Ekonomi

Tak Ingin Kebun Kakao Beralih Jadi Sawit, Kalara Borneo Hidupkan Kembali Tembawang di Kalbar

×

Tak Ingin Kebun Kakao Beralih Jadi Sawit, Kalara Borneo Hidupkan Kembali Tembawang di Kalbar

Sebarkan artikel ini

Ketika hasil panen sulit dipasarkan, kebun kakao milik masyarakat adat terancam ditinggalkan. Kalara Borneo berupaya menghidupkan kembali kebun campuran melalui pembelian langsung, pendampingan petani, dan pengolahan cokelat di Pontianak.

Kebun kakao Kalimantan Barat
Kebun kakao berbasis agroforestri dikembangkan Kalara Borneo bersama masyarakat adat di Kalimantan Barat untuk menjaga keberlanjutan ekonomi pekebun dan kelestarian lingkungan. (Dok. Kalara Borneo)

PONTIANAK, PARAGRAFNEWS – Kebun kakao milik masyarakat adat di Kalimantan Barat menghadapi tantangan ekonomi yang berpotensi mendorong alih fungsi lahan menjadi perkebunan kelapa sawit. Persoalan pemasaran dan rendahnya nilai jual hasil panen membuat sebagian pekebun memilih meninggalkan kebunnya.

Kondisi tersebut menjadi perhatian Kalara Borneo, usaha sosial pengolahan cokelat yang digagas Yohana Tamara. Melalui pembelian biji kakao langsung dari petani serta pendampingan bersama organisasi lokal, Kalara berupaya mengembalikan nilai ekonomi kebun masyarakat agar tetap produktif dan tidak beralih fungsi.

“Kami tidak ingin kebun telantar itu berubah menjadi kebun kelapa sawit,” kata Yessy Octavia R. Tuani Mangasih, Kepala Produksi Kalara Borneo sekaligus bagian dari masyarakat adat Dayak Iban.

Mengutip keterangan dalam siaran pers Kalara Borneo, Senin (2/11/2026), pendekatan yang dikembangkan tidak hanya berorientasi pada produksi kakao, tetapi juga mempertahankan sistem pertanian campuran yang telah lama dikenal masyarakat adat melalui tradisi tembawang.

Model tersebut menggabungkan tanaman kakao dengan berbagai pohon dan komoditas lain sehingga masyarakat tetap memiliki sumber penghasilan tanpa harus membuka kawasan hutan baru.

Kebun Kakao Terancam Ditinggalkan karena Sulit Dipasarkan

Salah satu persoalan utama yang dihadapi pekebun adalah keterbatasan akses pasar. Sebagian masyarakat telah menanam kakao selama bertahun-tahun, tetapi kebunnya tidak lagi dirawat karena hasil panen sulit dijual dengan harga yang layak.

Kalara Borneo berupaya mengatasi persoalan tersebut dengan membuka jalur pembelian langsung dari pekebun. Biji kakao yang dibeli kemudian diolah menjadi produk cokelat di rumah produksi mereka di Pontianak.

Yessy menceritakan pengalaman berinteraksi dengan sejumlah pekebun perempuan di Kabupaten Sanggau yang sebelumnya kebingungan mencari tempat untuk menjual hasil panen.

Melalui kerja sama dengan Langkau Onet, lembaga swadaya masyarakat yang berfokus pada pelestarian budaya lokal melalui karya kreatif, Kalara membuka peluang bagi para pekebun untuk kembali mendapatkan penghasilan dari kebun mereka.

Namun, persoalan tidak berhenti pada pemasaran. Sebagian tanaman kakao membutuhkan perawatan karena sudah lama tidak dikelola. Pekebun juga memerlukan bibit dan pengetahuan untuk meningkatkan kualitas hasil panen.

Untuk itu, Kalara bekerja sama dengan Langkau Onet dan Yayasan Kalimajari dalam kegiatan pendampingan, termasuk melalui sekolah lapang bagi masyarakat.

Kalara juga memberikan pemahaman mengenai standar kualitas biji kakao, terutama proses fermentasi dan kondisi biji yang memenuhi persyaratan pembelian.

“Semakin bagus kalian kasih biji ke kita, semakin tinggi harga yang akan kita kasih ke kalian,” ujar Yessy.

Skema tersebut diharapkan dapat mendorong petani meningkatkan kualitas kakao sekaligus memberikan kepastian pasar yang lebih baik.

Tembawang, Warisan Masyarakat Adat yang Kembali Didorong

Selain membuka pasar, Kalara Borneo mendorong pengembangan agroforestri atau sistem pertanian yang menggabungkan tanaman pertanian dengan pepohonan.

Pendekatan ini dinilai sesuai dengan karakter tanaman kakao yang membutuhkan naungan. Dengan demikian, kakao dapat tumbuh berdampingan dengan berbagai jenis tanaman lain dalam satu kawasan kebun.

Di Kabupaten Kapuas Hulu, misalnya, kakao tumbuh bersama pisang, nanas, jengkol, petai, dan kopi. Di Sintang, tanaman kakao dikembangkan di sela-sela pohon karet. Sementara di Sanggau, kakao tumbuh berdampingan dengan durian.

Praktik tersebut memiliki keterkaitan dengan sistem tembawang, yakni pola pengelolaan kebun campuran yang telah lama dikenal masyarakat adat.

Bagi Yessy, pendekatan tersebut bukan sesuatu yang sepenuhnya baru. Masyarakat adat sebenarnya telah memiliki pengetahuan mengenai pengelolaan lahan dengan beragam jenis tanaman.

“Jadi, kami hanya menghidupkan kembali sistem perkebunan yang sudah lama dipraktikkan oleh masyarakat adat. Tidak perlu mencari sistem yang baru,” katanya.

Melalui kebun campuran, masyarakat diharapkan memperoleh penghasilan dari berbagai komoditas sekaligus mempertahankan keragaman tanaman.

Pendekatan ini juga diarahkan untuk mengoptimalkan lahan yang sudah tersedia sehingga peningkatan ekonomi masyarakat tidak harus dilakukan dengan membuka kawasan hutan baru.

Ekonomi Masyarakat Adat Tak Bisa Dipisahkan dari Pelestarian Hutan

Persoalan penghidupan masyarakat menjadi salah satu perhatian penting dalam upaya menjaga kelestarian lingkungan di Kalimantan Barat.

Yessy menilai, pembicaraan mengenai masyarakat adat selama ini sering berfokus pada peran mereka menjaga hutan dan lingkungan. Padahal, kebutuhan ekonomi sehari-hari, pendidikan anak, dan keberlanjutan penghasilan juga menjadi persoalan yang harus diperhatikan.

“Masyarakatnya, oke, mereka jaga hutan. Tapi mereka dapat uang dari mana?” ujarnya.

Ia juga menghubungkan persoalan pengelolaan kebun dengan tantangan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang masih menjadi perhatian di Kalimantan Barat.

Menurutnya, pengembangan agroforestri dapat menjadi bagian dari pendekatan jangka panjang dalam membangun penghidupan masyarakat yang lebih berkelanjutan. Namun, ia mengingatkan bahwa sistem tersebut bukan solusi instan untuk mengatasi kebakaran hutan.

“Kita nggak bisa bilang agroforestry bisa menjadi solusi yang cepat untuk bisa mengatasi kebakaran hutan,” kata Yessy.

Diperlukan edukasi, pendampingan, perawatan tanaman, serta akses pasar agar kebun campuran benar-benar memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.

Ia menegaskan bahwa pelestarian hutan seharusnya berjalan beriringan dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat yang tinggal di sekitarnya.

“Ketika kita berbicara tentang masyarakat adat, yang selalu kita bicarakan adalah tentang hutannya, tentang lingkungannya. Jarang sekali kita berbicara tentang ekonomi mereka. Padahal, ini merupakan aspek yang juga penting,” tuturnya.

Dari Kakao Petani Lokal Menjadi Cokelat Produksi Pontianak

Upaya Kalara Borneo tidak berhenti pada pembelian hasil panen. Biji kakao dari petani lokal juga diolah menjadi produk cokelat di rumah produksi yang berada di Pontianak.

Usaha sosial tersebut bermula dari serangkaian percobaan Yohana Tamara di dapur rumahnya. Gagasan utamanya adalah memperkenalkan kakao asal Kalimantan Barat sekaligus mengembangkan proses pengolahan di daerah asal komoditas tersebut.

Dalam kegiatan produksinya, Kalara melibatkan sekitar sepuluh anak muda yang belajar mengolah biji kakao hingga menjadi cokelat batangan.

Kalara juga memberikan kesempatan kepada para pekebun untuk melihat langsung proses pengolahan hasil kebun mereka.

Bagi Yessy, produk cokelat yang dihasilkan bukan sekadar barang konsumsi, melainkan membawa cerita mengenai petani, lingkungan, dan ekosistem tempat kakao tumbuh.

“Kita menjual cokelat bukan hanya sekadar cokelat. Di situ ada cerita tentang petani, di situ ada cerita tentang hutan, di situ ada cerita tentang ekosistem,” ujarnya.

Cerita tersebut juga dibagikan dalam Bangkok Climate Action Week (BKKCAW) 2026 di Bangkok, Thailand, pada Oktober lalu.

Dalam rangkaian kegiatan tersebut, Koalisi Ekonomi Membumi menggagas Paviliun Ekonomi Berbasis Alam yang mempertemukan pelaku usaha dan komunitas dengan pendekatan ekonomi yang menjadikan alam sebagai fondasi penghidupan.

Direktur Eksekutif Koalisi Ekonomi Membumi, Fito Radianto, mengatakan negara-negara Global South mulai mempertanyakan dan merancang ulang sistem ekonomi agar kesejahteraan masyarakat dapat berjalan seiring dengan kelestarian alam.

Melalui pengembangan kebun kakao berbasis agroforestri, Kalara Borneo berupaya membangun hubungan antara pasar, petani, dan pelestarian lingkungan.

Tantangannya adalah memastikan kebun masyarakat tetap memberikan penghasilan yang layak sehingga tidak ditinggalkan atau dialihkan menjadi perkebunan monokultur.

Yessy berharap upaya tersebut dapat menjadi bagian dari ikhtiar lebih luas untuk mempertahankan hutan Kalimantan Barat.

“Mungkin belum terlambat untuk kita menyelamatkan hutan yang ada di Kalimantan Barat,” pungkasnya.

syifa/red

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *