PARAGRAFNEWS.CO — Ketika mendengar istilah irezumi, banyak orang mungkin langsung membayangkan tubuh penuh tato bergambar naga, koi, harimau, bunga, atau ombak dengan warna yang kuat.
Di Jepang, tato memang memiliki sejarah yang panjang. Namun, menganggap irezumi sekadar sebagai “tato Yakuza” merupakan penyederhanaan.
Jauh sebelum tato dikaitkan dengan kelompok kriminal Jepang, praktik menghias atau menandai tubuh telah memiliki sejarah panjang di kepulauan Jepang. Dalam perkembangannya, tato pernah digunakan sebagai bentuk hukuman, berkembang menjadi seni visual pada masa Edo, kemudian mengalami perubahan status sosial hingga akhirnya memiliki hubungan kuat dengan citra Yakuza.
Jejak sejarah tersebut membuat irezumi bukan sekadar gambar pada kulit.
Ia merupakan bagian dari perjalanan panjang tentang tubuh, identitas, seni, hukuman, stigma dan perubahan sosial Jepang.
Apa Itu Irezumi?
Secara umum, irezumi merujuk pada praktik memasukkan tinta ke dalam kulit untuk menghasilkan gambar atau pola permanen.
Dalam konteks budaya Jepang, istilah ini sering dikaitkan dengan tradisi tato Jepang yang memiliki karakter visual khas, termasuk komposisi gambar besar yang mengikuti bentuk tubuh.
Motif yang sering muncul antara lain:
- naga;
- ikan koi;
- harimau;
- bunga peony;
- bunga sakura;
- daun maple;
- ombak;
- burung;
- makhluk mitologis.
Namun, istilah dan teknik tato Jepang memiliki sejarah serta penggunaan yang beragam. Karena itu, irezumi tidak seharusnya otomatis diterjemahkan sebagai “tato kriminal”.
Japan National Tourism Organization (JNTO) mencatat bahwa sejarah tato di Jepang telah berlangsung jauh sebelum tato diasosiasikan dengan kelompok kriminal. JNTO juga menyebut sejumlah motif seperti koi, naga, harimau, ombak, krisan dan daun maple sebagai bagian dari tradisi visual tato Jepang yang kemudian berkembang hingga dikenal di seluruh dunia.
Sejarah Tato Jepang Jauh Lebih Tua dari Yakuza
Salah satu kesalahpahaman paling umum adalah anggapan bahwa tato muncul di Jepang karena Yakuza.
Faktanya, sejarah tato di Jepang jauh lebih tua.
JNTO mencatat adanya temuan figur atau representasi manusia bertato yang berasal dari masa sekitar 5000 SM, sementara catatan tertulis mengenai tato di Jepang muncul jauh sebelum periode modern.
Artinya, hubungan tato dengan Yakuza merupakan salah satu fase dalam sejarah tato Jepang, bukan asal-usulnya.
Pandangan tersebut penting karena membantu memisahkan antara sejarah seni tubuh Jepang dengan stigma kriminal yang berkembang kemudian.
Tato Pernah Menjadi Bentuk Hukuman
Dalam perjalanan sejarah Jepang, tato juga pernah digunakan sebagai bentuk hukuman.
Orang yang melakukan pelanggaran tertentu dapat diberi tanda pada tubuh sebagai bentuk hukuman sekaligus penanda sosial.
JNTO menjelaskan bahwa praktik pemberian tato sebagai hukuman oleh pemerintah turut berkontribusi terhadap munculnya stigma terhadap tato di kemudian hari.
Tanda pada tubuh tersebut memiliki fungsi yang sangat berbeda dengan tato artistik.
Jika tato modern dapat dipilih seseorang untuk mengekspresikan identitas, tato hukuman justru diberikan kepada seseorang sebagai konsekuensi atas pelanggaran.
Perbedaan konteks tersebut menjadi salah satu kunci untuk memahami mengapa persepsi terhadap tato di Jepang berkembang secara kompleks.
Era Edo dan Lahirnya Seni Tato Jepang yang Ikonik
Perkembangan besar dalam seni tato Jepang berlangsung pada periode Edo (1603–1868).
Pada masa tersebut, perkembangan seni cetak ukiyo-e turut memengaruhi dunia visual Jepang. Ilustrasi dengan figur manusia, pahlawan, makhluk mitologi dan cerita rakyat ikut membentuk bahasa visual yang kemudian berpengaruh terhadap estetika tato.
Dari sinilah muncul karakter tato Jepang yang dikenal luas saat ini: gambar besar, komposisi mengikuti anatomi tubuh, serta penggunaan motif yang mempunyai akar dalam cerita dan simbol budaya Jepang.
Naga, koi, harimau dan berbagai motif alam kemudian menjadi bagian dari identitas visual tato Jepang.
Perkembangan tersebut juga menunjukkan bahwa sejarah tato tidak dapat dipisahkan dari perkembangan seni visual Jepang secara lebih luas.
Apa Bedanya Irezumi dan Tebori?
Dalam pembahasan mengenai tato Jepang, istilah tebori juga sering muncul.
Tebori secara harfiah berkaitan dengan teknik “mengukir” atau memasukkan tinta secara manual menggunakan alat tangan.
Berbeda dengan mesin tato modern, metode tradisional ini menggunakan alat yang digerakkan oleh tangan seniman.
JNTO mencatat bahwa teknik tebori, yang telah berusia berabad-abad, masih mengalami kebangkitan dan digunakan oleh seniman tato tradisional Jepang maupun seniman di berbagai negara.
Dengan demikian, tebori lebih tepat dipahami sebagai teknik, sedangkan irezumi lebih luas berkaitan dengan praktik dan tradisi tato Jepang.
Keduanya memang sering dibicarakan bersamaan, tetapi bukan istilah yang sepenuhnya sama.
Mengapa Tato Jepang Identik dengan Gambar Besar?
Salah satu ciri khas tato tradisional Jepang adalah ukurannya yang dapat mencakup area tubuh yang luas.
Berbeda dengan tato kecil yang hanya ditempatkan pada bagian tertentu tubuh, tato tradisional Jepang sering dirancang sebagai satu komposisi besar.
Gambar dapat mengikuti bentuk:
- punggung;
- dada;
- lengan;
- paha;
- kaki;
- hingga bagian tubuh lainnya.
Komposisi tersebut memungkinkan seniman menggabungkan beberapa elemen dalam satu cerita visual.
Misalnya, naga dapat ditempatkan bersama awan dan ombak, sementara ikan koi dapat dipadukan dengan bunga atau aliran air.
Karena itu, tato Jepang tradisional sering terlihat seperti lukisan yang mengikuti anatomi tubuh manusia.
Makna Naga, Koi, Harimau dan Motif Lain
Motif dalam tato Jepang tidak memiliki satu arti tunggal yang berlaku untuk semua orang.
Namun, sejumlah simbol mempunyai asosiasi budaya yang kuat.
Naga
Naga merupakan salah satu figur penting dalam seni Asia Timur dan sering muncul dalam seni tato Jepang.
Dalam berbagai konteks, naga dapat dikaitkan dengan kekuatan, perlindungan, kebijaksanaan atau kekuasaan.
Koi
Ikan koi menjadi salah satu motif paling populer.
Dalam budaya Jepang, koi mempunyai hubungan dengan ketekunan dan kemampuan menghadapi arus.
Namun, makna sebuah tato tetap bergantung pada pemilik dan konteks penggunaannya.
Harimau
Harimau sering dikaitkan dengan kekuatan, keberanian dan perlindungan.
Motif tersebut juga menjadi bagian dari komposisi visual tato Jepang yang besar.
Bunga
Bunga seperti peony, sakura dan krisan dapat digunakan untuk memberikan unsur keindahan sekaligus simbolisme tertentu.
Tetapi lagi-lagi, tidak semua pemilik tato menggunakan sebuah motif dengan arti yang sama.
baca juga: 8 Fakta Menarik Tentang Yakuza yang Belum Anda Ketahui
Karena itu, makna tato sebaiknya tidak ditentukan hanya berdasarkan gambar yang terlihat.
Hubungan Irezumi dengan Yakuza
Lalu, mengapa irezumi begitu kuat dikaitkan dengan Yakuza?
Jawabannya berkaitan dengan sejarah sosial tato di Jepang.
Setelah melalui berbagai perubahan fungsi, tato kemudian menjadi bagian dari identitas sebagian kelompok yang berada di luar norma sosial arus utama.
Pada periode modern, tato tubuh dalam ukuran besar kemudian semakin kuat diasosiasikan dengan anggota kelompok kriminal terorganisasi Jepang.
JNTO menjelaskan bahwa asosiasi historis antara tato dan kriminalitas menjadi salah satu alasan munculnya pembatasan terhadap orang bertato di fasilitas pemandian umum.
Namun, hubungan tersebut tidak berarti:
semua orang bertato adalah Yakuza.
Dan sebaliknya:
tidak semua tato Jepang merupakan simbol keanggotaan Yakuza.
Ini merupakan perbedaan penting yang sering hilang dalam pemberitaan populer.
Mengapa Tato Menjadi Simbol Yakuza?
Kelompok Yakuza dikenal memiliki anggota yang menggunakan tato tubuh dalam ukuran besar.
Tato tersebut kemudian menjadi salah satu elemen visual yang paling mudah dikenali ketika dunia Yakuza digambarkan dalam film, fotografi, televisi maupun media internasional.
Akibatnya, terjadi semacam lingkaran antara:
tato → Yakuza → kriminalitas → stigma terhadap tato.
Asosiasi tersebut kemudian memengaruhi bagaimana masyarakat melihat tato secara keseluruhan.
JNTO menjelaskan bahwa larangan tato di sejumlah onsen dan sento berhubungan dengan sejarah asosiasi tato dengan kriminalitas terorganisasi di Jepang.
Tetapi persepsi sosial tersebut tidak sepenuhnya menggambarkan sejarah tato Jepang yang jauh lebih panjang.
Tato Jepang dalam Karya Chloé Jafé
Hubungan antara irezumi dan kehidupan perempuan di lingkungan Yakuza juga menjadi salah satu bagian penting dari karya fotografer Prancis Chloé Jafé.
Dalam proyek I Give You My Life, Jafé mendokumentasikan perempuan yang berada di lingkungan Yakuza dan menggunakan tato sebagai salah satu pintu masuk untuk memahami pengalaman pribadi mereka.
Yang menarik, tato dalam proyek tersebut tidak hanya ditampilkan sebagai simbol dunia kriminal.
Para perempuan yang menjadi subjek justru mempunyai cerita pribadi mengenai tubuh dan tato mereka.
Jafé bahkan meminta beberapa perempuan menulis surat mengenai tato yang mereka miliki. Dengan demikian, foto dan cerita personal menjadi bagian dari dokumentasi yang lebih luas.
Hal tersebut menunjukkan bahwa makna tato tidak dapat direduksi menjadi identitas kriminal.
Tubuh seseorang dapat membawa cerita tentang keluarga, hubungan, pengalaman, pilihan hidup dan identitas.
Mengapa Tato Masih Menjadi Sensitif di Jepang?
Salah satu dampak paling nyata dari sejarah tersebut dapat dilihat di tempat pemandian.
Sejumlah onsen, sento, kolam renang dan fasilitas olahraga di Jepang masih menerapkan pembatasan terhadap orang yang memiliki tato.
JNTO menyebut aturan tersebut berbeda-beda menurut fasilitas. Ada tempat yang tetap melarang tato, sementara sebagian lainnya mulai lebih terbuka atau mengizinkan tato dengan syarat tertentu.
Dengan demikian, tidak tepat mengatakan bahwa:
“Jepang melarang orang bertato masuk onsen.”
Yang lebih akurat adalah:
sebagian fasilitas masih memiliki aturan pembatasan tato, tetapi kebijakannya berbeda-beda dan semakin banyak tempat yang mulai menerima pengunjung bertato.
JNTO juga menyarankan pengunjung memeriksa aturan fasilitas terlebih dahulu sebelum datang.
Apakah Semua Onsen Melarang Tato?
Tidak.
Aturan mengenai tato sangat bergantung pada fasilitas.
Ada onsen yang tetap menerapkan larangan. Ada pula yang memperbolehkan tato kecil jika ditutup, menyediakan penutup tato, atau menawarkan pemandian privat.
JNTO menjelaskan bahwa kashikiriburo, atau pemandian privat yang dapat disewa, menjadi salah satu pilihan bagi pengunjung bertato yang ingin menikmati pengalaman onsen tanpa harus menggunakan pemandian umum.
Karena aturan dapat berubah dan berbeda antar tempat, wisatawan sebaiknya tidak mengandalkan asumsi umum.
Periksa aturan fasilitas yang hendak dikunjungi sebelum berangkat.
Apakah Tato Sekarang Mulai Diterima di Jepang?
Persepsi sosial terhadap tato memang mengalami perubahan.
JNTO mencatat bahwa semakin banyak fasilitas yang mulai menerima orang bertato, meskipun perubahan tersebut berlangsung secara bertahap.
Perubahan tersebut juga dipengaruhi oleh meningkatnya wisatawan internasional yang memiliki tato dan ingin menikmati budaya onsen.
Di sisi lain, sejarah panjang stigma terhadap tato tidak serta-merta hilang.
Karena itu, kondisi Jepang saat ini lebih tepat digambarkan sebagai masa perubahan, bukan sebagai masyarakat yang sepenuhnya menerima atau sepenuhnya menolak tato.
Irezumi Bukan Sekadar Tato
Dari perjalanan sejarahnya, irezumi memiliki banyak lapisan makna.
Ia pernah menjadi tanda hukuman.
Kemudian berkembang dalam budaya visual.
Ia menjadi seni tubuh.
Ia juga mengalami stigma karena asosiasinya dengan kelompok kriminal.
Kini, tato Jepang telah menjadi bagian dari industri seni tubuh global dan dipelajari serta dipraktikkan oleh seniman di berbagai negara.
Namun, warisan sosialnya di Jepang tetap terasa.
Inilah yang membuat irezumi menarik untuk dipelajari.
Satu gambar pada tubuh dapat memiliki arti yang sangat berbeda tergantung siapa yang melihatnya, siapa yang memilikinya, kapan tato itu dibuat, dan dalam konteks sosial apa tato tersebut digunakan.
Irezumi dan Perubahan Makna di Era Modern
Di era modern, tato Jepang tidak hanya hidup di lingkungan yang berkaitan dengan Yakuza.
Seniman tato di berbagai negara menggunakan gaya Jepang untuk membuat karya seni tubuh.
Motif naga, koi, bunga dan ombak telah menjadi bagian dari budaya tato global.
JNTO sendiri mencatat bahwa seniman yang menggunakan gaya tradisional Jepang, termasuk teknik tebori, kini dapat ditemukan di berbagai negara.
Artinya, terjadi proses globalisasi terhadap estetika tato Jepang.
Motif yang dahulu mempunyai konteks sosial tertentu kini dapat digunakan oleh orang dari berbagai latar belakang dan untuk alasan yang sangat berbeda.
Kesimpulan
Irezumi adalah bagian dari sejarah panjang tato Jepang, bukan sekadar “tato Yakuza”.
Praktik tato di Jepang telah ada jauh sebelum munculnya organisasi kriminal modern. Dalam perjalanan sejarahnya, tato pernah digunakan sebagai hukuman, berkembang menjadi seni visual, kemudian mengalami stigma karena hubungan dengan kriminalitas dan Yakuza.
Warisan tersebut masih terasa hingga sekarang.
Sebagian fasilitas onsen, sento, kolam renang dan pusat kebugaran masih membatasi pengunjung bertato. Namun, aturan tersebut tidak seragam dan sejumlah fasilitas mulai lebih terbuka terhadap tato.
Sementara itu, di dunia internasional, seni tato Jepang justru terus berkembang.
Karena itu, memahami irezumi membutuhkan lebih dari sekadar melihat gambar naga atau tubuh penuh tato.
Di balik tinta tersebut terdapat sejarah mengenai seni, hukuman, identitas, stigma, kriminalitas dan perubahan budaya Jepang.
Dan melalui karya fotografer seperti Chloé Jafé, pembaca juga dapat melihat bahwa tato pada tubuh perempuan di lingkungan Yakuza tidak selalu hanya berbicara tentang kriminalitas.
Kadang, ia adalah cerita tentang siapa seseorang dan bagaimana ia memilih menceritakan hidupnya melalui tubuhnya sendiri.
Catatan Redaksi Paragrafnews.co
Artikel ini disusun sebagai artikel evergreen yang membahas sejarah dan konteks sosial irezumi. Penyebutan hubungan antara tato dan Yakuza tidak dimaksudkan untuk menyamakan seluruh pemilik tato dengan kelompok kriminal.
Informasi mengenai kebijakan tato di onsen dan fasilitas publik dapat berbeda menurut tempat dan dapat berubah dari waktu ke waktu. Pembaca yang hendak berkunjung ke Jepang disarankan memeriksa aturan fasilitas secara langsung sebelum datang.
Rujukan utama: Japan National Tourism Organization (JNTO), khususnya panduan mengenai sejarah tato, etika onsen, serta aturan tato di fasilitas publik Jepang.