PARAGRAFNEWS.CO, SAMARINDA – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih menjadi perhatian di Kalimantan Timur (Kaltim). Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kaltim menyebut asap dari kebakaran yang berlangsung selama beberapa pekan terakhir masih tertahan di lapisan atmosfer, sementara kondisi kemarau berkepanjangan membuat situasi berpotensi berubah cepat.
Kepala Pelaksana BPBD Kaltim Buyung Dodi Gunawan mengatakan asap tidak seluruhnya dapat naik ke lapisan atmosfer yang lebih tinggi sehingga sebagian masih tertahan. Kondisi tersebut diperparah dengan sejumlah wilayah yang telah mengalami lebih dari 30 hari tanpa hujan.
Karhutla Kaltim Capai 2.505 Hektare Selama September
Data terbaru BPBD Kaltim menunjukkan persoalan karhutla masih cukup besar. Sepanjang 1–21 September 2026, tercatat 608 kejadian karhutla dengan luas lahan terbakar sekitar 2.505 hektare.
Secara kumulatif sejak Januari hingga 21 September 2026, BPBD mencatat 1.470 kejadian kebakaran dengan total luas mencapai 6.333 hektare. Dari angka tersebut, sekitar 4.500 hektare terjadi di luar kawasan hutan dan sekitar 1.700 hektare berada di dalam kawasan hutan.
Kabupaten Paser tercatat memiliki jumlah kejadian terbanyak, yakni 371 kejadian. Sementara dari sisi luasan, Kabupaten Kutai Kartanegara menjadi wilayah dengan area terdampak terbesar, sekitar 2.026 hektare.
BPBD menyebut kondisi vegetasi yang mengering akibat kemarau menjadi salah satu faktor yang membuat api lebih mudah menyebar. Kelalaian manusia juga disebut masih menjadi faktor yang dominan dalam munculnya api.
Kualitas Udara Kaltim Berbeda Antarwilayah
Pada Rabu, 23 September 2026, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kaltim memperbarui data Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) pukul 07.00 Wita.
Data tersebut memperlihatkan kondisi udara yang sangat berbeda antarwilayah.
Samarinda mencatat ISPU 29 dengan kategori Baik. Sementara Balikpapan berada pada angka 81 dan Bontang 72, keduanya masuk kategori Sedang.
Kondisi lebih buruk terpantau di sejumlah wilayah lain. Sendawar, Kutai Barat, mencatat ISPU 294 atau kategori Sangat Tidak Sehat.
Bahkan, pemantauan manual di salah satu titik Kabupaten Kutai Kartanegara menunjukkan angka 324 yang masuk kategori Berbahaya.
Di kawasan penyangga Ibu Kota Nusantara (IKN), titik Wonotirto dan Samboja masing-masing tercatat 169 atau kategori Tidak Sehat, sedangkan Muara Jawa berada pada angka 113.
Perbedaan angka tersebut menunjukkan bahwa dampak asap dan pencemaran udara di Kaltim tidak seragam. Kondisinya dapat berubah mengikuti perkembangan titik api, arah angin, kondisi atmosfer, serta curah hujan.
Kelompok Rentan Diminta Tetap Waspada
Kondisi udara juga menjadi perhatian sektor kesehatan.
Dinas Kesehatan Kutai Timur (Kutim) menyebut kualitas udara di wilayah tersebut membaik dan berada pada kategori sedang. Berdasarkan pengukuran pada Selasa, 22 September 2026, indeks kualitas udara tercatat 76.
Kepala Dinas Kesehatan Kutim dr Yuwana Sri Kurniawati mengatakan angka tersebut secara umum masih aman bagi mayoritas masyarakat, tetapi kelompok yang lebih sensitif tetap berpotensi mengalami gangguan kesehatan.
Kelompok yang perlu mendapat perhatian antara lain anak-anak, lansia, ibu hamil, serta masyarakat dengan gangguan saluran pernapasan dan kardiovaskular.
Masyarakat juga disarankan mengurangi aktivitas luar ruangan ketika kualitas udara memburuk dan menggunakan masker ketika harus beraktivitas di luar.
Warga Perlu Memantau Kualitas Udara
DLH Kaltim mengimbau masyarakat yang berada di wilayah dengan kategori Tidak Sehat hingga Sangat Tidak Sehat untuk mengurangi aktivitas fisik berat di luar ruangan.
Masker juga dianjurkan ketika masyarakat harus berada di ruang terbuka. Sirkulasi udara di dalam rumah perlu diperhatikan untuk mengurangi masuknya partikulat dari luar ketika kualitas udara sedang buruk.
Sementara itu, BPBD Kaltim bersama pemerintah daerah terus melakukan pemantauan dan penanganan titik kebakaran. Operasi water bombing dan operasi modifikasi cuaca (OMC) juga telah diintensifkan untuk membantu penanganan karhutla.
Pantauan Paragrafnews.co, Rabu 23 September 2026, kondisi kualitas udara Kaltim masih menunjukkan perbedaan yang cukup tajam antarwilayah. Karena itu, masyarakat disarankan tidak hanya melihat kondisi udara di satu kota, tetapi memantau informasi kualitas udara di wilayah tempat tinggal atau tujuan aktivitas masing-masing. (kaje/red)





