JAKARTA — Kabar duka mengguncang lingkungan TNI Angkatan Udara. Prajurit TNI AU Serda Ahmad Muzammil Farisa meninggal dunia setelah diduga mengalami penganiayaan yang melibatkan empat seniornya di lingkungan Komplek Skadron Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur.
Kasus tersebut kini memasuki proses pemeriksaan oleh Pusat Polisi Militer Angkatan Udara (POM AU). Empat anggota TNI AU yang disebut diduga terlibat tengah menjalani pemeriksaan dalam berita acara pemeriksaan (BAPK) untuk mengungkap rangkaian peristiwa yang berujung pada meninggalnya Serda Ahmad.
baca juga: UPDATE JAYAWIJAYA: 3 Petugas Tewas Ditembak, Muncul Dugaan Korban Dipisahkan Berdasarkan Identitas
Kematian prajurit tersebut menjadi sorotan karena dugaan kekerasan terjadi di lingkungan internal TNI AU. Pihak keluarga korban pun meminta agar kasus tersebut diusut secara menyeluruh dan transparan.
POM AU Periksa Empat Senior Korban
CNN melaporkan, Kepala Dinas Penerangan TNI AU Marsekal Pertama I Nyoman Suadnyana sebelumnya membenarkan adanya peristiwa tersebut.
Menurut Nyoman, perkara itu saat ini sedang ditangani oleh POM AU. Pemeriksaan dilakukan untuk mengungkap secara terang kronologi kejadian serta pihak-pihak yang diduga terlibat.
“Benar dan saat ini dalam proses pemeriksaan dari POM AU terkait hal tersebut,” kata Nyoman ke wartawan, Kamis (10/9/2026).
Sementara itu seperti dikutip detikjatim ayah korban, Toni Eko Prasetyo, mengungkap informasi yang diterimanya terkait adanya empat senior yang diduga terlibat dalam penganiayaan terhadap putranya.
“Saya dapat laporan pelaku empat orang senior anak saya,” ujar Toni pada Jumat dini hari (11/9/2026).
Toni menyebut empat anggota TNI AU yang menurut informasi diterimanya sedang diperiksa masing-masing berinisial Serda MTSA, Serda JM, Serda MAD, dan Serda AH.
Namun, keterlibatan masing-masing orang tersebut masih harus dibuktikan melalui proses pemeriksaan dan penyelidikan resmi POM AU.
Berawal dari Persoalan Makanan?
Menurut keterangan Toni, dugaan penganiayaan tersebut disebut terjadi di asrama di Kompleks Skadron Lanud Halim Perdanakusuma pada Rabu (9/9) hingga Kamis (10/9/2026).
Ia mengatakan, informasi yang diterimanya menyebut persoalan tersebut bermula dari makanan yang diminta oleh salah seorang senior korban.
Serda Ahmad disebut diminta membeli mi kuah. Namun, korban justru membawa mi goreng. Perbedaan pesanan tersebut diduga menjadi pemicu kemarahan.
“Dari informasi yang saya dapat anak saya disuruh membeli makanan yang tidak sesuai permintaan senior. Mintanya mi kuah namun diberikan mi goreng,” tutur Toni.
Meski demikian, informasi mengenai pemicu tersebut masih merupakan keterangan dari pihak keluarga berdasarkan laporan yang mereka terima. Motif dan kronologi lengkap kejadian tetap menunggu hasil pemeriksaan POM AU.
Pertanyaan Besar di Balik Kematian Serda Ahmad
Meninggalnya Serda Ahmad Muzammil menyisakan sejumlah pertanyaan besar.
Apa yang sebenarnya terjadi di dalam asrama? Bagaimana rangkaian kejadian hingga seorang prajurit TNI AU meninggal dunia? Apakah dugaan penganiayaan benar terjadi dan bagaimana peran masing-masing pihak?
Seluruh pertanyaan tersebut kini menjadi bagian dari proses penyelidikan POM AU.
Publik juga menunggu penjelasan mengenai penyebab kematian Serda Ahmad serta hasil pemeriksaan terhadap empat anggota TNI AU yang disebut oleh keluarga sebagai senior korban.
Ayah Korban Minta Keadilan
Toni Eko Prasetyo mengaku terpukul atas kepergian putranya. Ia berharap proses hukum terhadap kasus tersebut berjalan secara terbuka dan adil.
Toni juga meminta perhatian Presiden Prabowo Subianto serta Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) agar kasus kematian anaknya dapat diusut sampai tuntas.
Ia berharap tidak ada fakta yang ditutup-tutupi dan pihak yang terbukti bersalah dapat mempertanggungjawabkan perbuatannya sesuai hukum yang berlaku.
TNI AU Diharapkan Ungkap Kasus Secara Transparan
Kasus Serda Ahmad Muzammil menjadi perhatian karena menyangkut keselamatan prajurit di lingkungan internal institusi militer.
Pemeriksaan POM AU menjadi penting untuk memastikan seluruh rangkaian kejadian dapat terungkap berdasarkan bukti, keterangan saksi, hasil pemeriksaan serta fakta hukum yang diperoleh selama penyelidikan.
Untuk saat ini, dugaan penganiayaan dan keterlibatan empat senior masih dalam proses pemeriksaan. Karena itu, penentuan pihak yang bertanggung jawab tetap harus menunggu hasil penyelidikan dan proses hukum yang berlaku.
Keluarga korban berharap proses tersebut memberikan kejelasan sekaligus keadilan atas meninggalnya Serda Ahmad Muzammil Farisa.
Sumber: CNN Indonesia dan berbagai sumber











