JAKARTA — Adidas tengah menjadi sorotan dan menghadapi seruan boikot setelah menampilkan mantan tentara Israel, Shalev Biton, dalam kampanye promosi layanan Single Shoe Service.
Kontroversi tersebut mencuat di media sosial dan mendapat perhatian luas setelah sejumlah aktivis pro-Palestina menilai pemilihan Biton sebagai wajah kampanye tidak tepat, terutama karena kampanye tersebut berkaitan dengan produk bagi penyandang disabilitas dan amputasi.
Biton merupakan mantan anggota militer Israel yang kehilangan kaki kirinya setelah terluka ketika bertugas pada 2021. Ia menjadi salah satu dari 11 atlet penyandang disabilitas yang tampil dalam materi promosi Adidas di Israel.
Dikaitkan dengan Situasi Gaza
Pemilihan Biton menjadi polemik karena kampanye tersebut muncul ketika kondisi kemanusiaan di Gaza masih menjadi sorotan dunia.
Kritikus menilai penggunaan mantan tentara Israel dalam kampanye yang mengangkat isu amputasi dinilai sensitif, mengingat banyak warga Palestina di Gaza juga mengalami kehilangan anggota tubuh akibat konflik.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut lebih dari 5.000 amputasi traumatis dan lebih dari 22.000 cedera ekstremitas berat telah tercatat di Gaza sejak Oktober 2023.
Kondisi tersebut kemudian menjadi salah satu alasan munculnya seruan boikot terhadap Adidas di berbagai platform media sosial.
Javier Bardem Ikut Serukan Boikot
Kontroversi semakin meluas setelah aktor Spanyol Javier Bardem menyerukan boikot terhadap Adidas melalui unggahan media sosialnya.
Sejumlah pengguna media sosial bahkan membagikan video yang memperlihatkan mereka membuang atau menyingkirkan produk Adidas sebagai bentuk protes.
Namun, pemberitaan mengenai kampanye tersebut juga memunculkan sejumlah klaim yang tidak akurat. Salah satunya adalah tuduhan bahwa Biton merupakan bagian dari operasi militer Israel di Gaza setelah konflik 2023. Sejumlah laporan menyebut ia kehilangan kakinya akibat terluka dalam konflik pada 2021.
Adidas Akhirnya Minta Maaf
Adidas kemudian memberikan tanggapan atas polemik tersebut.
Perusahaan menyatakan bahwa materi promosi tersebut merupakan aktivasi lokal dan bukan kampanye global. Adidas juga menyampaikan permintaan maaf atas kekhawatiran dan reaksi keras yang muncul.
Adidas menegaskan bahwa Single Shoe Service dibuat untuk meningkatkan aksesibilitas bagi konsumen yang hanya membutuhkan satu sepatu, termasuk orang dengan perbedaan anggota tubuh. Layanan tersebut memungkinkan konsumen membeli satu sepatu dengan harga sekitar 50 persen dari harga sepasang.
Perusahaan sebelumnya memperkenalkan layanan tersebut di Eropa pada awal 2026 dan kemudian memperluasnya ke sejumlah wilayah lainnya.
Bukan Kali Pertama Adidas Terseret Kontroversi Israel-Palestina
Polemik terbaru ini juga mengingatkan publik pada kontroversi Adidas sebelumnya yang melibatkan model keturunan Palestina-Amerika, Bella Hadid.
Pada 2024, Adidas mendapat kritik setelah memasukkan Hadid dalam kampanye sepatu yang dikaitkan dengan Olimpiade Munich 1972. Kampanye tersebut kemudian ditarik dan Adidas menyampaikan permintaan maaf.
Kini, dua tahun berselang, Adidas kembali menghadapi tekanan publik terkait konflik Israel-Palestina.
Kontroversi terbaru memperlihatkan bagaimana pemilihan figur dalam sebuah kampanye komersial dapat menjadi isu global ketika bersinggungan dengan konflik politik dan kemanusiaan yang sangat sensitif.
Adidas sendiri menyatakan akan mendengarkan masukan publik dan memastikan langkah-langkah perusahaan tetap sejalan dengan nilai inklusivitas yang mereka usung.
baca juga: Perang Antar-Geng Pecah! Bos Mafia Israel Utara Tewas Ditembak dari Jarak Dekat di Siang Bolong
kaje/red











