayah Sumatra dan Kalimantan. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memperkuat operasi pemadaman melalui jalur darat dan udara, sekaligus mengerahkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk membantu menghadirkan hujan di wilayah prioritas.

Dalam laporan yang diunggah BNPB melalui akun Instagram resmi @bnpb_indonesia, penanganan dilakukan secara terpadu di sejumlah wilayah yang terdampak karhutla.

baca juga: Kebakaran Pasar di Papua Tengah Tewaskan 11 Orang, Enam Korban Anak-anak

Enam wilayah yang disebut dalam laporan tersebut meliputi Riau, Jambi, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat, sementara penanganan karhutla juga menjadi perhatian di wilayah Sumatra lainnya.

Strategi yang digunakan bukan sekadar mengejar api yang terlihat. Tim di lapangan juga melakukan pendinginan, sementara operasi udara menggunakan helikopter water bombing diarahkan ke lokasi yang membutuhkan penanganan cepat.

Ratusan Hektare Lahan Ditangani

Jika angka luasan yang dilaporkan BNPB dari operasi darat dan udara di lima provinsi tersebut dijumlahkan, terdapat sekitar 318 hektare lahan yang dilaporkan berhasil dipadamkan atau ditangani melalui operasi yang dirinci BNPB.

Angka tersebut merupakan penjumlahan dari data operasi darat dan udara yang disampaikan BNPB dalam laporan per provinsi, sehingga perlu dibaca sebagai capaian penanganan, bukan sebagai total luas seluruh karhutla yang terjadi di Sumatra dan Kalimantan.

Berikut rinciannya:

Wilayah Operasi Udara Operasi Darat OMC
Riau 11 ha 10,2 ha 2 sortie, 2.000 kg NaCl
Jambi 6 ha 19,5 ha —
Kalimantan Selatan 12,5 ha 14,1 ha —
Kalimantan Tengah — 125,4 ha 1 sortie, 800 kg NaCl
Kalimantan Barat 3 ha 92,3 ha 1 sortie, 1.000 kg NaCl

Dari angka tersebut, Kalimantan Tengah menjadi wilayah dengan luasan penanganan darat terbesar, yakni sekitar 125,4 hektare. Disusul Kalimantan Barat dengan sekitar 92,3 hektare melalui operasi darat.

Water Bombing Bergerak dari Langit

Operasi udara menjadi salah satu senjata penting ketika api berada di lokasi yang sulit dijangkau tim darat.

Di Riau, tiga helikopter water bombing melakukan 196 kali penjatuhan air dan dilaporkan berhasil memadamkan sekitar 11 hektare lahan.

Di Jambi, dua helikopter melakukan 82 kali penjatuhan air, dengan sekitar 6 hektare lahan berhasil dipadamkan.

Sementara di Kalimantan Selatan, dua helikopter melakukan operasi yang jauh lebih intensif dengan 258 kali penjatuhan air dan sekitar 12,5 hektare lahan berhasil dipadamkan.

Di Kalimantan Barat, dua helikopter melakukan 80 kali penjatuhan air di Kabupaten Ketapang dan dilaporkan berhasil memadamkan sekitar 3 hektare lahan.

Jika seluruh penjatuhan air yang dirinci BNPB tersebut dijumlahkan, sedikitnya terdapat 616 kali penjatuhan air dalam operasi water bombing di empat provinsi tersebut.

Namun, angka penjatuhan air tidak dapat secara langsung diterjemahkan sebagai luas lahan yang terbakar. Efektivitas pemadaman sangat bergantung pada lokasi titik api, kondisi vegetasi, cuaca, angin, serta akses menuju kawasan yang terbakar.

OMC Digelar untuk Memancing Hujan

Ketika kondisi cuaca menjadi salah satu faktor yang memengaruhi kebakaran, upaya penanganan juga dilakukan dari sisi atmosfer.

Di Riau, BNPB melaporkan dua sortie OMC dengan total 2.000 kilogram NaCl. Operasi tersebut menghasilkan hujan ringan hingga sedang di Bengkalis dan Kepulauan Meranti, serta hujan sedang hingga lebat di Rokan Hilir.

Di Kalimantan Tengah, OMC dilakukan sebanyak satu sortie dengan 800 kilogram NaCl yang disebarkan di sebagian wilayah Seruyan, Kotawaringin Barat, Katingan dan Palangka Raya.

Sedangkan di Kalimantan Barat, satu sortie OMC menggunakan 1.000 kilogram NaCl dan dilaporkan menghasilkan hujan dengan intensitas ringan hingga lebat di sejumlah wilayah.

OMC dalam konteks ini berfungsi sebagai dukungan terhadap operasi penanganan karhutla, terutama untuk membantu meningkatkan peluang turunnya hujan di wilayah sasaran. OMC bukan pengganti operasi pemadaman di lapangan.

Kalimantan Tengah Jadi Salah Satu Titik Berat

Data BNPB memperlihatkan besarnya porsi operasi darat di Kalimantan Tengah.

Sekitar 125,4 hektare lahan dilaporkan berhasil dipadamkan melalui operasi darat yang dilakukan bersama Satgas Darat Provinsi Kalimantan Tengah.

Wilayah penanganan mencakup Murung Raya, Katingan, Barito Selatan, Kotawaringin Timur, Barito Timur, Seruyan, Kapuas, Pulang Pisau dan Barito Utara.

Luas penanganan tersebut menjadi salah satu angka terbesar dalam laporan BNPB dan menunjukkan bahwa operasi darat masih memiliki peran sangat penting dalam menghadapi karhutla di wilayah Kalimantan.

Kalimantan Barat Juga Menghadapi Beban Besar

Kalimantan Barat mencatat sekitar 92,3 hektare lahan yang berhasil ditangani melalui operasi darat.

Di sisi lain, dua helikopter water bombing diterjunkan ke Kabupaten Ketapang dengan 80 kali penjatuhan air.

Penanganan juga diperkuat OMC. BNPB melaporkan hujan turun di sejumlah wilayah, termasuk Sambas, Sintang, Melawi, Bengkayang, Singkawang, Kubu Raya dan Pontianak.

Kombinasi operasi darat, udara dan dukungan cuaca tersebut menjadi bagian dari strategi terpadu untuk mencegah api berkembang semakin luas.

Riau: Tiga Helikopter Dikerahkan

Riau menjadi salah satu wilayah yang mendapat dukungan cukup besar dari operasi udara.

Tiga helikopter water bombing dikerahkan dan melakukan 196 kali penjatuhan air. Selain memadamkan sekitar 11 hektare melalui operasi udara, tim darat juga menangani sekitar 10,2 hektare lahan.

Di saat bersamaan, OMC dilakukan untuk membantu meningkatkan curah hujan di wilayah prioritas.

Hujan yang turun di beberapa daerah menjadi dukungan penting bagi upaya pemadaman, meski pengendalian karhutla tetap membutuhkan operasi darat dan pemantauan berkelanjutan.

Jambi dan Kalimantan Selatan Tetap Diperkuat

Di Jambi, operasi udara dan darat berjalan bersamaan.

Dua helikopter melakukan 82 kali penjatuhan air dengan capaian sekitar 6 hektare lahan, sedangkan operasi darat menangani sekitar 19,5 hektare.

Sementara di Kalimantan Selatan, dua helikopter melakukan 258 kali penjatuhan air. Sekitar 12,5 hektare lahan dilaporkan berhasil dipadamkan melalui operasi udara dan sekitar 14,1 hektare melalui operasi darat.

Wilayah yang ditangani meliputi sejumlah kabupaten dan kota, termasuk Banjarbaru, Banjar, Barito Kuala, Hulu Sungai Selatan, Tapin, Tanah Laut dan Balangan.

BNPB: Penanganan Harus Menyesuaikan Kondisi Lapangan

BNPB menyampaikan bahwa penanganan karhutla dilakukan bersama pemerintah daerah dan satgas di lapangan. Setiap operasi disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan wilayah.

Pendekatan tersebut penting karena karakter kebakaran di setiap daerah tidak selalu sama.

Ada lokasi yang membutuhkan water bombing karena sulit dijangkau melalui jalur darat. Ada pula kawasan yang membutuhkan operasi pemadaman dan pendinginan dalam waktu lebih lama.

Di sisi lain, kondisi cuaca juga menjadi faktor penting. Karena itu, OMC digunakan sebagai salah satu bentuk dukungan untuk membantu menghadirkan hujan di wilayah prioritas.

Angka Besar, Tapi Perjuangan Belum Selesai

Capaian pemadaman ratusan hektare menunjukkan skala operasi yang dilakukan pemerintah. Namun, angka tersebut tidak boleh dibaca sebagai tanda bahwa ancaman karhutla telah berakhir.

Api yang sudah padam tetap membutuhkan pendinginan dan pemantauan. Kondisi lahan yang kering juga dapat membuat bara kembali menyala apabila tidak ditangani secara menyeluruh.

Karena itu, operasi BNPB dan satgas tidak berhenti pada satu kali pemadaman. Pemantauan titik api, pendinginan, operasi udara, operasi darat dan dukungan cuaca tetap menjadi bagian penting dalam pengendalian karhutla.

Di tengah kondisi tersebut, masyarakat juga diimbau tetap waspada terhadap potensi asap dan dampak kebakaran, khususnya mereka yang berada di sekitar kawasan terdampak.

BNPB menegaskan penanganan karhutla terus dilakukan secara terpadu untuk mengendalikan titik api prioritas, mencegah penyebaran kebakaran dan menjaga keselamatan masyarakat.

Sumber: BNPB melalui unggahan akun Instagram resmi @bnpb_indonesia.

kaje/red

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *